
...Happy Reading ❤...
Matahari sudah mulai tampak menyinari bumi setelah semalaman hujan deras mengguyur kota metropolitan. Ini memang sudah memasuki musim penghujan. Musim yang kadang kala membawa berkah, dan juga bencana untuk sebagian orang.
"Sudah, Nay. Perutku tidak kuat lagi untuk menampung bubur itu." Evano merajuk. Mengambil gelas di samping nakas, kemudian di teguknya dengan pelan.
"Dua suap lagi, ya? Kamu gak lihat ini buburnya masih banyak. Kamu baru makan 5 sendok Vano." ucap Nayra.
"Ya siapa suruh beli bubur. Kamu tau kan aku gak suka makanan lembek kaya gitu. Mana gak ada kuahnya lagi."
"Kamu lagi sakit Vano! Makanya aku gak kasih kuah." Nayra menyimpan mangkuk bubur itu dengan kesal. "Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja."
Belum semat berbalik, tangan Nayra sudah lebih dulu di cekal oleh Evano. "Nay~ jangan ngancem kaya gitu terus dong. Pulang pulang terus dari tadi. Aku baru bangun loh. Kamu gak mau hibur aku gitu? Bawa aku keluar misalnya."
"Gak, kamu lagi sakit. Dan habis menjalani operasi." mata Nayra melotot, memicing tajam. "Jangan coba-coba ya. Kamu butuh istirahat total Vano, jangan buat aku khawatir terus bisakan?"
"Bisa kok, asal kamu bawa aku jalan-jalan dulu. Sekitaran sini aja, Nay." pinta Evano memelas.
Nayra menghela napas sejanak. Jika sudah mendengar nada memelas dan tampang imut Evano, Nayra akan kalah. Lelaki itu memang paling bisa meluluhkan hatinya dengan begitu mudah.
"Yayaya." Nayra pasrah. Akhirnya ia kalah juga dengan Evano. "Tapi ingat jangan terlalu cape. Biar aku carikan dulu kursi roda-"
"Itu tidak perlu, Nay. Aku masih bisa jalan sendiri, kamu hanya perlu membantuku saja. Ya ya? Pliss, Nay."
Nayra mengangguk. "Baiklah."
"Akhirnya, ayo kita keluar jalan-jalan." bak anak kecil, Evano langsung menyibakan selimutnya. Saat lelaki itu akan menurunkan kakinya. Betapa kagetnya Evano saat tidak bisa merasakan kakinya sama sekali.
"Kenapa? Ayo aku bantu jalan." Nayra memegang lengan besar Evano. Niatnya ingin membantu lelaki itu turun, tapi tangannya sudah lebih dulu di tepis kasar oleh lelaki itu.
Nayra mengernyit. "Vano, ada apa?" tanyanya.
"Kakiku. Nay, kakiku! Kaki aku tidak bisa di gerakan!!" Evano panik. Lelaki itu mencoba mengangkat kakinya, tetap tidak bisa. Bahkan untuk menggerakan ujung jempol saja rasanya sangat sulit sekali.
"Gak! Gak, Nay! Aku gak mungkin lupuhkan?" mata lelaki itu berkaca-kaca. Nayra tampak shock, namun dengan segera merengkuh tubuh Evano.
"Lepas, Nay!"
"Tidak."
"AKU BILANG LEPAS, NAYRA!" jeritan frustasi dan dorongan itu membuat Nayra tersungkur di bawah lantai.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mungkin lumpuh."
Nayra memegang dadanya, merasakan degup jantung yang kian menggila. Nayra tidak menyangka jika Evano akan mendorongnya secara tiba-tiba seperti ini.
"Ku mohon, bergerak. Ayo bergerak! Brengs*k kenapa kaki ini malah tidak bergerak sama sekali hah!!" lelaki itu memaki, memukul-mukul kakinya dengan kekuatan brutal. Entah sebara kuat pukulannya, tetapi tetap saja Evano sama sekali tidak bisa merasakannya. Kakinya seakan mati rasa.
Nayra mencoba kembali mendekat. Dengan pelan Nayra mengenggam kepalan tangan itu agar tidak semakin menyakiti dirinya sendiri. "Stop, Vano. Jangan seperti ini." ucap Nayra lirih. Ia takut. Takut melihat lelaki itu.
"LEPAS! JANGAN MENYENTUHKU LAGI!!!" Evano menjerit keras. Infus yang menempel di punggung tangannya di tarik dengan kasar. Nayra memekik melihat darah itu seketika merembes keluar dari tangan Evano.
"Vano."
"PERGI NAYRA! AKU TIDAK INGIN MELIHATMU LAGI! PERGI!!!"
Nayra tidak sanggup lagi. Lelaki itu mengamuk, melempar bantal, selimut, bahkan tiang infus pun lelaki itu lempar kearah Nayra.
__ADS_1
Nayra bergerak menjauh. Ia berlai keluar meninggalkan Evano yang kini menjerit-jerit karena tidak menerima keadaannya. Bukan. Nayra bukan meninggalkan Evano. Melainkan ia berlari untuk memanggil seorang Dokter.
Tanpa sengaja, Nayra bertubrukan dengan Bu Jasmin. Wanita itu baru saja kembali setelah membeli air mineral di kantin rumah sakit.
"Nay, ada apa? Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?" Bu Jasmin memegang kedua pundak Nayra. Gadis itu seakan linglung, dengan mata yang terus bergerak liar mencari sesuatu.
"Dokter, Bu! Evano butuh Dokter!" Nayra resah. Ia takut Evano semakin menyakiti dirinya sendiri.
"Iya, tapi kenapa?"
Bukannya menjawab, Nayra malah berlari tak karuan.
"Suster!" teriak Nayra.
Seorang suster berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Ada apa, Nona?"
"Evano! Evano, Sus-" tidak. Nayra tidak melanjutkan ucapannya. Gadis itu malah kembali berlari diikuti oleh suster dan Bu Jasmin di belakangnya. Namun saat telah sampai di ruangan Evano, lelaki itu sudah lebih dulu di tangani oleh Dokter Beni.
"Sus, siapkan infusan yang baru." setelah meyuntikan obat tidur, Dokter Beni kini mulai menyusut darah di punggung tangan Evano dengan kapas alkohol.
"Baik, Dok." suster yang berada di belakang Nayra dengan segera berlari entah kemana. Mungkin akan mengambil peralatan yang Dokter Beni suruh. Entah, Nayra tidak terlalu memusingkan kemana suster itu pergi.
"Nay." setelah berdiam diri, akhirnya Bu Jasmin mendekat dan merengkuh tubuh kecil Nayra. "Ini sudah jalan takdirnya Evano. Jangan menyalakan diri seperti itu. Ini bukan salahmu."
Mendengar ucapan Bu Jasmin membuat Nayra mengigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca. Terlihat sekali jika gadis itu sedang berusaha untuk menahan tangisnya.
"Menangislah, Nay." bersamaan dengan rengkuhan hangat itu. Nayra memeluk Bu Jasmin erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
Nayra tak sanggup. Akhirnya ia menangis terisak. "Maaf, Bu. Maaf. Maaf gara-gara Nay, Vano jadi seperti ini."
"Menangislah, Nay. Keluarkan semuanya. Keluarkan apa yang selama ini kamu rasakan. Tapi setelah itu, jangan lihatkan air matamu di depan Evano."
Bu Jasmin tidak menangis. Wanita itu memendam semuanya. Sebagai seorang ibu, ia tentu sangat sedih. Harapan besar yang kelak akan mengubah hidupnya kini malah menjadi seperti ini. Anak satu-satunya. Harapan keluarganya.
Bu Jasmin kembali menarik Nayra masuk ke dalam rengkuhan hangatnya. Membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya.
.....
"Mommy!" pekikan senang itu membuat seluruh keluarga yang berada di meja makan menoleh serentak.
Bocah berumur 5 tahun itu segera turun dari kursi, dibantu oleh pengasuhnya.
"Hati-hati boy, jangan berlari seperti itu." Bara memperingati. Kaki kecil itu berlari dengan begitu lincah membuat Bara sedikit khawatir jika anak itu tersandung.
"Mommy kapan datang? Kenapa gak bilang Dev dulu? Mommy tau, aku rindu Mommy sebanyak-banyaknya." bocah itu merentangkan tangannya meminta di peluk. Dengan segera Devina berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang anak.
"Mommy juga merindukanmu, sayang." Devina memeluk anaknya, mengucupi kedua pipi tembem Devano penuh kerinduan
"Kamu sarapan dulu ya, Mommy punya banyak oleh-oleh loh." Devina menggandeng anaknya kembali menuju meja makan.
"Oleh-oleh? Apa itu Mommy?" Devano sudah duduk anteng di kursinya. Dibantu dengan pengasuhnya yang bernama Cici.
"Rahasia. Nanti kamu juga tau." mendengar jawaban itu, Devano mengerucutkan bibirnya sebal. Namun tak urung, anak itu kembali menyodokan makananya. Sesekali pengasuh itu juga mengelap bibir Devano.
Setelah melihat Devano duduk di kursi. Kini Devina beralih menatap ke depan. Kedua mertuanya kini tersenyum menyambut kedatangannya.
"Akhirnya kamu pulang juga, Ara." Shilla berdiri menyambut menantu idamannya dengan hangat. Kedua wanita itu berpelukan.
__ADS_1
Devina tersenyum mendengar nama panggilan yang terucap di bibir Ibu mertuanya. "Iya, Mom. Bagaimana kabar Mommy dan Daddy?"
"Kami baik, Ara. Bagaimana denganmu?"
"Seperti yang Mommy lihat." timpal Devina.
"Hey menantu, kau tidak ingin memeluk ku juga." suara Matt membuat Devina melepaskan pelukannya. Dan beralih memeluk lelaki tua itu.
"Ouhh, Daddy aku merindukanmu. Sudah lama aku tidak berbincang denganmu, Dad."
Matteo mengangguk. "Ternyata istrimu lebih merindukanku ketimbang suaminya ya."
"Daddy!" Devina tergelak. "Tentu saja aku juga merindukan suamiku." ujar Devina kesal.
Matteo tertawa. "Hahaha ya sudah sana lihat suamimu. Sejak semalam dia terus uring-uringan. Bahkan sampai membuat kamarnya berantakan seperti habis terjadi gempa." timpal Matt yang mendapat delikan tajam dari anaknya.
"Itu karena Daddy lebih melimpahkan semua pekerjaannya padaku." kesal Bara dengan beralibi. Tidak mungkin Bara berucap jujur jika kemarin suasana hatinya sedang buruk hanya karena seorang gadis.
Shila mendengus. "Itu salahmu sendiri yang meninggalkan rapat secara tiba-tiba." ucap Shila.
"Yaya, aku lagi yang salah." Bara menyerah, memilih meneguk kopinya.
Setelah selesai, Bara mengambil jas yang tersampir di kursi
"Aku berangkat."
"Kau tidak ingin libur dulu? Istrimu baru saja pulang, Bara."
Bara menggeleng menjawab pertanyaan Daddy nya. "Pekerjaanku lebih penting, Dad." jawab Bara kemudian bergegas pergi meninggalkan reuni keluarga yang tengah berlangsung.
"Tapi, Bara-" Devina langsung mengatupkan bibirnya saat melihat Bara mengibaskan tangannya. Bertanda jika lelaki itu tak menginginkan Devina untuk berbicara lebih jauh. Di samping itu, Devina menatap nanar punggung kokoh yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Dasar, anak itu!" Shilla mengeram kesal melihat kelakuan Bara yang selalu bersikap dingin kepada istrinya. "Sudahlah, kau ingin sarapan apa, Ara? Biar Mommy ambilkan."
Devina tersenyum pedih. "Apa saja, asal itu dari tangan Mommy, Ara pasti suka."
^^^Bersambung^^^
^^^Senin, *2**2 Maret 2021*^^^
...Jangan lupa!...
...Vote and coment...
...biar author makin semangat nulisnya....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
See you
ranintanti
__ADS_1