
...Happy Reading ❤...
Nayra kembali masuk ke dalam ruangan dimana Evano dan Bu Jasmin masih berbincang hangat. Kedua orang itu menoleh serentak saat dirinya masuk, dan melangkah mendekat.
"Ada masalah ya, Nay?" tanya Evano saat melihat wajah kusut Nayra. Tanpa sadar Nayra mengangguk, lalu menggeleng kemudian.
"Iya apa enggak, Nay? Jawaban kamu buat aku bingung."
"Menurut kamu aku ada masalah gak?"
Evano mendengus. "Kok malah tanya balik, kan, kamu yang tau jawabannya, Nayra." gemas Evano dengan tingkah Nayra.
Nayra terkekeh geli. Dalam hati ia bersyukur karena Evano sudah kembali seperti dulu. Tidak ada lagi wajah murung, atau tatapan putus asa.
Nayra tidak mungkin menceritakan masalahnya kepada Evano. Pria itu masih dalam proses pemulihan, jadi lebih baik Nayra memendam keresahan hatinya untuk sementara ini.
"Gak ada masalah apapun. Aku tidak papa, Vano. Hanya tugas kampus saja yang kini menjadi beban pikiranku." Nayra tertawa renyah diakhir kalimat, menatap Evano seolah meyakinkan cowok itu jika dirinya baik-baik saja.
"Beneran? Gak lagi bohongin aku, kan?"
Dengan semangat Nayra menggeleng ribut. "Engak, Vano. Kamu gak percayaan banget sama aku."
"Bukan gak percaya, tapi aku tau kebiasaan kamu yang suka sekali memendam masalahmu sendiri. Kamu tidak mau berbagi, tidak mau menceritakan masalah apapun kepadaku."
"Vano." Nayra bergumam lirih. Namun Evano masih saja berucap, mengabaikan tatapan memelas yang Nayra pancarkan. Mata gadis itu berkaca-kaca, dan Evano bukan orang bodoh yang tidak mengerti arti tatapan itu.
"Aku juga baru tau kalo selama ini biaya pengobatanku kamu yang tanggung. Kalo bukan Ibu yang cerita, selamanya aku gak bakal tau, Nay!" ucap Evano terdengar marah. Nada suaranya bahkan sedikit membentak.
Bu Jasmin yang sejak tadi diam memilih keluar. Mereka membutuhkan ruang untuk menyelesaikan masalahnya. Dan Bu Jasmin cukup sadar diri untuk tidak mencampuri urusan mereka.
"Berapa uang yang kamu keluarkan untuk biaya rumah sakitku, Nay?" tanya Evano menuntut.
"Hanya sebagian kecil saja, tidak perlu diperpanjang seperti ini, Vano."
Tiba-tiba saja Evano tertawa mendengar jawaban Nayra. Tawa miris yang mengandung banyak makna. Sebagai laki-laki Evano merasa pengecut, tidak bertanggung jawab karena telah membiarkan Nayra membiayai pengobatannya dalam jumlah yang pasti berjuta-juta.
"Kecil? Menempati ruangan mewah dengan fasilitas lengkap. Pelayanan yang bagus sampai harus di tangani oleh dokter spesialis seperti Dokter Beni. Bagaimana yang menurut kamu kecil, Nay?"
Nayra bungkam. Bibirnya terkatup rapat. Sulit sekali untuk Nayra menjelaskan semuanya. Begitu banyak yang telah Nayra lewati setelah Evano kecelakaan. Mulai dari ia bekerja sebagai pelayan di klub malam, dan hampir di lecehkan, kemudian demi uang Nayra rela menyerahkan seluruh hidupnya kepada pria lain.
Kira-kira seberapa kecewa Evano jika mengetahui semuanya? Nayra belum siap, dan sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah siap jika harus dihadapkan dengan kekecewaan Evano.
"Kenapa diam, Nay?" Evano mengerang frustasi. "Ayo bilang sama aku, berapa banyak uang yang kamu keluarkan?"
__ADS_1
Nayra menghela napas kasar. "Aku lakuin semua ini buat kamu, buat kesembuhan kamu, Vano!"
"Kamu kecelakaan karena mengantarkan aku pulang." Nayra menunjuk dirinya sendiri. "Perasaan bersalah terus saja menggerogotiku. Dan asal kamu tau, sejak kamu kecelakan perasaan takut dan khawatir aku rasakan setiap waktu."
"Aku takut kamu pergi. Aku tidak akan pernah sanggup jika kamu benar-benar pergi meninggalkanku." Nayra menangis. Tubuhnya di tarik mendekat, sehingga Evano dengan mudah memeluknya.
"Jangan menangis, maafkan aku." Evano menyesal telah membuat Nayra menangis. Sudah lama Evano tidak melihat gadis itu menangis, namun sekarang, karenanya gadis itu menangis keras sampai seperti ini.
Nayra menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Evano. Memeluk pria itu dengan sangat erat. " Aku yang seharusnya minta maaf. Maaf karena telah membuatmu menjadi seperti ini. Aku-"
"Stttt. Sudah hentikan, jangan berkata apapun lagi." Evano menyela ucapan Nayra. Mengusap punggung kecil Nayra dengan perasaan tak menentu.
"Maaf, maaf, Vano. Maaf telah membuatmu seperti ini."
"Aku bilang jangan berbicara lagi, Nay. Hentikan omong kosongmu itu." ucap Evano kesal. Evano tidak suka jika Nayra selalu menyalahkan dirinya sendiri seperti ini.
Keduanya saling berpelukan. Mata mereka terpejam. Nayra sudah tidak menangis sekeras tadi, hanya isakan kecil saja yang terdengar saat ini.
"Ekhem."
Suara deheman itu membuat keduanya melepaskan pelukannya secara tiba-tiba. Nayra dengan kikuk memalingkan wajahnya, sisa-sisa air mata ia seka dengan kasar.
"Ibu ganggu aja." ucap Evano yang di balas delikan tajam oleh Ibunya.
Meski terlihat bingung, Nayra tetap menerimanya. "Aku keluar dulu ya." pamit Nayra yang kemudian bergegas keluar.
"Halo, Bun." Nayra menempelkan ponselnya di telinga kanan setelah menutup pintu.
"Nayra, hiks hiks..."
"Bun, kok nangis? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" ucap Nayra khawatir.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar teriakan dan barang-barang yang dilempar. Nayra semakin bertambah khawatir saar disebrang sana Bundanya malah berteriak cukup keras.
Prang
Prang
Brak
"Bunda." panggil Nayra lagi.
Masih tidak ada yang menyaut, hanya terdengar suara tangis Bundanya saja disana.
__ADS_1
"Saya tidak mau tau, semuanya sudah terjadi. Dan rumah ini telah kami sita atas perintah Tuan Reinald langsung."
"Tapi, pak, saya mohon kasih saya waktu untuk membereskan semuanya. Ini pasti hanya kesalah pahaman saja, Pak. Tidak mungkin anak saya melakukan tindakan seperti itu."
Dalam diam Nayra menyimak percakapan itu. Entah dengan siapa Bundanya berbicara, yang pasti sekarang Bundanya sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah yang sedang Bundanya hadapi.
Tanpa banyak bicara Nayra menutup panggilannya. Ia berlari masuk kembali ke dalam ruangan Evano. Raut terkejut dari Evano dan Bu Jasmin seolah tak menghentikan kekhawatirannya saat ini.
Nayra berjalan lurus, dan berhenti tepat di hadapan Bu Jasmin yang sedang duduk disofa. Kemudian Nayra menyerahkan ponsel itu kepada Bu Jasmin.
"Bu, saya pamit pulang dulu ya." seakan lupa dengan kehadiran Evano, Nayra malah berlari keluar setelah membereskan tasnya. Hatinya berdebar, perasaan itu datang lagi. Perasaan takut, dan gelisah membuat Nayra seakan tidak bisa berpikir jernih.
"Bu, Nayra kenapa?" ucap Evano khawatir. Evano tidak bisa mengejar Nayra, kondisi kakinya masih belum stabil, jika di paksakan berlari ditakutkan akan semakin memperburuk keadaannya.
"Ibu juga tidak tau." kata Bu Jasmin yang membuat Evano menghembuskan napas kasar. Sebenarnya apa yang sedang Nayra alami sampai terlihat panik seperti itu? Evano tidak bisa berbuat banyak selain
menunggu Nayra menelfon untuk menjelaskan semuanya.
Sedangkan Nayra berjalan tergesa-gesa di koridor rumah sakit. Ia takut terjadi sesuatu dengan Bundanya. Ia tidak memiliki siapapun lagi selain Bunda dan Kak Sarah. Jika sesuatu terjadi diantara mereka, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Semoga tidak terjadi apapun. Batin Nayra berucap.
^^^Bersambung^^^
^^^Jumat, 9 April 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Like and coment...
...biar author makin semangat nulisnya. Jika perlu kasih hadiah juga ya :) ...
...Follow ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
See you
ranintanti
__ADS_1