
...Happy Reading ❤...
Nayra baru saja menghabiskan sup ayamnya. Ia tidak mungkin membiarkan mangkuk kotor ini diletakan begitu saja. Nayra tidak tahan jika melihat sesuatu yang kotor. Ia pasti akan langsung membersihkannya.
Nayra mencoba membuka pintu. Tapi syukurlah, pintunya tidak terkunci. Suasa sepi adalah hal pertama yang ia lihat. Ruangan dengan cat berwarna abu-abu terlihat dominan. Tidak ada warna lain selain warna abu-abu dan dipadukan ukiran halus. Sangat cantik. Nayra bahkan iri melihat sekeliling ruangannya yang tertata sangat rapih. Berbeda sekali dengan rumahnya, walaupun rapi, tapi tidak serapih apartemen Bara.
Dengan dahi mengkerut, Nayra melangkah pelan mencari sosok lelaki itu. tidak ada Bara. Kemana lelaki itu pergi setelah mengantarkan sup ayam kepadanya?
Sup ayam nya bahkan sudah habis ia makan. Tetapi lelaki itu masih tak kunjung menampakan dirinya membuat Nayra ragu untuk semakin melangkahkan kakinya lebih jauh.
Ia akan mencuci mangkuk kotor ini. Tapi ia tidak tau letak dapurnya, sehingga dirinya hanya bisa berputar-putar di sekitar saja.
Nayra mencoba menuruni gundukan anak tangga. Dan benar, ia bisa melihat ruangan yang ia cari. Dapur. Setelah membersihkan mangkuk kotor itu, Nayra mengelap tangannya yang basah.
Suara deringan yang tidak asing di telinganya terdengar. Nayra mencoba mencari-mencari sampai ia menemukan benda pipih itu berada di atas meja, letaknya tak jauh dari tv. Deringan itu berasal dari ponselnya. Tanpa banyak kata lagi ia segera mengangkat telefon dari Bu Jasmin. Nomer yang memang sudah ia save semenjak Bara memberikan ponsel baru ini.
"Halo, Bu." ucap Nayra.
"Assalamualaikum dulu dong." suara di sebrang sana bukanlah suara Bu Jasmin. Melainkan suara yang memang saat ini sedang ia rindukan. Suara Evano.
"Maaf, aku lupa. Ulang lagi ya. Assalamualaikum, Vano." sapa Nayra lembut. Bibirnya melengkung keatas tersenyum cerah saat mendengar tawa kecil disana.
"Waalaikumsalam calon istri."
Suara itu lembut. Sangat lembut sampai menggetarkan relung hatinya. Pipinya memanas. Padahal ia hanya mendengar kata calon istri. Tapi efeknya sudah sampai seperti ini.
"Nay, kamu masih disana?"
Nayra mengerjap. Tanpa sadar kepalanya mengangguk pelan. "Iya, aku masih disini. Kenapa?"
"Kok kenapa? Gak ada alasan apapun buat aku telfon kamu, Nay."
"Vano, bukan itu maksudku. Kamu sedang sakit, harus banyak-banyak istirahat bukan malah telfon aku kayak gini."
"Kamu marah aku telfon kaya gini?"
Nayra mencengkram ponselnya erat. Suara di sebrang sana yang tadinya ceria perlahan berubah menjadi sangat pelan. Nayra tau, Evano pasti sangat tersinggung dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
"Tidak, maksudku-"
Sreeet
Ponsel yang berada di genggamannya melayang. Dan beralih ke tangan Bara. Lelaki itu merebut ponselnya secara tiba-tiba.
Sesaat Nayra tersentak. Menatap Bara terkejut. Hanya sekilas, karena Nayra dengan cepat kembali merubah raut wajahnya menjadi datar saat Bara dengan lancangnya mematikan panggilan itu secara sepihak.
Nayra mengeram kesal. "Kembalikan ponselku, Bara." pinta Nayra. Entah sejak kapan lelaki itu berada disini dan mendengarkan pembicaraannya dengan Evano.
"Bara, kembalikan ponselku." Nayra geram. Tubuh kecilnya medekat kearah Bara. Meraih ponselnya itu yang sayangnya terlalu tinggi. Bara. Lelaki brengsek itu mengangkatnya tinggi-tinggi sampai ia harus berjinjit untuk menjangkaunya. Bahkan, kedua tangannya sudah melingkar di tubuh Bara. Ia jadi terlihat seperti memeluk lelaki itu saat Bara terus saja menjauhkan ponselnya.
BRUK
Nayra terjatuh tepat di atas Bara. Untuk beberapa detik Nayra terpaku. Ia bisa merasakan detak jantung Bara yang berdegup sangat cepat. Bahkan kini, lelaki itu menatapnya dalam diam. Keduanya sama-sama terdiam dalam posisi seperti itu. Sampai akhirnya terdengar suara asing yang membuat Nayra dengan kikuk menjauhkan tubuhnya.
"Bara."
Bukan hanya Nayra yang menoleh, kini Bara pun ikut menoleh menatap wanita modis yang masih berdiri kaku di ambang pintu. Devina. Wanita itu mendekat, membantu Bara untuk kembali berdiri.
"Terimakasih." ucap Bara. Lalu tatapannya beralih menatap Nayra. Gadis itu kini menunduk, wajahnya terlihat memerah. Bahkan ponselnya entah sejak kapan sudah berada di genggaman Nayra.
"Ck! Ini urusanku, jangan ikut campur!" kesal Bara. Sedangkan Nayra perlahan mulai mendongkak, menatap balik mata sinis Devina.
"Nyonya, bolehkah saya pulang? Jam kerja saya telah habis beberapa menit yang lalu." ucap Nayra membuat Bara mengerutkan keningnya bingung. Jam kerja? Otak Bara seakan tidak mampu memproses apa yang dikatakan Nayra. Sebelum Devina kini mengangguk, dan menyuruh gadis itu pergi.
"Ya, pergilah." usir Devina. Ingat Devina bukan tipe pencemburu. Hanya melihat posisi Bara dan gadis itu yang saling tumpang tindih bukanlah masalah. Devina tidak marah. Bahkan ia bisa lebih dari itu jika sudah menyangkut dunia modelingnya. Dan Bara, lelaki itu tidak mempermasalahkannya sama sekali jika itu masih dalam batas wajar.
"Kalau begitu saya pamit, permisi." Nayra menunduk sekilas. Mengambil tas, kemudian beranjak pergi meninggalkan Bara. Nayra tidak ingin menerka-nerka hubungan keduanya. Ia hanya ingin cepat-cepat pergi, dan bertemu dengan Evano.
"Ayra." panggilan itu membuat Nayra menghentikan langkahnya. Kepalanya menoleh, menatap Bara penuh kebingungan. Akankah lelaki itu kembali menahannya pergi?
"Dibawah sudah ada seseorang yang akan mengantarmu pulang. Istirahatlah dengan cukup, dan maaf telah membuat keningmu terluka." lanjut Bara.
Nayra meraba keningnya. Ah benar. Baru kali ini Nayra mendengar kata maaf keluar dari bibir pria sombong itu. Dengan pelan Nayra tersenyum kecil. Dan kembali melanjutkan jalannya.
"Huft." Nayra menghela napas lega tatkala dirinya kini sudah bisa keluar dari ruangan itu. Suasa di dalam sana berbeda sekali, raut kemarahan Bara, di tambah dengan tatapan sinis milik wanita cantik itu membuat jantungnya berdebar tak menentu.
__ADS_1
Ini bukan debaran jatuh cinta. Melainkan debaran penuh keterkejutan. Ya. Nayra terkejut karena di pergoki seseorang. Apalagi dengan posisi yang tidak bisa dikatakan baik. Ugh. Nayra malu. Sungguh. Andai saja ia tak memaksa merebut ponselnya, mungkin saja ia tidak akan semalu ini saat bertemu dengan wanita cantik itu.
"Silahkan masuk, Nyonya."
Untuk sesaat Nayra mengerjap, menatap bingung seseorang yang dengan gagahnya membuka pintu mobil.
"Kamu siapa?" tanya Nayra.
"Perkenalkan nama saya Harri, supir pribadi Tuan Bara." jawab Harri sopan. Kepalanya bahkan menunduk sedikit untuk memberi hormat.
"Ah ya." Nayra baru ingat dengan ucapan Bara tadi. Namun sepertinya ia lebih suka menaiki angkutan umum ketimbang harus menerima tumpangan yang sama sekali tidak cocok dengannya. "Maaf, tapi sebelumnya saya sudah memesan ojek online." bohong Nayra.
"Batalkan. Itu perintah dari Tuan Bara langsung Nyonya."
Pria itu lagi. Nayra mengeram dalam hati. "Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja Nayra, aku juga bukan nyonyamu."
"Tidak bisa, itu tidak sopan. Mari, saya antar, Nyonya." Harri langsung menggiring wanita bosnya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Nayra sudah mencak-mencak dalam hati, merutuki dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauan lelaki itu. Bara. Pria arogan yang tidak mau mengalah sedikitpun kepada wanita. Dari pada memancing kemarahan Bara, lebih baik Nayra mencari aman saja dengan menuruti kemauan pria itu.
^^^Bersambung^^^
^^^Minggu, 4 April 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Vote and coment...
...biar author makin semangat nulisnya....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
See you
__ADS_1
ranintanti