Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Bangun


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Nayra meleguh. Mata yang tertutup itu perlahan mulai mengerjap menyesuaikan sinar yang masuk melalui matanya. Sebuah ruangan dengan dekorasi yang sangat elegan adalah hal pertama yang dilihat.


"Akhirnya, kamu bangun." detik itu juga Nayra menoleh. Menatap Bara yang kini berjalan mendekat dengan sebuah nampan di tangannya.


"Ini...dimana?" Nayra bertanya. Sesekali memijit keningnya karena pusing. Ada sebuah perban disana, Nayra meraba, hanya ingin memastikan jika keningnya ternyata benar-benar terluka.


"Di apartemenku." timpal Bara santai. Menyimpan nampan di samping nakas, lalu meraih mangkuk sup yang kemudian di sodorkan keaeah Nayra.


Nayra menatapnya bingung. "Aku tidak lapar. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang, Bara." belum sempat Nayra menurunkan kakinya. Geraman lelaki itu sudah membuat Nayra kembali urung, dan memilih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Aaa."


Terpaksa Nayra membuka mulutnya saat suapan pertama itu melayang kearah bibirnya.


"Good." ucap Bara senang.


"Jam berapa sekarang?" Nayra memutar matanya. Mencari letak jam yang sama sekali tidak terlihat di ruangan ini.


Bara menatap Nayra sendu. "Jam 4 sore."


"Kenapa aku pingsan lama sekali? Tidak. Ini tidak benar. Aku harus segera ke rumah sakit dan memastikan Vano." Nayra bergerak turun. Namun seakan tersadar, ia menatap Bara meminta izin.


Bara menggeleng. "Waktu yang ku berikan sudah habis, Ay. 1 minggu itu bahkan sudah lewat dari kemarin, dan kamu telah mengingkari janjimu."


"Tapi, Bara-"


Bara berdecak. Menyimpan mangkuk itu kembali di samping nakas. "Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi. Jika waktunya sudah tiba, maka tidak ada lagi perpanjangan waktu. Segera akhiri hubunganmu dengan lelaki itu, sebelum aku sendiri yang menyeretmu untuk mengakhiri hubunganmu itu."


Nayra mencengkram selimutnya. Matanya memerah menahan tangis dan amarah. "Bara aku mohon, Vano sedang membutuhkan aku sekarang. Dia_dia membutuhkan semangat dan juga dukungan dariku."


"Aku tidak peduli!" sentak Bara marah. Niatnya ingin meminta maaf karena telah membuat Nayra terluka. Bara malah kembali meledakan amarahnya, Evano, lelaki itu telah menjadi penghambat dalam hubungannya bersama Nayra.


"Jangan membuatku untuk bertindak kasar, Ayra." geram Bara yang kemudian bangkit meninggalkan Nayra.

__ADS_1


"Habiskan makananmu, dari pagi kamu belum terisi apapun." setelah ucapan itu selesai. Pintu kamar tertutup. Nayra mengepalkan tangannya. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa dirinya seakan tidak berdaya untuk meninggalkan Evano dalam keadaan lumpuh total seperti itu? Nayra tidak akan sanggup. Ia tidak sejahat itu.


....


"Sekertarisnya bilang jika Bara belum kembali sejak jam istirahat kantor. Kemana lelaki itu pergi." Devina mendadak khawatir. Pesta yang baru saja selesai dilaksankan itu sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu.


Alice dan Rizky pula sudah pergi setelah mengantarnya pulang. Devina tidak akan memusingkan kedua sejoli itu. Ia hanya ingin mengetahui kemana suaminya pergi sampai selama itu?


"Mommy." panggil itu membuat Devina menolah. Menatap anaknya lembut.


"Kenapa sayang?" tanya Devina.


Anak itu menggeleng. Kemudian duduk di sampingnya. "Mommy lagi nungguin Papa Bara ya?"


Devina tersenyum. Kemudian mengangguk pelan. "Papa Bara belum pulang. Dev tau gak Papa Bara pergi kemana?" tanya Devina yang mendapat gelengan lemah dari anaknya.


Devina menghembuskan napas kasar. Sepertinya percuma juga bertanya kepada anak kecil yang tidak tau menahu. "Dev masuk gih. Mandi, terus makan ya. Mama mau pergi dulu sebentar."


"Mommy pergi lagi? Dev mau ikut aja kalo gitu." bibir anak itu cemberut.


Devina terkekeh singkat. "Mommy gak pergi, sayang. Mommy mau bicara dulu sama Nenek sebentar hm?"


"Jangan lama-lama, Mommy. Dev tunggu di dalam."


"Siap, captain." ucap Devina. Lalu beranjak pergi ke taman belakang. Ibu mertuanya pasti sedang menyiram bunga di jam-jam seperti ini.


"Mom." panggil Devina setelah sampai dan melihat Sheila tengah duduk santai dengan secangkir teh dan cemilan.


"Vina, sini Nak duduk. Temenin Mommy."


Devina tentu saja menurut. "Mommy lagi apa? Gak sibuk? Vina cuma mau tanya sesuatu."


Shila menaruh cangkirnya pelan. "Tanya apa? Sepertinya sangat penting sampai kamu menyusul Mommy disini."


Devina tertawa. "Tidak sepenting itu Mommy. Vina hanya ingin bertanya mengenai Bara. Sejak istirahat Bara belum juga kembali ke kantor. Mommy tau Bara dimana?"

__ADS_1


"Anak itu." geram Shila. "Biar Mommy telfon-"


"Ponsel Bara rusak, Mom." sela Devina cepat.


"Kamu lagi ada masalah apa sama Bara?"


Devina mengerjap. Pertanyaan tiba-tiba dari ibu mertuanya membuat Devina termenung. Memikirkan kesalahan-kesalahan apa yang ia lakukan kepada Bara.


Banyak.


Banyak sekali. Sampai lelaki itu enggan untuk menoleh kepadanya. Tapi Devina hanya diam. Kepalanya menggeleng samar. "Tidak ada masalah apapun, Mom. Bara hanya sedang kesal saja masalah pekerjaan. Makanya aku tanya barangkali Mommy tau kemana Bara pergi."


"Tidak Mommy tidak tahu kemana anak itu pergi." Sheila kembali meraih cangkir tehnya. Menyesapnya pelan.


"Ah, mungkin Bara sedang berada di unit apartemen nya. Bisanya anak itu akan beristirahat disana karena letaknya tidak jauh dari kantor." ucap Sheila.


"Yasudah aku pergi ya, Mom. Titip Devano sebentar. Aku hanya ingin memastikan Bara saja." Devina mengecup pipi Sheila singkat. Kemudian langsung mengacir pergi meninggalkan Sheila yang mendengus kesal melihat kelakuan menantunya.


^^^Bersambung^^^


^^^Kamis, 1 April 2021^^^


...Jangan lupa!...


...Vote and coment...


...biar author makin semangat nulisnya....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


...Ily 💕...

__ADS_1


See you


ranintanti


__ADS_2