
...Happy Reading ❤...
Mendengan pernyataan Nayra membuat jantung Bara berdegup sangat keras. Ucapan itu seperti memberikan penolakan tegas kepadanya. Bara menggeleng samar. "Kamu tidak akan bisa melakukan itu, Ayra. Semua perjanjian yang baru saja kamu tanda tangani adalah penyerahan hak atas dirimu yang sekarang paten menjadi milikku." ucap Bara pongah. Terlihat sekali aura kebesaran nya mengguar di dalam ruangan ini, tak ada yang bisa Nayra lakukan saat tindakan yang akan merugikan dirinya terlintas di benaknya.
Dengan menyentakan kedua tangan Bara yang masih tersampir di pundaknya Nayra berlari kecil menjangkau figura yang berada di samping nakas. Nayra meraihnya dengan kasar, menghempaskan figura itu hingga hancur berkeping di atas lantai.
Itu adalah fotonya kala sewaktu SMA dulu Bara memaksanya untuk berpose bersama di acara perpisahan. Dirinya memang terlihat cantik disana, tapi senyum paksalah yang memang tersampir di bibir itu karena desakan Bara yang menyuruhnya untuk tersenyum.
Bara masih mengawasi setiap gerak gerik Nayra yang membuatnya jantung berpacu lebih cepat. Kaki cantik itu perlahan memundurkan langkahnya membuat Bara cemas menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"APA YANG KAMU LAKUKAN, AYRA!!!" teriakan Bara menggelegar saat melihat Nayra malah melepaskan alas kakinya hingga kaki itu kini bertelanjang dan hendak menginjak pecahan kaca itu.
"Kamari, Ayra." ucap Bara dingin, emosinya kini bercampur menjadi satu. Rasa takut, khawatir, gelisah seakan mengaduknya terus menerus dan menginginkan dirinya menyerah kepada gadis itu.
"Tidak, sebelum kau mengizinkan ku pergi." timpal Nayra yang kembali melanjutkan langkahnya untuk segera menginjak pecahan itu. "Shhh." tusukan kaca itu telah menembus telapak kakinya membuat Nayra meringis ngilu.
"AYRA!" teriak Bara frustasi. Tubuhnya yang hendak menerjang Nayra kembali diurungkan saat gadis itu malah berteriak histeris kala di dekati.
"JANGAN MENDEKAT." Nayra semakin memundurkan tubuhnya kala melihat lelaki itu mendekat. Kakinya bergerak mundur sebanyak dua langkah menjauhi Bara, hingga kini dirinya berada di tengah-tengah pecahan kaca itu.
Bara mengeram marah melihat tindakan bodoh Nayra yang melukai dirinya sendiri demi bertemu lelaki itu. "FINE! Oke oke aku beri waktu tiga hari untuk kamu bertemu dengan lelaki itu." ucap Bara dengan terpaksa. Ada perasaan cemburu dan tak rela saat mengucap kalimat itu.
"Seminggu, pliss." pinta Nayra memohon. Tiga hari tidak akan cukup untuk melihat perkembangan Evano sampai memastikan lelaki itu benar-benar sembuh.
"Lima hari atau tidak sama sekali." final Bara yang tak mau bernegosiasi lagi. "Sekarang diam disitu, dan jangan bergerak." lanjut Bara yang kemudian mendekat dan meraih Nayra ke dalam gendongan nya. Terlihat bercak darah di atas lantai itu saat Bara mengangkat Nayra dan mendudukan nya di sofa.
"Kamu tidak perlu melakukan ini." Nayra berusaha melepaskan kakinya yang terluka dari cengkraman Bara yang tengah memeriksa lukanya.
"Jangan lakukan itu lagi. Kamu membuatku takut, Ay." ucapan lelaki itu terdengar pelan di telinganya. Nayra menatap Bara yang terduduk lemas di bawah kakinya.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke rumah sakit." belum sempat Nayra berdiri, Bara sudah lebih dulu memegang pundaknya. Hingga dirinya kini kembali terduduk.
"Biar aku yang antar, tapi biarkan aku mengobati lukamu lebih dulu." tanpa menunggu persetujuan, Bara berlari ke dalam kamar dimana kotak obat itu di letakkan di lemari kaca. Hanya beberapa detik, lelaki itu tengah kembali dengan kotak kecil yang berada di tangan nya.
Nayra menatap lelaki itu dalam diam, ringisan kecil kadang meluncur dari bibirnya kala kapas alcohol itu membersihkan lukanya. "Kau tidak perlu mengantarku, aku bisa memesan ojek online- Awhh sakit!!" kesal Nayra saat lelaki itu dengan sengaja menekan lukanya.
"Dan membiarkan mu dibonceng dengan lelaki yang tak di kenal? Apalagi ini sudah malam. Tidak akan ku biarkan." sentak Bara masih menunduk untuk membalut luka itu dengan kassa. Walau hanya sebelah kaki saja yang terluka, tapi tetap saja perasaan takut dan khawatir lebih mendominasi melihat gadis pujaan hatinya terluka seperti ini.
"Terimakasih." ucap Nayra tulus. Bara mengangguk singkat, lalu menurunkan kaki Nayra dari atas pahanya. "Jangan terluka lagi, Ay. Berjanjilah padaku." pandangan Bara menatap lurus ke depan, dimana Nayra pun kini membalas tatapannya.
"Aku tidak bisa berjanji. Peristiwa kecelakaan atau meninggalnya seseorang tak dapat di prediksi, Kak." ucap Nayra pelan. "Tapi,,,, aku akan berusaha. Semua itu tergantung bagaimana kamu bersikap." lanjut Nayra kemudian berdiri dan meraih tasnya. Meninggalkan Bara yang menatap punggung kecil itu dengan nanar. Perasaan nya tetap sama, tak pernah terbalaskan. Gadis itu selalu menjauh saat dirinya berusaha untuk mendekat.
"Buka Pintunya!"
Bara seakan tersadar mendengar teriakan itu. Ia buru-buru bangkit dan meraih kunci mobil yang berada diatas meja. Selanjutnya ia pun menyusul Nayra yang tengah menunggunya di depan pintu.
Saat pintu sudah terbuka, Bara dengan cepat meraih tubuh Nayra ke dalam gendongan nya. Terlihat gadis itu memekik kaget saat tubuhnya di bawa melayang oleh Bara.
"Diam. Kamu akan terjatuh jika terus bergerak seperti ini." Bara berucap datar.
Nayra mengalah, ia mendadak terdiam. Tidak ada yang bisa Nayra lakukan selain menuruti perkataan Bara jika dirinya ingin cepat-cepat sampai di rumah sakit.
"Good girl."
.....
"Terima kasih sudah mengantarku." Nayra bergerak hendak membuka pintu, tapi cekalan di lengannya kembali mengurungkan niat. Nayra menatap Bara yang juga menatapnya. Lelaki itu hanya diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk ia pahami.
"Kenapa?" Tanya Nayra bingung.
__ADS_1
"Ingat batasanmu, Ay. Sekarang kamu adalah milikku. Aku berbaik hati memberikan waktu satu minggu untuk kamu merawatnya. Setelah itu, jangan harap kamu bisa bertemu lagi dengannya." Bara berucap dingin. Lelaki itu memiringkan tubuhnya, menatap Nayra dalam-dalam.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku Kak."
Mendengar kesungguhan dari ucapan Nayra, Bara mengangguk singkat. Ia pun mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening Nayra begitu lama. "Aku akan menghubungimu, selalu."
Detik itu juga Nayra menutup matanya. Hatinya berdenyut sakit, rasa-rasanya ia telah mengkhianati Evano. Menodai cinta yang telah lama terjalin.
"Aku pergi." Nayra menjauhkan tubuhnya. Membuka pintu mobil dan keluar dengan tergasa. Tanpa menoleh kembali, Nayra langsung berlari meninggalkan Bara yang termenung di dalam mobil.
Bara masih menatap Nayra, sampai sosok itu menghilangpun Bara masih setia menatapnya. raut gelisah, dan khawatir terlihat jelas di wajah Nayra, mengingatnya saja Bara mengeram kesal.
Kenapa harus Nayra? Kenapa Nayra selalu menolak cintanya? Tidakkah seharusnya Nayra bangga bisa dicintai oleh pengusaha muda seperti dirinya? Oke sepertinya Bara terlalu narsis jika menyangkut gadis itu.
Harusnya Bara tak perlu khawatir. Kekuasaan yang dimiliki jauh lebih besar ketimbang lelaki yang dicintai Nayra. Lelaki biasa, lelaki yang hanya beruntung mendapatkan cinta Nayra.
Bukankah cinta akan datang karena terbiasa? Semoga saja. Bara berharap suatu saat Nayra akan membalas cintanya. Tak peduli jika memakai cara licik sekalipun, asal Nayra bisa menjadi miliknya.
^^^Bersambung.....^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
See you
__ADS_1
ranintanti