Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Nungguin Vano


__ADS_3

...Happy Rading ❤...


Bara memang gila. Sangat gila jika harus menghadapi Nayra. Sikap keras kepala Nayra selalu saja membuat Bara mendidih. Penolakan dan sikap acuh Nayra membuat Bara ingin sekali menghancurkan isi mobilnya.


"Bar, udahlah gue pusing liat lo uring-uringan kaya gini." Eros mendesah kesal, memijit keningnya yang mendadak terserang sakit kepala melihat betapa konyolnya seorang Bara Matteo dalam menangani seorang gadis.


Jika di bandingkan atara Bara dan Rizky, Eros lebih baik memilih Rizky. Meski Rizky itu adalah lelaki playboy, tapi setidaknya Rizky bisa bersikap lebih baik kepada wanita, ketimbang Bara yang selalu bersikap kasar.


"Keluar." Bara berucap dingin.


"Apa?"


"Keluar dari mobil gue!" sentak Bara.


Dengan tergesa Eros membuka pintu mobil. Sebelum benar-benar keluar, Eros kembali menatap Bara. "Lo serius, Bar mau ninggalin gue disini?" Eros menatap sekeliling. Masih berada di parkiran rumah sakit, Eros menatap Bara memelas. "Bar, jangan gitulah."


"Keluar."


Tanpa banyak kata Eros langsung keluar, membanting pintu mobil dengan keras. "Temen gak ada akhlak lo. Pantes aja Nayra gak mau sama lo." kesal Eros mencak-mencak.


Bara menurunkan kaca mobil. "Gue duluan." pamit Bara yang kembali menutup kaca mobilnya. Mobil pun melaju, meninggalkan Eros yang dengan kesal memukul-mukul udara.


"NYESEL GUE NGANTERIN LO, BAR! NYESEL BANGET! TEMEN GAK TAU TERIMA KASIH LO. BUKANNYA ANTERIN GUE PULANG MALAH DI TELANTARIN KAYA GINI!!!" Eros menjerit keras. Sumpah serapah Eros ucapkan kepala lelaki yang tidak berprasaan itu.


"Sejak kapan rumah sakit umum, jadi rumah sakit jiwa ya?"


Eros menoleh mendengar suara seseorang. Di belakang sana Erina dengan motor maticnya tengah tertawa mengejek.


"Sepertinya sejak saat ini." lanjut Erina.


Eros mengeram. "Heh bocil! Lo kalo ngomong bisa gak sih di pikir dulu. Gue masih waras, masih sehat walafiat."


"Kapan gue bilang lo gila, Ros? Perasaan gue cuma bilang, sejak kapan rumah sakit umum, jadi rumah sakit jiwa." Erina kembali tertawa, setelah memasangkan helm, dan menyalakan motor, Erina menatap Eros sejenak.


"Dah ya, gue mau pulang dulu, Kakak sepupu. Selamat malam." Erina melambai. Secepat itu pula Eros langsung merentangkan tangan, menghadang keponakannya itu.


"Anterin gue pulang dong." Eros memelas, menatap Erina dengan bibir yang melengkung ke bawah. Tangannya saling merapat di depan dada. "Pliss, Rin, lo tega ninggalin gue disini? Dompet sama ponsel gue ketinggalan di mobil si brengsek Bara."


"Hm, gimana ya...." Erina terlihat berpikir.


"Gue beliin lipstik deh." Eros mulai menyogok. Ia paling hapal dengan kebiasaan Erina yang mata duitan.


"Tapi gue gak ada waktu, gue sibuk nih ada jadwal di kampus. Jadi-"


"Satu paket skincare, lipstik, sama perawatan salon."


"Aduuh, gue sebenernya gak enak nih, Ros."


Dalam hati Eros membatin. "Gak enak mak lu."


"Tapi jadwal gue di kampus bener-bener penting-"

__ADS_1


"GUE TAMBAHIN VOUCHER BELANJA!!" jerit Eros frustasi.


"Oke, deal."


Eros mengeram. "Lo mau rampok gue apa gimana sih?!!"


Erina sontak terbahak. "Cewek canti kaya gue mana bisa ngerampok. Kalo ngerampok hati babang tamvan mah gue mau-mau aja sih." timpal Erina santai. Kemudian Erina mundur, menyuruh Eros agar cepat naik.


"Buruan naik, lo yang nyetir. Ngebut. Gue buru-buru soalnya."


Menghela napas kasar, Eros mendekat kearah Erina. Helm yang terpasang di kepala Erina, ia goyangkan ke kanan dan kiri sampai gadis itu memekik karena pusing.


"Goblk lo Eross!!! Kepala gue pusing." kesal Erina.


"Bodoamat. Cewek berhati iblis kaya lo emang sekali-kali perlu di ruqyah, biar tuh otak isinya kagak duit-duit mulu." balas Eros tak kalah kesal.


.....


Setelah mengelap tubuh Evano dengan handuk basah dibantu oleh Bu Jasmin. Akhirnya Nayra bisa bernapas lega melihat tubuh itu sudah terlepas dari selang-selang yang membelitnya. Hanya ada masker oksigen saja yang sekarang membingkai wajah tampannya.


"Sudah malam, Nay, kamu gak pulang?"


Nayra menggeleng. Membuang air kompresan itu di kamar mandi yang masih berada di dalam ruangan. "Enggak, Bu. Nay mau nungguin Vano sampai bangun." balas Nayra.


"Ada Ibu, Nay. Kamu jangan terlalu khawatir. Kamu juga butuh istirahat, butuh tidur." nasehat Bu Jasmin. "Lihat, tubuhmu bahkan jauh lebih kurus dari sebelumnya."


Nayra tersenyum, dan duduk di samping Bu Jasmin. "Setelah Vano bangun, Nay janji akan pulang, Bu."


Nayra tergelak, tertawa pelan. "Vano bahkan jauh lebih keras kepala dari pada aku, Bu."


"Ahh benar, kalian pasangan yang sama-sama keras kepala. Gak mau dengerin omongan Ibu." Bu Jasmin berpura-pura marah dengan memalingkan wajahnya.


"Ibu marah?" tanya Nayra.


"Enggak."


"Hahaha, Ibu jangan marah, muka Ibu gak cocok kalo marah gitu. Tuanya keliatan banget. Upss." Nayra sontak menutup mulut melihat Bu Jasmin kini melotot kesal kearahnya.


"Ibu senang kamu sudah bisa tertawa lagi, Nay." bukannya marah, Bu Jasmin malah tersenyum. Membawa tubuh Nayra agar berbaring di atas pahanya.


"Tidurlah, Nay. Kamu butuh istirahat. Biar Ibu yang jaga Vano." perlahan, Bu Jasmin mengusap rambut panjang Nayra. Membiarkan Nayra untuk terlelap tidur diatas pangkuannya.


.....


PRANG


Bara membanting ponselnya kearah kaca. Sehingga cermin yang menempel di meja rias itu hancur berkeping. Bahkan sampai berserakan di bawah lantai.


Puluhan kali, sampai ratusan kali pun ia menghubungi Nayra tetap saja gadis itu tak kunjung menjawabnya. Entah apa yang di lakukan gadis itu sampai tak mengangkat panggilannya.


Bara menatap pantulan dirinya di depan cermin yang retak. Raut kemarahannya masih terlihat sangat jelas di depan sana. Seluruh kamarnya berantakan, buku, figura, bahkan beberapa guci kecil menjadi pelampiasan kemarahannya.

__ADS_1


Dadanya masih bergemuruh. Padahal ia hanya ingin mendengar suara lembut Nayra. Walau sebentar, tapi itu mampu meredakan amarahnya yang masih bersarang di hatinya.


Sejak pulang dari rumah sakit, Bara langsung mengamuk bak orang gila. Barang-barang yang berada di dalam kamarnya telah tersapu bersih oleh satu kali sapuan tangan sehingga semuanya tercecer di bawah lantai.


"Papa." bocah cilik berumur 5 tahun itu menyebulkan kepalanya di balik pintu. Mata polos itu mengerjap, menatap sekeliling kamar. "Papa kenapa?" tanyanya. Tangan kecilnya membuka pintu semakin lebar.


Sebelum mendekat, Bara buru-buru memeluk bocah itu, dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kita keluar ya? Jangan main disini." ucap Bara lembut. Entah kemana emosinya yang tadi mengelilingi kepalanya. Sekarang hanya ada tatapan lembut untuk membalas tatapan kebingungan dari anaknya.


"Papa kenapa?" tanya Devano sambil memeluk leher Bara erat. "Kamar Papa ada angin beliungnya ya? Kok bisa berantakan gitu?"


Bukannya menjawab, Bara malah mengecupi pipi tembem Devano sampai-sampai anak itu bergerak risih menghindari serangan darinya.


"Papa, stoop." pekik Devano. Lalu mengusap pipinya sampai terlihat memerah. "Papa bau, belum mandi." bocah itu memberontak saat telah berada di lantai bawah meminta di turunkan. Dengan segera Bara menurunkan anak itu di sofa dekat tv.


"Ini udah malem, kenapa Dev belum tidur hm?"


Devano cemberut. Mengambil robot mainan yang berada di sampingnya. "Dev takut tidur sendiri. Mau bareng Papa aja, boleh?" tanya anak itu dengan tatapan sayunya. Terlihat sekali jika anak itu sudah mengantuk berat.


"Emm, cium sini dulu." Bara menunjuk pipi kanannya. Devano memberengut, walau tak ayal bocah itu pun mendekatkan wajahnya kearah Bara.


Cup


"Sudah. Jadi bolehkan, Papa?"


"Yaaaa boleh dong. Kita tidur sama-sama di kamar Dev ya?" anggukan semangat dari bocah itu membuat Bara tertawa, dan mengusap pucuk kepala Devano penuh sayang.


"Ayoo, kita tidur." Bara membawa bocah itu berlari menaiki lift. Bak pesawat terbang, bocah itu merentangkan kedua tangannya seakan sedang terbang. Bibirnya tak berhenti untuk tersenyum, walau sesekali anak itu sempat menutup matanya karena terlalu mengantuk. Tapi Bara senang, setidaknya ia bisa melupakan sosok Nayra sejenak dalam pikirannya.


^^^Bersambung^^^


^^^Minggu, 21 Maret 2021^^^



...Jangan lupa!...


...Vote and coment...


...biar author makin semangat nulisnya....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


...Ily 💕...


See you


ranintanti

__ADS_1


__ADS_2