Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Maafkan Aku


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


"Bu, bagaimana keadaan Evano?" Nayra menyerobot duduk di samping Bu Jasmin yang tengah menekuk wajahnya. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya memanjatkan doa kepada sang pencipta.


"Masih di dalem, Nay." jawab Bu Jasmin.


Nayra mencoba tersenyum, mengusap punggung Bu Jasmin seolah memberikan ketenangan. Guratan lelah di wajah itu membuat perasaan Nayra kian dilanda menyesal. Ia telah menodai hubungan dua keluarga, memutuskan hubungan dengan Evano disaat lelaki itu terbaring tak berdaya.


Bukankah ia wanita yang sangat kejam? Rela meninggalkan terkasih demi uang. Entah apa yang akan terjadi jika sampai Evano bangun, dan mengetahui semuanya.


"Nay." panggilan lembut itu membuat kepala Nayra menoleh menatap Bu Jasmin. "Kamu dapet uang sebanyak itu dari mana?"


Nayra terpengkur, pertanyaan itu membuatnya tak berkutik. Ia belum sempat untuk memikirkan alasan apa yang akan ia berikan.


"Maafin aku, Bu." sesal Nayra.


Bu Jasmin menatapnya curiga. Pikiran negatif sempat terlintas di pikirannya. Menjual diri? Tidak mungkin Nayra melakukan itu.


"Hilangkan pikiran kotormu, Bu. Aku tidak akan menjual diriku kepada lelaki manapun." dalam hati Nayra tertawa. Karena pada kenyataanya ia telah membohongi Bu Jasmin. Ia telah menjual diri dengan segepok uang.


"Aku meminjam uang kepada temanku, Bu." jelas Nayra seakan tau pemikiran Bu Jasmin.


Bu Jasmin menghela napas lega. Tersenyum, dan mengusap surai lembut Nayra. "Ibu tau kamu anak yang baik. Ibu percaya sama kamu, Nay." tak perlu alasan yang jelas, Bu Jasmin seakan mengerti bagaimana pengorbanan Nayra untuk Evano.


Nayra sendiri kini menatap lurus ke depan. Merasakan sapuan halus di rambutnya. Menenangkan sekali, seperti usapan lembut seorang Ibu kepada anaknya. "Setelah Evano sadar, tolong titipkan maafku padanya, Bu. Katakan padanya, jika aku telah memutuskan hubungan ini secara sepihak." setetes air matanya jatuh. Nayra tak sanggup menatap Bu Jasmin yang terkejut atas ucapannya barusan.


"Apa maksudmu, Nay?! Kamu mau meninggalkan Evano? Kamu mau pergi dengan lelaki lain yang lebih dari anak Ibu?" teriak Bu Jasmin. Sebagai seorang ibu dirinya merasa tak terima, anaknya ditinggalkan begitu saja disaat masih dalam keadaan kritis.


"Tidak seperti itu, Bu. Aku melakukan semua ini demi Evano." lirih Nayra pelan.

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu berbicara seolah-olah kamu akan pergi meninggalkan anak Ibu, Nay?!" jerit Bu Jasmin. Tatapan terluka Bu Jasmin sungguh membuat Nayra tak sanggup. Di peluknya wanita itu yang kini memberontak.


"Lepas!" sentak Bu Jasmin tajam.


"Dengarkan aku dulu, Bu. Semua ini aku lakukan demi menyelamatkan Evano. Uang yang secara cuma-cuma itu sebagai jaminan dari sebuah perjanjian. Sekarang tubuhku bukan lagi sepenuhnya milikku, tapi seseorang telah membeliku dengan jaminan menjadi istrinya."


Bu Jasmin menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana mungkin? Nayra rela mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk Evano. Tak peduli jika hati gadis itu terluka. Bu Jasmin menangis tergugu.


"Kenapa sampai harus sejauh ini, Nay? Kamu tidak seharusnya melakukan semua itu demi anak Ibu." ucap Bu Jasmin dengan tatapan nanar. Nayra mengapus air mata Bu Jasmin, mengusap pipi yang mulai keriput itu dengan lembut.


"Ini pilihanku, Bu. Aku mencintai Evano tulus dari hati, bukan sekedar omong kosong. Aku ingin melihat Evano kembali, melihat Evano dengan kebahagiaannya sendiri." Nayra mencoba tersenyum. Jika boleh jujur, hatinya menjerit sakit.


Merasa sesak saat sebesit bayangan hadir di pikirannya. Evano menikah dengan gadis lain, menikahi gadis pilihannya. Hidup berbahagia dengan di karunia anak-anak lucu.


Membayangkan semua itu sungguh tak sanggup. Nayra menggenggam jemari Bu Jasmin mencoba mengurangi kegelisahan dihatinya.


"Tolong jangan katakan siapapun, Bu. Termasuk Evano, biarkan semua ini berjalan semestinya. Jika memang sudah jodohnya, kita pasti akan kembali bersama." tersenyum meyakinkan.


"Maaf, maafkan Ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu berhutang banyak padamu Nay." dipeluknya erat Nayra yang kini menangis terisak. Tubuh Nayra bergetar mengeluarkan semua beban yang terpendam. Berat sekali rasanya, Nayra tak sanggup jika suatu saat ia di hadapkan dengan Evano dalam keadaan baik-baik saja.


.....


Bara tersenyum, membalas sapaan para pelayan di rumahnya. Tidak biasanya putra tunggal keluarga Matteo itu pulang dengan senyum cerah di bibirnya, karena biasanya Bara hanya mengeluarkan aura dingin dengan tatapan tajam setajam pisau.


Sang kepala keluarga pun terheran menatap ngeri putranya yang tersenyum layaknya orang bodoh. "Sepertinya anakmu sudah gila,...." celetuk Matteo kepada istrinya.


Sheila merasa tak terima, memukul lengan suaminya sampai terdengar ringisan kecil yang membuatnya puas.


"Dia juga anakmu kalo kamu lupa Math." timpal Sheila kesal. Matteo tertawa keras.

__ADS_1


Bara yang hendak menaiki lift terhenti saat mendengar suara gelak tawa, pria itu menoleh menatap kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang keluarga.


"Tidak biasanya kau pulang seperti ini, Bar." kata Matteo sesaat setelah melihat Bara ikut bergabung dan duduk di samping istrinya.


Matteo berdecak, menarik pinggang istrinya posesif saat dilihatnya Bara yang hendak memeluknya.


"Dad!" kesal Bara. Lalu menarik Sheila agar kembali mendekat. "Bara cuma kangen sama Mommy." gumam Bara sendu. Bak anak kecil yang tak di beri mainan, Matteo yang melihat drama anaknya mencibir kesal.


"Lepas, Math! Aku juga merindukan anakku." mendengar penuturan Sheila, Matteo dengan terpaksa melepaskan lilitan di perut sang istrinya. Tatapannya beralih menatap Bara yang kini tersenyum menang, anak sombongnya itu kini mengiring Sheila menuju lantai atas.


"Dasar anak tak tau di untung." gerutuan Matteo saat melihat istrinya hanya pasrah, terlalu memanjakan anak ya seperti itu.


"Opa." seorang bocah kecil berlari, Matteo dengan sigap mengangkatnya keatas pangkuannya. "Itu pasti Papa ya?" pertanyaan sang cucu membuat Matteo mengangguk semangat.


"Dev pasti kangen Papakan?" anak itu terlihat berpikir, lalu mengangguk malu-malu membuatnya gemas. "Sana susulin, Papa Bara juga kangen loh sama Dev." kata Matteo lagi.


Anak bernama lengkap Devano Andara Matteo itu berseru keras, melompat dari pangkuan sang Opa lalu berlari menyusul Papanya. Matteo yang melihat cucunya seriang itu tersenyum kecil, sudah lama sekali Matteo tak melihat Devano seperti itu.


^^^Bersambung.....^^^


...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


See you

__ADS_1


ranintanti


__ADS_2