
Nayra mengerjap pelan. Hal pertama yang dilihatnya adalah dua orang dengan pakaian pelayan sedang berdiri di sisi tubuhnya.
"Selamat pagi, Nona." sapa kedua pelayan itu.
Nayra memijit pangkal hidungnya saat tubuhnya di paksakan untuk bangun. "Kalian siapa?"
"Hari ini adalah hari spesial, Nona. Mari biar saya bantu anda bersiap."
"Tunggu." cegah Nayra. "Ini, dimana? Seingatku semalam aku berada di-"
Klub, Aeric, dan terakhir minuman. Lalu setelahnya Nayra tidak mengingat apapun.
"Jangan menghambat pekerjaan kami, Nona."
"Tapi, tapi- Hey! Aku mau dimana kemana?!" Nayra menjerit saat tiba-tiba kedua pelayan itu mengangkat ketiaknya hingga Nayra tidak bisa menapaki dinginnya lantai.
Mereka membawa Nayra masuk ke dalam kamar mandi.
"A-aku bisa sendiri. Hey! Jangan menyentuh ku! Sial siapa yang menyuruh kalian untuk memandikanku." umpat Nayra terus menerus. Nayra malu. Kedua tangannya tak bisa berontak karena di cekal oleh mereka.
__ADS_1
Kedua pelayan itu tak menggubris. Mereka sibuk memandikan Nayra.
"Hari ini adalah hari pernikahan Nona, tolong jangan menolak pelayanan dari kami, Nona. Kami hanya mengerjakan tugas sesuai apa yang di perintahkan Tuan."
"Aeric. Kalian pasti suruhan Aeric kan?!!" tuding Nayra mulai berontak. Ia tak mau menikah dengan lelaki hidung belang seperti Aeric yang sering pergi ke klub.
"Aku tidak mau menikah! Katakan pada Tuan mu aku tidak ingin menikah dengannya!"
Percuma. Semua teriakan dan pemberontakan yang Nayra lakukan semuanya sia-sia. Kedua pelayan itu seolah tuli dan terus mengerjakan pekerjaannya.
Kali ini Nayra tidak bisa melakukan apapun. Gaun pernikahan sudah melekat indah di tubuhnya. Berbagai perhiasan, serta pernak pernik di kepalanya sudah terpasang sempurna.
"Gaun pilihan Tuan memang tidak salah. Semuanya terlihat perfect, elegan, dan sangat cantik." puji wanita itu dengan raut puas saat melihat Nayra tampak begitu sangat cantik.
"Sebentar lagi pernikahanmu akan segera dimulai. Setelah waktunya tiba, akan ada yang menjemputmu untuk turun."
Setelahnya wanita yang mendandaninya itu pergi. Meninggalkan Nayra yang berkali-kali menghela napas kasar. Semua jendela yang berada di ruangan ini terkunci. Tidak ada lagi jalan keluar. Jalan satu-satunya hanya pintu. Tapi pintu itu sudah di jaga ketat oleh dua orang berbadan besar.
Nayra termenung di dalam. Jika akhirnya seperti ini, ia tidak mau menerima semua kekayaan Aeric begitu saja. Apartemen, mobil, ponsel. Ia menyesal menerima semua itu. Ia juga menyesal telah menuruti semua perkataan Kakaknya untuk menerima Aeric dalam hidupnya.
__ADS_1
Pintu tiba-tiba terbuka. Disana Farah berdiri, menyambut putrinya dengan senyum lebar. "Ayo, Nak. Suami mu sudah menunggu di bawah."
Nayra menyambut uluran tangan Bundanya dengan berat hati. "Bun, apakah sudah saatnya?" suara Nayra melirih. Ia seakan kehilangan seluruh tenaganya saat mendengar jika Aeric kini sudah menjadi suaminya.
"Iya, Nak. Sudah saatnya kamu turun."
Bukan. Bukan itu jawaban yang ingin Nayra dengar.
"Ayo, Nak."
Nayra mengangguk. Lalu keduanya turun beriringan. Di belakang sana ada Sarah. Kakaknya itu membantunya mengangkat gaun pernikahan yang panjangnya meluruh ke bawah lantai.
Sesampainya di lantai dasar Nayra dibuat terpukau dengan dekorasi yang sangat-sangat cantik. Setaunya ia akan menikah di resto, bukan di gedung hotel seperti ini. Semuanya nampak luar biasa. Para tamu undangan, serta beberapa stasiun tv datang untuk meliput. Banyak flash dimana-diama, sampai membuat Nayra menutup matanya sedikit karena tidak biasa dengan situasi seperti ini.
"Kamu sangat cantik."
Bak tersambat petir, tubuh Nayra langsung mematung di tempat. Suara itu. Suara yang tak asing di telinganya. Nayra mendongkak. Jantungnya bergemuruh melihat sosok tinggi tegap sedang tersenyum kearahnya.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1
^^^RABU, 6 Oktober 202^^^