
...Happy Reading ❤...
Dalam tidurnya, samar-samar jari jemari Evano mulai bergerak pelan. Bu Jasmin yang masih terjaga pun langsung berdiri setelah menyanggah kepala Nayra dengan bantal kecil. Menyelimuti gadis itu agar tidak kedingingan. Gadis itu sangat kelelahan, Bu Jasmin sampai tak tega melihatnya.
"Ugh." Evano kembali meleguh. Bu Jasmin dengan tergopoh mendekat.
"Vano." panggil Bu Jasmin. "Ayo buka matanya, Nak."
Bu Jasmin terus menyemangati. Pelan-pelan, mata itu kini mulai mengerjap, memandang bingung seperti orang linglung. Itu wajar, Evano baru saja melewati masa kritisnya.
"I-Ibu...ha_us." pinta Evano dengan suara seraknya.
Bu Jasmin segera mengambil minum di samping nakas. Sedotan kecil itu kemudian diarahkan ke mulut Evano sehingga pria itu langsung menyedotnya dengan pelan.
"Terikasih, Bu." ucap Evano yang mendapat anggukan dari Bu Jasmin. Setelah menyimpan gelas itu kembali di samping nakas, Bu Jasmin bergerak memencet tombol guna memanggil perawat atau dokter yang masih terjaga di tengah malam begini.
Tak membutuhkan waktu lama, karena Dokter Beni pun tiba-tiba saja masuk dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Bu Jasmin bergeser, memberikan ruang kepala Dokter Beni agar lebih leluasa dalam memeriksa Evano.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Dokter Beni sambil sesekali mengarahkan stetoskopnya.
"Badan sama kepala saya sakit, Dok." Evano berucap pelan. Hampir tidak memiliki tenaga walau sekedar berucap sepatah katapun.
Dokter Beni tersenyum. "Itu wajar, kamu baru saja mengalami kecelakaan dengan luka yang sangat serius. Kamu membutuhkan banyak istirahat untuk saat ini, jangan banyak bergerak dulu karena kamu baru saja bangun." jelas Dokter Beni.
Evano mengangguk mengerti. Setelah Dokter Beni pamit undur diri, tak sengaja matanya melihat seorang gadis sedang tertidur di sofa.
"Dia, Nayra." untuk sesaat Evano menoleh menatap Ibunya. Kemudian kembali menatap Nayra yang tengah tertidur pulas dengan jaket yang menyelimuti tubuh kecilnya. Itu adalah jaket miliknya.
Tanpa sadar Evano tersenyum membayangkan jika selama ini gadis itu selalu tertidur dengan jaket miliknya.
"Biar Ibu bangunkan, Nayra dulu. Dia pasti-"
"Jangan, Bu." sela Evano cepat. "Ini masih dini hari, biarkan Nayra istirahat dulu. Dia juga pasti kelelahan karena jagaian Vano."
"Kamu benar, dia sangat kelelahan nungguin pacarnya karena gak bangun-bangun." Bu Jasmin terkekeh, dibalas dengam senyum simpul oleh Evano. Kemudian Bu Jasmin merapihkan selimut tebal yang digunakan Evano. "Sebaiknya kamu juga kembali istirahat, Vano. Nayra pasti senang liat kamu bangun nanti."
"Ibu juga harus istirahat. Terimakasih, sudah jagain Vano, Bu."
Bu Jasmin mengangguk, mengecup pucuk kepala Evano dengan sayang. "Sama-sama, Nak." balas Bu Jasmin lembut. Lalu duduk di kursi, tepat di samping Evano yang kini mulai memejamkan matanya.
.....
Ting
Tong
Bunyi bel terus saja terdengar di indra pendengarannya. Bara bergerak malas dan kembali memeluk Devano. Biarkan saja, toh banyak pelayan di rumahnya yang pastinya akan membukakan pintu itu secara cuma-cuma.
Ting
Tong
Bunyi bel kembali terdengar. Bara mendesah frustasi. Menarik selimut, dan merapatkan tubuhnya dengan sang anak yang masih tertidur dengan damai.
Disisi lain, wanita yang baru saja pulang dari luar negeri itu terus-terusan menghubungi Bara. Lelaki itu tak kunjung mengangkatnya, membuat wanita itu mendelik kesal.
"Bara kemana sih? Istri pulang bukannya jemput, atau setidaknya bukain pintu. Ini malah tidak bisa dihubungi." ujar wanita itu yang tak lain adalah Devina Arasha.
Aktris dan juga modeling di negara orang lain. Rusia dan Korea. Karir yang sedang memuncak itu mengharuskan Devina meninggalkan anak dan suaminya. Meski di sibukkan dengan berbagai pekerjaan, Devina tidak pernah melupakan untuk kembali pulang ke rumah. Bagaimanapun ia adalah istri dan juga ibu dari anaknya.
__ADS_1
"Ck! Sebaiknya hari ini aku memesan hotel saja. Tidak ada yang mau membukakan pintu untukku. Para pelayan disini memang terlalu di manja, mereka semua menjadi pemalas seperti ini." Devina mencibir, kemudian berbalik pergi dengan menarik kopernya meninggalkan rumah besar bak istana milik keluarga Matteo.
.....
Adzan subuh telah berkumandang. Nayra yang masih tertidur perlahan mulai mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah dirasa nyawa nya sudah terkumpul, Nayra bangkit dan bergerak ke kamar mandi.
Ia harus mandi dan melaksanakan kewajibannya lebih dulu. Setelah itu ia akan mencari sarapan untuknya dan juga untuk Bu Jasmin.
Selepas melaksakanan kewajibannya, Nayra bergegas mendekati ranjang Evano. Disana ada Bu Jasmin yang tidur dengan posisi terududuk. Kepalanya bahkan menyamping dengan menggenggam tangan besar Evano.
"Pagi, kesayangan." setelah mengecup pipi Evano sekilas, Nayra kemudian bergerak mengambil dompet dan juga ponsel yang sejak kemarin berada di dalam tasnya.
Saat Nayra menyalakan ponsel guna untuk melihat jam. Ia malah terfokus pada ratusan notifikasi.
Calon suami?
Nayra mengerutkan keningnya bingung. Panggilan tak terjawab dari calon suami? Siapa?
Ah! Setelah dirasa ingat jikalau ponsel ini adalah pemberian Bara. Pastilah lelaki itu yang menelponnya sampe sebanyak 187 kali, dan 99 pesan yang belum terbaca.
Nayra mendengus kesal. Ia tidak ingin mendapat amarah lagi dari lelaki itu, jadi sebaiknya Nayra menghungi Bara dengan segera. Bukannya terhubung, Nayra malah mendengar suara operator di sebrang sana.
Tidak aktif.
Sudahlah, dari pada pusing memikirkan lelaki itu. Sebaiknya Nayra segera mencari sarapan diluar.
Sedangkan diatas ranjang. Mendengar pintu tertutup Evano diam-diam tersenyum. Membuka mata, dan mengusap pipinya yang tiba-tiba saja memanas setelah mendapat kecupan pagi dan sapaan sayang dari sang kekasih.
Evano memegang dadanya.
Jantungnya bahkan berdebar tak menentu. Kenapa gadis itu selalu saja membuat jantungnya senam pagi seperti ini? Ini masih pagi, dan gadis itu sudah membuat dirinya menjadi salah tinggkah.
Itulah janjinya. Evano tidak akan pernah menyia-nyiakan sosok perempuan seperti Nayra. Gadis penyayang dan lemah lembut itu telah memikat hatinya sejak pertama masa perkuliahan dulu.
Ah. Perasaan hangat itu kembali muncul saat bayang-bayang Nayra telah sah menjadi istrinya kelak. Namun belum sempat ia membayangkan masa-masa indah menikah, sebuah tangan tiba-tiba saja menempel di keningnya.
"Tidak panas. Tapi kenapa pas bangun malah jadi orang gila seperti ini?"
"Ibuuuu." Evano merengek. Menjauhkan tangam Ibunya. "Vano gak sakit, Bu. Tapi Vano abis mendapatkan rejeki nomplok dari kesayangan."
Bu Jasmin semakin dibuat bingung. "Maksud kamu apa toh? Ibu gak ngerti ini. Coba bicara yang jelas."
"Nih, Ibu lihat." Evano menunjuk-nunjuk pipinya. "Abis di cium Nayra." kemudian Evano terkikik geli menarik selimut untuk menutupi rasa malunya.
Bu Jasmin tertawa. "Kamu ini ada-ada saja Vano." ucap Bu Jasmin dengan menggelengkan kepalanya samar. "Yasudah, Ibu mau ke kamar mandi dulu, sebaiknya kamu kembali istirahat."
"Ibuuuu." macam bocah, Evano membuka kembali selimutnya. Menampilkan wajah imut dengan rengekan manja bak anak kecil. "Aku dari kemarin istirahat terus. Bosen Bu. Sekali-kali nanti Ibu bawa aku jalan-jalan keluar ya?" pinta Evano memelas.
"Kok mintanya sama Ibu? Sana minta sama kesayangankan mu." Bu Jasmin mendengus. Lalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Evano yang menganggukan kepalanya setuju.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka, Evano buru-buru menutup matanya kembali. Sebisa mungkin ia mengatur pernapasannya agar terlihat seperti orang tidur.
"Vano." panggilan itu pelan. Nyaris berbisik.
Setelah menyimpan sarapannya di atas meja. Kini Nayra langsung mendudukan tubuhnya di kursi yang tadi Bu Jasmin duduki.
Nayra menggengam jemari besar itu yang tidak sedingin sebelumnya. "Kamu kapan bangun sih? Aku kangen tau." Nayra terus mengecupi punggung tangan Evano berkali-kali. "Kamu gak tau apa yang aku rasain pas tau kamu kecelakaan. Aku khawatir Vano, aku takut kehilangan kamu." dan lebih takut jika aku benar-benar harus meninggalkanmu. Lanjut Nayra dalam hati.
__ADS_1
Sebisa mungkin Vano diam tak bergerak. Walau sudut bibirnya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Sudut bibirnya terus saja berkedut sejak tadi, tak tahan dengan suara-suara lembut Nayra. Ingin rasanya Evano tersenyum, dan merengkuh tubuh itu, tapi sebisa mungkin Evano tahan. Ia masih ingin mendengarkan apa yang akan Nayra sampaikan.
"Bangun Vano, kamu gak kangen apa sama aku?" Nayra membawa tangan besar itu kearah pipinya. Kepala yang sejak tadi menunduk itu perlahan mendongkak menatap Evano dalam diam.
"Loh? Evano tidur lagi, Nay?"
Detik itu juga Nayra menoleh manatap Bu Jasmin. Bersamaan dengan itu Evano langsung terbahak karena aktingnya sudah hancur jika dilanjutkan. Ke beradaan Ibunya memang menjadi mengacau dalam ekting kepura-puraanya.
"Ahk! Ibu menganggu acara romantis kami saja." dengus Evano kesal.
"Kamu-" Nayra melotot tak percaya saat melihat Evano perlahan mendudukan dirinya. Masker oksigen entah sejak kapan sudah terlepas dari hidung mancung lelaki itu.
"Apa?" tanya Evano santai.
"Kamu sudah bangun dari tadi?!!" pekik Nayra.
"Iyalah." jawab Evano sombong. "Kamu kapan bangun sih? Aku kangen tau. Kamu gak tau apa yang aku rasain pas tau kamu kecelakaan. Aku khawatir Vano, aku takut kehilangan kamu." Evano kembali menirukan suara Nayra. Senyum menggoda terus Evano layangkan kepada gadis itu yang kini melotot kesal.
"Yakh!!! Kamu mendengarkan semuanya?!!"
"Tentu saja. Rasanya sunguh menyenangkan sekali. Lihatlah, wajahmu langsung memerah seperti tomat, hahaha." gelak tawa itu mengudara.
Nayra memegang pipinya. "Berhenti mengejekku seperti itu Vano." jerit Nayra dengan mengusap pipinya yang semakin terbakar. Rasa hangat bahkan sampai menjalar di telapak tangannya.
"Kau tau, suaramu sangat imut saat mengatakan itu. Aku bahkan sampai manahan senyum agar tidak tertawa."
"Vanooo, ku bilang berhenti mengejekku." kesal Nayra dengan nada merengek. Urat malunya sudah mencapai ambang batas. Sampai-sampai Nayra menutup wajahnya yang semakin memerah.
"Vano, sudah, Nak. Lihat Nayra sudah sangat malu sampai menutup wajahnya seperti itu." Bu Jasmin terkekeh di sela-sela kegiatannya. Bu Jasmin sedang menyiapkan sarapan yang baru saja di beli oleh Nayra.
"Abisnya dia gemesin, Bu. Pengen bawa pulang, terus karungin buat Vano aja." ucap Evano kemudian menarik tangan Nayra agar tidak menutupi wajahnya. "Jangan seperti itu, aku ingin melihat wajahmu lebih lama, sayang."
Astaga. Nayra nyaris terbang mendengar panggilan sayang itu. Hatinya berdebar. Dengan pelan Nayra menurunkan wajahnya sehingga kedua mata itu langsung bertatapan dengannya.
"Kau tau, aku jauh lebih merindukanmu. Aku merindukan wajahmu, merindukan tawamu, dan merindukan tingkahmu. Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihat itu semua. Namun sekarang, kau disini, bersamaku. Jangan pernah meninggalkanku, Nay. Terimakasih sudah menunggu, dan merawatku dengan baik." Evano meraih jemari Nayra, mengecupnya dengan lembut.
"Vano." mata Nayra berkaca-kaca. Ungkapan tulus Evano membuat hatinya berdenyut nyeri. Bagaimana ini? Bagaimana dengan perjanjiannya bersama Bara? Bagaiaman jika waktunya tiba ia harus pergi meninggalkan Evano?
"Maaf." tanpa sadar bibir Nayra bergumam pelan. Nyaris tak terdengar. Setetes air matanya jatuh yang langsung diseka kasar olehnya.
^^^Bersambung^^^
^^^Minggu, 21 Maret 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Vote and coment...
...biar author makin semangat nulisnya....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
See you
__ADS_1
ranintanti