
Happy Reading ❤️
Setiap melihat Bara, sebisa mungkin Nayra akan menghindar. Saat Bara akan menjemputnya, Nayra akan berangkat lebih dulu. Saat jam kuliah berakhir, ia pun akan bergegas memesan taksi online untuk sampai ke rumahnya. Semua aktivitas itu sudah 2 hari ia jalani.
"Permisi."
Suara berat yang tak asing itu membuat Nayra terperanjat. Kepalanya mendongkak menatap kearah pintu. Terlihat sosok tinggi tegap sedang berdiri di depan kelas.
"Bara." panggilan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Maaf telah mengganggu jadwal anda mengajar prof. Saya kesini hanya ingin menjemput Nayra." kata Bara berusaha sesopan mungkin.
"Silahkan kalau begitu, Pak Bara." sahut Sang Dosen.
Siapa yang tidak mengenal Bara. Sosok muda yang berhasil di dunia bisnis itu sudah terkenal di kalangan dunia Maya. Di tambah dengan berita pertunangan mereka sedang marak di perbincangkan.
Nayra melotot mendengar ucapan dosennya. Ia protes, namun Bara sudah lebih dulu menariknya keluar hingga protesan itu kembali tertelan.
"Bara, lepas. Apapaan sih."
Seolah tuli. Bara terus saja menarik Nayra. Mengabaikan segala rontaan, juga teriakan yang keluar dari bibir tipis gadisnya.
"Masuk." Bara memaksa gadis itu masuk ke dalam mobil. Nayra menurut, gadis itu duduk sembari mengusap lengannya yang memerah.
"Mana ponsel kamu." pinta Bara.
"Buat apa?" tanyanya bingung.
"Mana." tekan Bara. Nayra menyerahkan ponselnya. Pria itu mengutak-ngatik sebentar, sebelum kemudian dilempar ke luar.
Nayra melotot melihatnya. "Kenapa malah di lempar!" teriaknya kesal.
__ADS_1
"Telepon gak di angkat, WhatsApp gak di bales. Setiap mau jemput menghindar. Sebenernya apa sih mau kamu?!!" sembur Bara kesal.
"Itu karena kamu udah bohongin aku, Bara! Kamu udah nikah, dan punya anak, tapi kenapa malah ngejar-ngejar aku terus sih?!!"
Tubuh pria itu menegang. Terkejut dengan penuturan yang diucapkan Nayra.
Bara menarik kedua bahu Nayra. Memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Apa maksud kamu?" desis Bara menuntut jawaban.
"Lepas! Sakit Bara." Nayra berusaha melepaskan cengkraman di pundaknya. Bukannya terlepas, cengkraman itu malah semakin menguat.
"Jelaskan dulu, apa maksud ucapan kamu barusan."
"Jangan pura-pura tidak mengerti! Aku tau kamu sudah menikah, dan punya anak."
"Siapa?"
"Apanya?" dahi Nayra mengkerut bingung.
Nayra menggeleng. Dengan sekuat tenaga Nayra menyentakan kedua tangan Bara yang sedang Mencengkram pundaknya.
"Bukan Eros ataupun Rizky. Melainkan aku sendiri. Aku yang sudah mencari tau semua tentangmu." teriaknya.
Nayra melepaskan cincin yang tersemat di jari manisnya. "Maaf, pertunangan ini tidak bisa dilanjutkan lagi, Bara. Aku tidak ingin menikah, apalagi hidup bersama pria yang sudah beristri seperti kamu." Nayra melemparkan cincin itu tepat di wajah Bara.
Bara menutup matanya saat merasakan cincin itu mengenai tulang hidungnya. Bukannya marah, pria itu malah terkekeh sinis. "Seberapa ingin pun kamu menolak, kamu tidak akan bisa lepas dariku, Ayra. Jangan lupakan surat perjanjian itu, sayang."
Tubuh gadis itu menegang mengingat surat perjanjian yang masih berada di tangan Bara. Sedangkan Bara, pria itu memungut cincin yang terjatuh di bawah kakinya, memakaikan cincin itu kembali di jari manis gadisnya.
"Perlu ku ingatkan lagi. Sejak dimana surat perjanjian itu di tandatangani, sejak itulah seluruh hidupmu adalah milikku."
Bara mendekatkan wajahnya di telinga Nayra. Berbisik pelan disana. "Kamu tidak ingin mantan pacarmu terluka kan?"
__ADS_1
Tubuh Nayra semakin membeku. Bak di guyur air es, Nayra diam tak berkutik saat Bara kembali membawa-bawa Evano.
"Jika kamu ingin mantan pacarmu selamat, maka kamu hanya perlu mengikuti perintahku."
"Kamu mengancamku?"
Bara menggeleng. "Tidak, aku hanya memberikan sedikit peringatan agar kamu tidak lagi menjauh dariku."
"Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, Bara. Tolong mengertilah." Nayra tidak tau lagi bagaimana caranya agar pria itu berhenti mengejarnya.
Bara medekap tubuh Nayra. Memeluknya dengan kedua mata terpejam. Menikmati. "Tunggu sebentar lagi. Aku akan menceraikan wanita itu, sayang." dalam dekapannya, Bara merasakan kalau gadis itu menggeleng pelan.
"Jangan gila, Bara. Dia istrimu. Wanita yang sudah melahirkan anakmu."
Bara mengangguk. Mengusap punggung Nayra, memberikan keyakinan agar gadisnya dapat bersabar sebentar. "Kasih aku waktu sedikit saja. Kamu hanya perlu menunggu, biarkan aku yang menyelesaikan semuanya." janjinya.
.
.
.
.
.
^^^Bersambung^^^
^^^Senin, 5 September 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...