
...HAPPY READING ❤️...
Tubuh Bara diam terpaku melihat sosok anak kecil terogok tak berdaya. Kedua mata anak itu tertutup. Keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Darah mengucur di sekitar kepala juga hidungnya.
Di belakang sana Sheila menjerit, menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Devina sudah menangis terisak..Tubuhnya merosot, beruntung ia bisa berpegangan pada tembok.
"Minggir. Minggir. Pasien sedang dalam keadaan darurat. Tolong yang menghalangi jalan dimohon menyingkir sebentar." suster juga dokter mendorong brankar dengan tergesa.
Bara segera menyingkir, memberikan jalan untuk para tim medis melakukan tindakannya.
"Devano. Devano. Devano." Devina terus meracau.
"Mas, itu Devano. Cucuku, Mas." Sheila menunjuk keberadaan Devano. Anak itu sedang terluka, kecelakaan yang di maksud adalah cucunya sendiri.
"Iya, kamu tenang ya." Matteo mencoba menenangkan.
Langkah kakinya pelan, meuntun Sheila yang ingin menyusul Devano.
Bara juga ikut menyusul. Sama halnya Devina, ibu satu anak itu merasa bersalah karena ke lalaiannya, Devano terluka, anak sekecil itu ia tinggalkan di jalanan. Astaga. Apa yang baru saja dia lakukan sampai membuat anaknya seperti ini. Ini salahnya, tidak seharusnya ia terus-terusan bertengkar dengan Reynald disaat ada Devano yang menyaksikan pertengakran mereka, pantas saja ia sempat melihat anaknya itu berlari, dan bersembunyi di belakang mobil.
"Sus, izinkan saya masuk. Saya Mamanya." Devina menahan pintu ruangan yang hendak di tutup oleh Suster.
"Maaf, Bu. Sesuai peraturan rumah sakit, keluarga pasien dilarang masuk, demi kelancaran para Dokter menangani pasien."
Setelah itu pintu ruangan benar-benar tertutup. Devina sudah jatuh terduduk, merutuki kebodohannya. Percuma juga ia menangis, karena semuanya telah terjadi. Anaknya terluka karena kelalaiannya.
Sheila yang melihat menantunya seperti itu, melangkah mendekat. Wanita paruh baya itu menuntun Devina untuk duduk di kursi tunggu.
"Jangan duduk di lantai, Nak."
"Mom."
"Iya, ini Mommy. Duduknya di kursi yuk. Kalo di bawah dingin."
Devina menurut.
"Ini diminum, tenangin diri dulu, jangan sampai kamu kenapa-napa. Ingat, ada dedek bayinya disini." Sheila menyerahkan sebotol air mineral yang langsung di terima oleh Devina.
"Iya, Mom." Devina meneguk minumannya. Hanya beberapa tegukan, karena dirinya memang tidak haus.
__ADS_1
Selang setengah jam, suara pintu terdengar. Devina juga Sheila mendekat kearah Dokter yang sedang melepaskan maskernya.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Pasien mengalami pendarahan di bagian kepala. Karena stock darah di rumah sakit ini tidak cukup, jadi kami membutuhkan golongan darah yang sama dengan pasien. Apakah keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Ada, Dok. Ada." Sheila menunjuk keberadaan Bara. Pria itu rupanya sedang terduduk dengan kepala menunduk.
"Bara, Nak, kamu harus mendonorkan darahmu untuk anakmu."
Tanpa menunggu persetujuan Bara, Sheila langsung menarik putranya. Bara hanya pasrah. Dia diam saat di boyong masuk kedalam ruangan yang sama dimana Devano telah di rawat.
"Sudah, jangan berdiri terus, sebaiknya kamu duduk. Ingat kata Dokter, jangan kecapean, apa lagi kamu juga baru keluar dari rumah sakit." Matteo menasehati. Sheila mengangguk paham dan duduk di samping Devina. Menantunya itu terlihat acak-acakan, tatapan matanya pun kosong.
"Vina." panggil Sheila.
Devina menoleh, beradu tatap dengan mata Sheila untuk beberapa detik. Lalu setelahnya, Devina berhambur memeluk Sheila.
"Ini semua gara-gara aku, Mom. Anakku celaka karena aku gak becus jaga anakku sendiri."
"Sttt, jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Ini adalah pelajaran untukmu agar kamu belajar menjadi sosok Ibu yang baik. Kita berdoa sama-sama ya, buat keselamatan Devano." ucap Sheila menenangkan.
Bara keluar disusul dengan seorang Dokter di belakangnya.
"Bagaimana? Golongan darah kamu sama kan sama Devano?"
Bara menggeleng menjawab pertanyaan Mommy nya.
"Gologan darahnya berbeda dengan golongan darah pasien. Jika golongan darah pasien adalah B, maka golongan darah Pak Bara adalah A."
"A-apa? Bagaiamana mungkin? Jelas-jelas Bara adalah Papanya, coba Dokter cek lagi di dalam. Pasti ada kekeliruan."
"Mohon maaf, Bu. Memang seperti itu hasilnya, golongan darah mereka berbeda."
Sheila menunduk lesu.
"Biar saya saja Dok, yang mendonorkan darahnya." Devina maju. Sheila menggangguk menyetujui.
"Benar, darah Devano pasti sama kaya kamu, Nak." setidaknya Sheila merasa lega. Masih ada Devina. Pasti darahnya cocok.
__ADS_1
Selang beberapa menit. Devina keluar. Tatapannya kosong, nyaris putus asa.
"Bagaimana?"
Devina menunduk. Kepalanya menggeleng tak tau. "Darah Vina gak cocok, Mom."
"A-apa?!! Bagaimana bisa diantara kalian tidak ada yang cocok?!!" Sheila nampak frustasi.
"Itu karena Devano adalah anakku Nyonya Matteo yang terhormat." Reynald muncul dengan stelan jas kantornya. Pakaian pria itu terlihat acak-acakan dengan dasi yang melonggar, dan dua kancing teratas terbuka, sampai menampilkan otot dadanya.
Sheila shock. Tubuhnya hampir ambruk, jika Matteo tidak menahannya di belakang "Gak. Gak mungkin."
"Itu gak mungkin, Mas." Sheila menangis. Masih tidak terima jika cucu kesayangannya adalah anak orang lain, bukan anak dari putranya.
"Vina, Vina, coba bilang sam Mom, Nak. Devano itu anaknya Bara kan?"
Bukannya menjawab, Devina malah menangis terisak. "Maaf, Mom."
Detik itu juga Sheila kehilangan kesadarannya. Matteo panik. Dengan segera Matteo mengangkat istrinya. Sedangkan Bara menyeret Reynald mendekat kearah Dokter.
"Ambil darahnya sebanyak mungkin, Dok." Bara mendorong Reynald sampai pria itu tersungkur di bawah lantai. Lalu tatapan nya beralih menatap Devina tajam. "Jelaskan semuanya, Vina. Kalo sampai terjadi apa-apa pada orang tuaku, kamu yang lebih dulu aku cari." ancam Bara lalu pergi menyusul Matteo.
Devina jatuh terduduk. Tubuhnya lemas. Semuanya sudah terbongkar. Kebusukannya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat, akhirnya sudah di ketahui oleh semua orang. Tidak ada lagi harapan. Devina menangis. Meratapi kehidupannya yang tidak pernah berpihak baik kepadanya.
.
.
.
.
.
^^^Bersambung^^^
^^^Jum'at, 1 Oktober 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...