
...Happy Reading ❤️...
"Bar, cukup Bar. Jangan ancurin usaha gue dong. Ini klub satu-satunya wasiat dari Bokap gue."
Eros terus saja menahan tindakan gila Bara. Sejak tadi pria itu terus saja membanting botol-botol minuman yang sialnya ada isinya. Tak taukah jika botol itu harganya berjuta-juta dollar.
"Gue mau lagi. Kasih gue minuman tadi, Er. Sebotol lagi. Hmm, sebotol lagi gue janji." Bara terus saja meracau, meminta minuman yang jelas-jelas sudah di lemparkannya. Jika terus seperti ini Eros bisa bangkrut.
"Ayraa~ sayang, ayo kasih minumnya. Aku haus lohh."
Eros merinding geli. Bulu kuduknya bahkan sampai meremang mendengar nada yang di keluarkan Bara. Di setiap nada terdengar manja dan sedikit mendesah.
"LO- AHK! BARA SADAR WOY! INI GUE EROS!"
"Hihihi sayaang~ ayo sini deketan."
Eros bergidik jijik. Bara terus saja memonyong-monyongkan bibirnya sampai membuat Eros bergerak menghindar. Bagaimana pun dia masih menyukai gadis perawan. Berdecak sebal, Eros menahan kening Bara agar tidak terlalu dekat.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Eros segera mengangkatnya.
"LO DIMANA?!"
Eros meringis ngilu mendengar teriakan itu.
"Gue di tempat biasa."
"ASU! Gue teleponin Bara gak di angkat-angkat."
__ADS_1
"Iyalah orang Bara lagi sama gue. Dia mabok, jadi mana inget ngangkat telepon."
"Yaudah buruan sini. Gue shareloc lokasinya. Sekalian bawa tuh si cunguk Bara kesini biar dia sadar, sesadar-sadarnya." gemas Rizky di sebrang sana.
Eros terkekeh. "Lo emang dimana? Ngapain pake shareloc segala. Lo kesini aja dah langsung. Gue males bawa orang mabok-"
CUP
"BARA SIALAAAN!!!"
Eros menjerit. Matanya melotot shock saat Bara berhasil mengecup sudut bibirnya. Tangannya mengepal erat. Memukul wajah itu hingga jatuh tersungkur.
"Heh! Jangan teriak depan kuping gue, Ros. Ini gendang telinga bukan gendang tabuh."
"Bodo amat. Gue gak peduli. Lo kesini aja. Gue males Bawa si brengsek Bara ini." sungut Eros kesal. Sejak tadi tak henti-hentinya Eros mengusap bibirnya cepat. Sepertinya dia harus mandi dengan kembang tujuh rupa untuk menghilangkan najis sesama jenis.
Eros meludah. Terbayang sudah bagaimana sudut bibirnya di kecup oleh Bara.
"Gue ketemu Nayra."
Detik itu pula Eros terdiam mematung. "Lo lagi gak bohongin gue kan?"
"Gak ada untungnya juga buat gue bohong, Ros. Dahlah, buruan sini bawa si Bara, biar tuh anak bisa sadar."
"Gue kesana."
Eros bergegas menyeret Bara ke kamar mandi. Hanya dengan cara seperti ini Bara akan kembali sadar sepenuhnya. Ia mengguyur Bara terus menerus, sampai pria itu kelakabakan karena kehabisan napas.
__ADS_1
Masih belum sadar juga, akhirnya terpaksa Eros melakukan tindakan terakhir. Memukul wajah itu.
Bugh
Bugh
Dua kali Eros memukul wajah itu. "Bangun lo! Bangun!"
Bugh
"Kalo lo gak bangun juga, gue gak bakal kasih tau dimana keberadaan Nayra."
Mendengar nama Nayra, Bara seakan tersadar. Kepalanya menggeleng cepat, mencoba menghilangkan rasa pusing di kepalanya.
"Nayra udah ketemu. Sadar, Bar! Sadar!"
Bara mengerjap pelan. "Nayra?"
"Iya, Rizky menemukan keberadaan Nayra."
Kali ini Bara benar-benar sadar. Kedua matanya melotot. Telinga kembali ia pasang baik-baik.
"Lo gak bohong?"
Eros berdecak. "Kebanyakan nanya lo!" sambil menarik Bara, Eros meraih kunci mobilnya. Dia harus segera bergegas. Jika menunggu Bara benar-benar sadar, sepertinya membutuhkan waktu cukup lama. Dan itu tidak bisa di biarkan, atau gadis yang bernama Nayra itu akan kembali pergi, dan meninggalkan Bara yang terluka disini.
^^^Next^^^
__ADS_1
^^^Jum'at, 13 Agustus 2021^^^