
...Happy Reading ❤️...
Mobil yang di kendarai Eros telah berhenti di kediaman keluarga Matteo. Ketiga pria itu masih tidak ada yang berani untuk turun lebih dulu. Anak dari pemilik rumah tersebut malah asik berselancar dengan ponselnya.
"Udah Bar, jangan di pandangan terus. Ini udah nyampe, mending lo turun gih." Rizky menyuruh Bara untuk segera turun dari mobil.
"Lo gak mampir?" tanya Bara dengan mengantongi ponselnya. Rizky dan Eros serentak menggeleng. Meski rumah Bara layaknya istana, tapi Rizky dan Eros seakan mengerti jika ini sudah terlalu malam untuk dikatakan bertamu.
"Yakin lo pada gak mau nginep?"
Lagi mereka menggeleng. "Enggak, Bar. Mental gue belum kuat buat ngadepin Bokap lo lagi." jawab Rizky sekenanya. Teringat dulu bagaimana Om Matteo memarahinya perihal kasus yang Bara buat. Padahal jelas-jelas Bara sendiri yang salah, tetapi malah dia yang kena masalah.
"Gue juga masih harus balik ke sana, banyak kerjaan, Bar." sambung Eros.
"Yaudah, gue masuk dulu."
BRAK
"Wuihhh, masnya gak bisa santai." Rizky mengelus dada melihat bagaimana Bara membanting pintu mobilnya.
"Untung bukan mobil gue." lanjut Rizky bergumam pelan. Meski pelan, Eros masih dapat dengan jelas mendengarnya.
Eros mendengus. "Lo mau pulang atau mau balik ke klub?"
"Balik ke klub lah. Gue mah pantang pulang sebelum dapet cewe." seru Rizky semangat.
....
Bara membuka pintu dengan pelan. Suasana yang gelap menyulitkan Bara untuk melihat sekeliling. Baru saja kakinya melangkah masuk, tiba-tiba ruangan yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang.
"Inget pulang juga ternyata." suara itu membuat Bara mendongkak. Disana, Daddy nya tengah berdiri di gundukan teratas anak tangga.
Bara berdehem. Dia sama sekali tak berniat membalas ucapan itu. Dia lelah. Ingin cepat-cepat sampai kamar dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Gadis itu-"
"Jangan pernah sekalipun Daddy meyentuhnya." sela Bara cepat. Bara tau betul bagaimana sikap keras Daddy-nya.
"Sejak kapan kamu menjadi brengsek seperti ini, Bara?" Matteo melanjutkan langkahnya, menuruni gundukan anak tangga untuk sampai di hadapan putranya.
"Sejak Daddy paksa aku buat nikah sama Devina."
__ADS_1
Bugh
Matteo menggeram. Tanpa di duga, dia melayangkan pukulan yang langsung membuat anaknya jatuh tersungkur.
"Bangun kamu!" sentak Matteo sembari menarik kerah baju putranya. Tarikan itu membuat Bara tercekik.
"Kalau kamu tidak berbuat salah, Daddy juga tidak akan memaksa kamu untuk menikah. Devina hamil. Dan itu anak kamu. ANAK KAMU BARA!" teriak Matteo keras sampai urat di sekitar lehernya terlihat sangat jelas.
Bara mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Dia pasrah menerima semua perlakuan Daddy-nya tanpa niat membalas.
"Dia bukan anak aku." kata Bara yang membuat Matteo semakin kalap. Pria paruh baya itu kembali melayangkan pukulannya secara bertubi-tubi.
Bugh
Bugh
Bugh
"Mas, berhenti!!!"
Teriakan itu membuat Matteo mematung. Ingin sekali Matteo menghabisi wajah putranya sekarang juga. Matteo tak habis pikir bagaimana dia bisa mempunyai anak seperti ini. Padahal semasa muda dulu, dia tidak seperti Bara, yang menganggap sebuah pernikahan hanya sebuah mainan semata.
Matteo menghempas tubuh putranya. Bara langsung terkapar. Sheila dengan langkah tergesa berlari menuruni anak tangga.
Sesampainya di hadapan suaminya Sheila melayangkan sebuah tamparan. "Apa yang baru saja kamu lakukan?!!" jerit Sheila dengan wajah memerah. Wanita paruh baya itu sudah menangis melihat suaminya yang baru saja memukul darah dagingnya sendiri.
"Aku hanya sedikit memberikan pelajaran." sahut Matteo dengan napas memburu. Dia berbalik pergi, mengabaikan Sheila yang sedang membantu putranya untuk kembali berdiri. Sebelum benar-benar pergi, Matteo kembali menatap putranya tajam. "Besok pagi, Daddy tunggu kamu di ruang kerja."
Bara hanya mengangguk saja.
"Mas." protes Sheila yang tak habis pikir. Sebenarnya apa yang sedang terjadi diantara mereka. Sheila dibuat bingung dengan keadaan ini. Untung saja Sheila datang tepat waktu, jika tidak, mungkin saja Bara sudah benar-benar akan berakhir di rumah sakit.
"Opa jahat hiks,,, kenapa Opa pukul Papa?" suara anak kecil membuat Sheila juga Bara menoleh, menatap Devano yang tengah manangis di bawah tangga. Wajah anak itu memerah, dengan plester demam yang masih melekat di keningnya.
Devano berlari menyusul Opanya, anak itu menarik baju tidur yang di kenakan Matteo, memukul-mukul punggung Opanya dengan marah. Davano tak terima melihat Papa Bara di pukul seperti, jadilah anak itu membalas pukulannya.
"Opa jahat! Opa pukul Papa-nya Dev!" pekik Devano.
Matteo menghembuskan napas kasar. Kemudian berbalik, mengangkat tubuh kecil Devano. Tentu saja anak itu langsung memberontak yang membuat Matteo kembali menurunkannya.
"Dev, dengerin Opa dulu."
__ADS_1
"Gak mau! Opa jahat! Opa pukul Papa sampai berdarah-darah." ucapnya dengan segukan. Matteo menatap istrinya, meminta bantuan.
Sheila mendekat, menarik cucunya pelan. "Dev, sayang, udah ya jangan nangis." dengan lembut, Sheila berusaha melepaskan tangan Devano yang mencengkram baju suaminya. Tangan anak itupun mengepal, membuat Sheila mau tak mau berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang cucu.
"Lepas ya? Kita obatin luka Papa Bara aja gimana? Liat tuh, Papa Bara liatin Dev terus dari tadi."
Devano melihat kearah Bara. Dengan masih cegukan, akhirnya Devano mengangguk kecil.
Sheila mengusap pipi cucunya yang berlinang air mata. Kemudian Sheila menuntun anak itu, dan pergi meninggalkan Matteo yang mengusap wajahnya kasar.
Kenapa cucunya bisa berada disini, dan melihat semuanya? batin Matteo frustasi.
Kembali dengan Sheila, wanita itu mendudukan cucunya di sofa, dan bergerak mengambil kotak P3K yang berada di atas lemari.
"Papa, sini." ajak Devano. "Biar Dev yang obatin Papa ya?" saat Devano menyentuh pipi Bara. Bara dengan kesal menyentakan tangan kecil itu.
"Jangan di pegang." tandas Bara tajam.
Sesaat Devano terperanjat kaget. "Papa." gumam Devano sedih yang mendapatkan penolakan dari Sang Papa.
Bara mendengus. "Bara ke kamar, Mom."
"Tapi luka kamu harus di obatin dulu Bara." sahut Sheila yang sudah datang dengan mambawa kotak P3K.
"Biar Bara sendiri aja." kata Bara sembari merebut kotak P3K di tangan Mommy-nya.
Sheila menghela napas kasar melihat Bara yang berlalu pergi. Lalu tatapannya beralih menatap cucunya. Mata anak itu berkaca-kaca. Sheila yang tega pun memeluk cucunya erat.
"Oma, kenapa Papa gak mau sama Dev? Papa marah ya sama Dev?" tanya Devano beruntutan.
Sheila segera menggeleng. "Papa gak marah, Papa cuma gak mau buat Dev khawatir, makanya Papa gak mau di obatin sama Dev."
Devano hanya mengangguk lucu.
Sheila yang melihat pun hanya tersenyum pedih.
^^^Bersambung....^^^
^^^Sabtu, 21 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....