
...Happy Reading ❤...
Dulu memang masa terindah untuk Nayra. Keluarga yang utuh, teman yang banyak, serta kehidupan yang tercukupi. Sejak dulu Nayra hanya memikirkan organisasi, tugas sekolah serta tanggung jawabnya sebagai seorang anak. Belajar, dan belajar adalah keseharian Nayra sejak SMA dulu.
Nayra tak pernah tau bagaimana rasanya jatuh cinta, menyukai lawan jenis, atau indahnya masa pacaran. Nayra tidak tau. Yang Nayra tau hanyalah rapat, tugas, dan belajar. Itulah prioritas utamanya. Dulu. Yaa dulu.
Saat awal pertemuan dengan Bara pun, tidak ada rasa ketertarikan sama sekali. Nayra yang cuek, Nayra yang tidak peduli dengan lelaki yang bernama Bara itu.
Berbeda dengan teman-temannya yang selalu menggadang-gadangkan lelaki itu. Bosan? Tentu saja bosan. Setiap di kelas, di kantin, bahkan di ruang guru pun selalu nama Bara yang terngiang di telinganya.
Bara yang tampan
Bara yang tajir
Bara yang jenius
Bara yang bla bla bla
Hingga hampir seluruh murid perempuan semuanya mengidolakan sosok Bara. Cowok sempurna, cowok titisan dewa, cowok yang jauh dari kata cacat. Tubuh kekar, otot keras, kulit putih, bahkan wajahpun tidak ada jerawat sedikit pun.
Jika mengingat kenangan SMA, mengingat bagaimana Bara yang menjadi kebanggaan guru-guru di sekolahnya. Rasanya Nayra iri, tapi semua itu tak berlangsung lama setelah mengetahui bagaimana sifat dan sikap Bara kepada semua orang.
Bara yang selalu ada, Bara yang murah senyum dan mudah berbaur. Bara yang selalu mengajaknya bicara dikala Nayra menunggu jemputan ayahnya, Bara yang tidak pernah meninggalkan Nayra sendirian.
Semua kenangan itu memang indah jika di ingat, tapi percayalah setiap Bara tersenyum, ada ketakutan dalam hatinya. Hingga tanpa sadar, setiap Bara menemaninya, Nayra hanya akan menanggapi lelaki itu seadanya.
Dan terbukti, ketakutan yang dulu hinggap dihatinya kini terjadi sudah. Bara. Lelaki itu mengejarnya, memaksanya untuk menjadi miliknya. Tidak ada yang bisa Nayra lakukan selain mengikuti kemauan lelaki itu.
"Gue perhatiin lo dari tadi bengong aja, Nay." suara Erina menyadarkan Nayra dari lamunannya. Nayra mengerjap, menoleh sekilas menatap sahabatnya yang sudah duduk di sampingnya.
"Lo gak pulang, Rin?" tanya Nayra.
"Enggak, gue masih ada sedikit urusan di kampus." Erina membuka tasnya, membaca agenda yang akan dilakukannya untuk acara kampus beberapa hari ini. "Gue baru nyesel ikutan organisasi beginian."
Nayra mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya ini kemauan lo sendiri ya?" memang, Erina mengikuti beberapa kegiatan organisasi yang sangat menguras tenaga. Nayra bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu selalu saja sibuk.
__ADS_1
"Iya makanya gue nyesel Nay. Lo mau gak gantiin gue? Sekali-kali lah lo ngikut organisai."
Nayra terkekeh. "Enggak deh, makasih. Gue udah tau gimana rasanya pas SMA dulu. Cape. Makanya gue pensiun."
Erina pun ikut terkekeh, tapi tak pernah Erina mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja. Bagaimanapun ini tugasnya, tanggangung jawab yang harus Erina terima.
"Ohya, Nay gimana keaadan Evano?"
"Dokter bilang si, udah ada kemajuan. Operasinya juga berjalan lancar." jelas Nayra.
Erina mengangguk mengerti. "Syukur deh, seneng gue dengernya." Erina kembali mengantongi agendanya. Sampai terdengar bunyi 'ting' yang menandakan jika satu pesan masuk di ponselnya. Erina bergegas membuka, membaca pesan singkat itu yang mengatakan jika rapatnya akan di undur selama 2 jam ke depan.
Dalam hati Erina bersungut kesal. Kenapa rapatnya gak sekarang aja sih?!! Kenapa harus diundur dulu selama 2 jam? Memang yang namanya ketua selalu seenaknya.
Tawa Nayra meledak melihat pesan singkat di ponsel sahabatnya. "Udah biasa." celetuk Erina berusaha sabar mendengar ledekan itu.
Erina kembali memasukan ponselnya. "Dahlah, mending gue jenguk si Evano dulu."
Mendengar ucapan Erina, Nayra mengangguk setuju. Toh, ia pun niatnya memang akan pergi ke rumah sakit. Jadi lumayan tumpangan gratis, gak perlu ngeluarin ongkos. Nayra terkekik geli dengan idenya.
.....
Namun belum sampai di tempat tujuan, sekilas Nayra melihat sosok Bara di salah satu ruangan. Nayra yang penasaran pun berbalik ingin memastikan.
"Nay? Buruan! pegel nih gue dari tadi nyari buah-buahan."
Nayra berjengkit, menatap sebal sahabatnya. "Iyaiya, sabar kali ah." cepat-cepat Nayra menyusul Erina. Mungkin ia salah lihat, tidak mungkin Bara berada di rumah sakit. Jikalau benar itu Bara, Nayra tidak akan peduli.
"Loh, Nay udah beres kuliahnya?" tiba-tiba saja Bu Jasmin datang dari arah berlawanan, hingga tanpa sengaja mereka berpapasan.
"Iya, Bu, makanya Nay langsung kesini." balas Nayra yang menatap kresek putih di tangan Bu Jasmin. "Ibu abis beli makan?"
Bu Jasmin mengangguk, menarik tangan Nayra untuk segera kembali ke ruangan Evano. Dimana Erina sudah lebih dulu sampai disana.
.....
__ADS_1
"Keadaannya sudah mulai membaik, hanya tinggal menunggu pasien sadar saja." dokter itu berhenti sejanak. "Pasien juga akan mengalami kelumpuhan secara ringan akibat kekakuan otot. Namun Tuan tidak perlu khawatir, dengan terapi rutin pasien pasti akan kembali beraktivitas seperti biasa."
Bukan. Bukan itu yang ingin dia dengar."Kira-kira berapa lama lagi dia akan sadar?"
Dokter itu meneguk ludahnya susah payah. Kenapa dari sekian banyak pasien, ia harus berurusan dengan anak pemilik rumah sakit ini.
"Saya tidak tau kapan pastinya-" belum sempat Dokter itu selesai berucap, lagi-lagi suara dingin itu kembali terdengar.
"Bagaimana mungkin kau tidak tau?! Kau seorang Dokter, kan? Harusnya kau tau kapan dia sadar, bukan malah menjawabnya seperti itu! Itu bukan jawaban yang aku inginkan!" dokter itu menunduk ketakutan mendengar teriakan yang bergema di dalam ruangan yang hening ini.
"Maafkan saya, Tuan, tapi-"
"Sudahlah, Dokter disini memang tidak pernah ada yang becus!" sungut pria itu kesal lalu bangkit berdiri. "Er, sebaiknya kau pecat dia." kemudian pria itu bergegas pergi meninggalkan sahabatnya yang melongo menatap kepergiannya.
"Ha?! Maksudnya gue gitu yang pecat dia, Bar? Woy Bara!!" Eros kesal saat Bara meninggalkannya seperti orang bodoh disini. Eros tidak punya hak untuk memecat dokter itu, jikalaupun ada, itu pasti langsung dari pemiliknya Om Math.
"Tuan, tolong jangan pecat saya."
Eros kembali menatap dokter itu. "Kau tenang saja, dia tidak akan mungkin memecatmu." timpal Eros dingin. Kemudian bergegas menyusul sahabatnya, bagaimanapun Bara tidak memiliki wewenang untuk memecat orang-orang yang di pegang langsung oleh kepala keluarga Mattheo.
"Bar, tungguin gue." Eros berjalan tepat di samping Bara, dimana sahabatnya itu telah masuk ke sebuah ruangan yang bahkan Eros sendiri tak tau ruangan siapa itu.
^^^Bersambung.....^^^
^^^Selasa, 9 Febuari 2021^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...untuk cerita-cerita lainnya....
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
__ADS_1
See you
ranintanti