Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 73


__ADS_3

...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...


...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...


.......


.......


.......


.......


...HAPPY READING ❤️...


"Vano."


Nayra terkejut. Bagaimana tidak terkejut saat melihat Evano tiba-tiba berada di hadapannya. Pria itu nampak gagah dengan balutan jas hitam di tubuhnya, meski tubuh itu tidak lagi terlihat sempurna tapi ketampanan Evano masih terpancar di wajahnya.


Nayra menoleh menatap Bundanya. "Bun, dia..."


Farah tersenyum lembut. "Ayo, Nak. Suamimu sedang menunggu disana." Farah menunjuk pria tampan, tepat di belakang Evano.


Bara.


Pria itu disana. Menatap tajam dirinya.


"Ayo, Nak." Farah menarik Nayra mendekat kearah Bara. Keduanya melewati Evano begitu saja.


Evano hanya diam. Menatap datar Nayra. Sudah Evano duga, Nayra pasti akan meresponnya seperti ini. Memangnya siapa dia? Hanya sekedar mantan masa lalunya saja.


"Kamu tidak papa?"


Evano menggeleng mendengar pertanyaan Jeanna.


"Maafkan aku. Aku tidak tau kalau pesta pernikahan Bara ternyata bersama-"


"Aku sudah tidak peduli lagi." sela Evano cepat. Evano memang tidak mengetahui jika keluarga Jeanna adalah rekan bisnis dari Matteo. Kedua orang tua Jeanna dan Bara adalah kenalan lama, hingga mau tak mau akhirnya Jeanna mewakili orang tuanya untuk menghadiri pesta pernikahan ini.


Awalnya Jeanna tak berniat mengajak Evano, tapi melihat Evano yang ke bosanan jadilah dia mengajaknya. Tak disangka ternyata mempelai wanitanya adalah mantan Evano sendiri.


Ah. Jeanna jadi menyesal membawa Evano kesini. Harusnya dia membiarkan saja Evano diam kebosanan di apartemen nya.


Sedangkan Nayra. Ia hanya diam saat Bara menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Kejadian ini terlalu tiba-tiba. Bagaimana bisa ia menikah dengan Bara dan bukan dengan Aeric? Lalu Evano, bagaimana bisa pria itu berada disini?


Nayra tidak ingin Evano menyaksikan pernikahannya dengan Bara. Nayra tidak ingin Evano sakit. Sudah cukup luka yang Nayra torehkan untuk pria itu.


"Kau tidak ingin aku berbuat nekat kan? Jadi berhenti menatapnya. Aku tidak suka melihatmu menatapnya seperti itu disaat ada suamimu disini, Ayra." bisik Bara tepat di samping telinga Nayra.


Nayra mengerjap lambat. Bulu kuduknya langsung meremang saat mendengar ancaman Bara. Mata yang sejak tadi menatap kearah Evano kini beralih menatap Bara.


"Cepat pasangkan cincin itu." perintah Bara menunjuk kearah kotak cincin. Bara sudah cukup sabar menunggu Nayra yang tak kunjung memasangkan cincin pernikahannya.


Dengan tangan bergetar Nayra mengambil cincin itu, dan memasangkannya di jari manis Bara.


Bara tersenyum pongah. Tatapannya mengarah kearah Evano. Mengejek pria itu yang tak bisa berbuat apapun.

__ADS_1


Selesai memasangkan cincin, Bara menarik Nayra mendekat. Membumbuhkan sebuah kecupan lama di kening Nayra yang kini tengah menutup matanya.


"Kau sekarang adalah milikku. Jangan harap kau bisa lepas dariku, sayang."


Nayra membuka matanya saat dirasa Bara mulai menjauhkan tubuhnya.


"Kenapa kamu terus seperti, Bara? Kamu sudah menikah dan memiliki anak, bagaimana bisa pernikahan ini terjadi."


Bara menyeringai. "Tentu saja pernikahan ini bisa terjadi sayang. Kau tau, semua itu karena uang. Jika ada uang, maka semuanya dengan mudah aku dapatkan."


Tanpa sadar tangan Nayra mengepal. "Tidak semuanya dapat di selesaikan dengan uang, Bara. Seperti halnya cinta, kau tidak akan bisa membelinya cintaku dengan uang."


"Tidak masalah, selagi kita menikah, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." timpal Bara tak mau kalah.


Bara dan Nayra terus saja saling berbisik. Mereka tidak ada yang ingin mengalah. Tanpa di sadari keduanya, Evano sudah menatap mereka dengan tatapan yang berbeda.


"Eum, sebaiknya aku mengantarmu pulang." Jeanna berucap. Dia mendorong kursi roda Evano menjauh dari pesta. Jeanna tidak ingin membuat Evano semakin sakit hati melihat kedekatan kedua pengantin di depan sana yang nampak terlihat bahagia.


"Aku ingin melihatnya sampai selesai, Je."


Jeanna mengalah. Dia tak lagi mendorong kursi roda Evano, melainkan membiarkan Evano melihat serangakai proses pernikahan Bara dan Nayra.


.


.


.


.


.


"Aku tidak bisa berjanji untuk tetap di sisinya, Bun. Tapi aku akan berusaha menjaganya, melindunginya, serta membuatnya bahagia. Jika suatu saat menangis, aku akan membuatnya menjadi tangisan bahagia."


"Bunda pegang kata-kata kamu, Nak."


Bara mengangguk tegas. Seorang pria sejati memang harus memegang kata-katanya. Jangan hanya berucap janji, yang suatu saat akan membuat wanita mu kecewa karena telah melanggar janjinya.


Yah, kali ini Bara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan yang akan membuat hidupnya lebih berwarna. Karena Nayra, gadis itu kini sudah resmi menjadi istrinya. Beruntung Bunda Farah malam itu mau mendengarkan penjelasan.


Flashback


Penerbangan dari Indonesia ke Singapure tidak membutuhkan waktu lama. Setelah mendarat dengan selamat, Bara bergegas ke alamat yang baru saja dikirmkan oleh Daddy nya.


Sesampainya di alamat yang dituju. Bara mengetuk pintu. Seorang wanita keluar. Wanita itu nampak terkejut saat melihat keberadaanya.


"Ngapain kamu kesini?"


"Bun, saya mau ketemu Nayra."


"Sebaiknya kamu pulang. Nayra sedang keluar bersama calon suaminya." Farah menekan di setiap kata. Hanya ingin menekankan pada Bara, bahwa putrinya sudah menemukan lelaki yang jauh lebih baik.


"Keluar? Keluar kemana, Bun?"


"Tentu saja pergi berkecan." Sarah menyebulkan kepalanya keluar. Dia hanya tidak ingin Bara merusak kencan adiknya bersama Aeric.

__ADS_1


"Ingat Nak Bara, kamu itu sudah memiliki istri, sudah punya anak juga. Bunda mohon bangat sama kamu, jangan ganggu lagi Nayra ya, Nak. Biarkan Nayra bahagia dengan pilihannya sendiri."


Bara menggeleng tegas. "Bun, beri saya satu kesempatan lagi. Saya akan menjelaskan semuanya."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Tuan Bara yang terhormat. Sebaiknya kamu pulang. Keberadaan kamu tidak di butuhkan disini." sarkas Sarah kesal. Jangan sampai Bundanya memberikan kesempatan kepada pria brengsek seperti Bara.


"Saya mohon, Bun. Saya memang sudah menikah, tapi anak itu bukanlah anakku."


"Apa maksud kamu, Nak Bara?"


Bara mulai menceritakan semua. Tidak ada yang terlewat. Dari mulai saat Bara mengenal Devina, sampai dimana ia dipaksa untuk bertanggung jawab atas kesalahan orang lain. Bara menceritakan segalanya.


Farah menatap Bara iba. Sedangkan Sarah merasa tak menyangka jika Bara memiliki kehidupan yang rumit layaknya sinetron.


"Sekarang Bara mohon, Bun. Kasih tau Bara dimana Nayra berada? Aeric tidak sebaik yang kalian pikirkan, saya mengenal Aeric semasa kuliah. Dia adalah lelaki brengsek yang memainkan banyak wanita."


"Kamu jangan asal nuduh ya! Aeric adalah orang baik. Dia juga membantu perekonomian keluarga kami." sungut Sarah kesal.


"Dia memang baik kepada orang yang baru di kenal, tapi setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Aeric pasti akan membuangnya layaknya sampah yang sudah tak layak pakai."


Farah nampak menimang sesuatu. Ada sedikit keraguan yang tersimpan di dalam hatinya. Sejak tadi, Farah merasa gelisah. Pikirannya terus saja berpusat kepada Nayra. Seolah akan terjadi sesuatu yang buruk kepada putrinya itu.


"Aeric bilang dia akan membawa Nayra ke Dragor Dark's. Bunda tidak tau tempat apa itu, tapi Aeric mengatakan jika itu semacam tempat perkumpulan anak muda."


"A-apa? Dragor Dark's?"


Farah mengangguk. Sedangkan Sarah nampak terdiam membisu.


"Itu adalah diskotik, Bun. Sebuah klub dengan tempat yang sangat privat sekali. Hanya orang-orang dengan jabatan tinggi saja yang memiliki akses untuk masuk kesana."


Detik itu juga Farah terbelalak. Terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Bara. "Astaga ke-kenapa Nak Aeric membawa Nayra kesana, Nak Bara?"


"Bunda tidak perlu khawatir, saya akan menjemputnya sekarang." Bara lalu pamit. Ia bergegas pergi menuju sebuah klub yang terkenal di kota ini. Wajar jika Bunda Farah tidak mengetahui tempat seperti itu, toh itu bukanlah tepat yang layak untuk di kunjungi oleh orang-orang baik seperti Bunda Farah.


Flash back off


Prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat tanpa adanya hambatan. Kali ini Nayra tidak bisa mengelak jika hatinya membuncah senang. Senang karena ia tidak jadi menikah dengan Aeric. Namun di lain sisi, hatinya tidak bisa menerima jika kini Bara telah menjadi suaminya.


Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di dalam otaknya. Seperti, apakah ia di jadikan istri kedua oleh Bara? Atau, apakah pernikahannya dengan Bara telah di restui oleh kedua belah pihak? Nayra hanya takut. Takut jika keluarga Bara masih belum menerimanya.


.


.


.


.


.


^^^BERSAMBUNG...^^^


^^^SABTU, 9 Oktober 2021^^^


...SETELAH MEMBACA DI MOHON TINGGALKAN JEJAK YA. SYUKUR-SYUKUR KALO DI KASIH HADIAH, AUTHOR SENENG BANGET :)...

__ADS_1



__ADS_2