Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Janji


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Tidak ada yang Evano inginkan di dunia ini selain Nayra. Jika ada seorang yang ingin menukarnya dengan uang, Evano akan tetap teguh pada pendiriannya dengan memilih Nayra.


Gadis keras kepala yang memiliki sejuta senyuman itu telah memikat hatinya. Seluruh pikirannya terus saja berpusat kepada gadis itu. Tidak bisa barang sejenak pun Evano melupakan gadis itu. Gadis yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, gadis itu terlalu baik. Bahkan sangat baik, sampai Evano tidak akan rela jika suatu saat kebaikan gadis itu di manfaatkan oleh orang lain.


"Vano."


Untuk sejenak Evano menoleh. Manatap seorang gadis yang masuk ke dalam ruangannya.


"Kamu kenapa, Nay?" Evano terkejut saat melihat gadis itu dengan sorot mata tajamnya.


"Vano." Nayra kembali memanggil.


"Kenapa, Nay? Ada apa? Ada yang jahatin kamu lagi?" Evano bertanya dengan nada lembut.


Bukan gelengan yang gadis itu berikan, melainkan permintaan maaf yang semakin membuat perasaan Evano tak karuan. Jantungnya langsung berdegup kencang.


"Maaf? Untuk apa?"


"Untuk semuanya." gadis itu terdiam. Namun sorot matanya menjelaskan bagaimana lelahnya mengurus orang yang telah di diagnosis lumpuh sepenuhnya oleh dokter.


"Aku lelah, Vano."


Evano menggeleng. Perasaan khawatir akan ditinggalkan kembali hinggap sampai membuat kepalanya terus saja menggeeleng.


"Gak, Nay. Kalo kamu lelah, kamu seharusnya tidur. Bukan malah main kesini." jelas Evano. "Yasudah, sini tidur denganku disini." Evano bergerak menggeser, menepuk tepat kosong di sisi tubuhnya.


"Sini, tidur disini. Biar aku temenin."


"Bukan itu maksudku, Vano!" nada gadis itu terdengar kesal. "Aku cape. Aku cape ngurusin kamu terus, Vano. Aku selalu nemenin kamu. Kamu gak mau makan, aku paksa suapin biar kamu mau makan. Lalu kamu gak bisa tidur, aku selalu temenin disini." gadis itu terdiam sejenak. Evano sudah keringat dingin. Tangan besarnya bergetar ingin menarik Nayra. Namum gadis itu malah dengan cepat menjauh membuat Evano menatap nanar tangannya yang menggantung di udara.


"Nayra, sayang." panggil Evano memohon. "Kamu ini ngomong apa sih? Kamu pasti lelah kan sehabis pulang ngampus?"


"Aku lelah karena bukan itu, tapi aku lelah karena kamu Vano. Aku cape punya pacar yang gak bisa ngapa-ngapain selain tidur. Aku cape ngurusin kamu setiap pulang ngampus. Kamu tau, di kampus aku bahkan seperti tidak memiliki pasangan. Semua temanku pergi have fun bersama pasangannya setiap malam minggu. Tapi aku?" Nayra tertawa. Kemudian menepuk dadanya keras. "Aku malah ngurusin orang kaya kamu."


"Nay-"


"Sebaiknya, ayo akhiri saja hubungan ini Vano."


"Gak, Nay."


Jantung Evano langsung berdetak lebih cepat. Sesak yang di rasa saat kalimat yang tidak ingin Evano dengar malah dengan mudah terucap begitu saja.


Evano menata Nayra dengan raut permohonan. "Nayra, sayang aku mohoh jangan tinggalkan aku. Aku, aku, aku pasti bisa sembuh kok. Bisa kembali berjalan. Tapi ku mohon-" bibir Evano langsung terkatup rapat saat seorang pria berjas hitam masuk tanpa permisi. Perawakan tinggi, putih, bersih, dan berwibawa, berbanding terbalik dengannya yang kucul, rambut lepek, dan bau.

__ADS_1


"Maaf, Vano. Tapi aku sudah bertunangan. Kita tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini."


"Tidak!" Evano menggeleng ribut. Menantang balik tatapan pria itu yang sejak tadi seakan mencemooh dirinya.


"Kau tidak cocok dengan cewek secantik, Nayra." pria itu tiba-tiba saja menggenggam tangan Nayra. Tidak ada penolakan dari gadis itu selain senyum hangat yang diberikan.


"Sudahlah, ayo sayang kita pergi."


"Tidak!"


"Tidak, Nay. Kamu tidak boleh pergi."


"Nayra ku mohon, jangan pergi."


Percuma. Semua permohonan itu hanya di anggap sebagai angin lalu. Gadis itu berbalik pergi, meninggalkan Evano yang menjerit tak ingin di tinggalkan.


Vano.


Vano, bangun.


"NAYRA."


Detik itu juga Evano terbangun. Jantungnya berdebar dengan napas yang memburu seakan habis berjalan jauh. Deru napasnya membuat dada Evano sesak.


Evano mendongkak, menata Nayra yang kini menyodorkan air mineral kearahnya. Tanpa banyak kata Evano menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Mengurung gadis itu agar tidak lari darinya. Untuk sesaat keduanya saling berpelukan dengan posisi Nayra berdiri, dan Evano duduk di samping ranjang. Kedua tangan lelaki itu melingkar di perut Nayra. Wajahnya pun sampai tak terlihat karena lelaki itu menyembunyikan wajahnya di perut rata Nayra. 


"Jangan tinggalkan aku, Nay." ucap Evano dengan nada yang begitu lirih seperti menahan tangis. "Kumohon jangan tinggalkan aku hanya karena aku lumpuh."


"Hey, Vano." Nayra menyimpan kembali gelasnya di samping nakas. Nayra tidak suka dengan ucapan Evano barusan. Nayra mencoba melepaskan pelukannya. Tetapi bukannya terlepas, Evano malah semakin mengeratkannya.


Kepala Evano menggeleng ribut. "Gak, Nay. Jangan di lepas. Jangan tinggalkan aku."


"Siapa yang akan meninggalkanmu, Vano. Aku disini, bersamamu."


Pelukan Evano sangat erat, sampai Nayra kesulitan untuk menyimpan gelas yang masih berada di tangannya. Nayra takut air dalam gelas itu tumpah dan membasahi pakaian Evano, maka dari itu Nayra menyimpannya di samping nakas.


"Kamu pasti mimpi buruk, ya?"


Evano menggangguk pelan. Matanya tertutup merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya. "Aku takut, Nay. Sangat takut."


"Itu hanya mimpi, Vano. Jadikan mimpi mu itu sebagai bunga tidur."


"Tapi semuanya seperti nyata, Nay. Kamu pergi bersama laki-laki lain. Meninggalkanku sendiri." Evano melepaskan pelukannya kasar. Tatapannya tajam, menyorot kearah Nayra.


"Berjanjilah, Nay untuk tidak meninggalkanku." desak Evano memaksa. Kedua tangannya menggengam tangan hangat Nayra yang begitu dingin. "Ayo berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku apappun keadaannya, Nay."

__ADS_1


Tidak. Nayra tidak bisa mengucapkan janji itu disaat dirinya masih terikan surat kontrak dengan Bara.


"Kenapa diam, Nay? Ayo berjanjilah padaku!"


Nayra menghela napas sejanak. Melepaskan genggaman tangan Evano. Lalu memilih menangkup kedua pipi lelaki itu. "Vano, aku tidak bisa berjanji dengan begitu mudah. Bagaimana jika aku pun sama sepertimu, aku mengami kecelakaan, lalu tuhan berkehendak lain-"


Evano meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Nayra. Menghentikan omong kosong gadis itu yang seakan ingin pergi darinya. "Aku hanya ingin kamu berjanji, Nay. Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi selain janjimu."


Nayra diam. Untuk sesaat keduanya seling bertatapan lewat mata. Selang 10 detik, Nayra memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan Evano.


"Vano dengarkan aku dulu-"


"Aku tidak ingin mendengkan apapun selain janji mu, Nay."


"Ayo berjanji padaku!"


"Kenapa kamu diam, Nay?! Aku mohon. AKU MOHON BERJANJILAH PADAKU NAYRA!!"


"YA AKU JANJI." Nayra balas berteriak. Ia tidak sanggup lagi. Air matanya jatuh bersamaan dengan Evano yang kembali memeluknya.


Tidak ada yang bisa Nayra ucapkan selain menuruti keingin lelaki itu. Keadaan psikis Evano sedang dalam pengawasan dokter. Nayra tidak bisa mengatakan 'tidak' jika sang dokter sudah mewanti-wanti untuk tidak membuat Evano berlarut-larut dalam kesedihan. Ditakutkan Evano akan berbuat nekat dan malah menyakiti dirinya sendiri. Nayra tentu saja tidak akan sanggup jika semua itu benar-benar terjadi.


Maaf, Vano. Batin Nayra berucap. Membalas pelukan Evano tak kalah erat.


^^^Bersambung^^^


^^^Selasa, 23 Maret 2021^^^


...Jangan lupa!...


...Vote and coment...


...biar author makin semangat nulisnya....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


...Ily 💕...


See you


ranintanti

__ADS_1


__ADS_2