Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 33


__ADS_3

Happy Reading ❤️


"Bagaimana keadaan Nayra?"


Dari arah barat Rizky bisa melihat Bara berlali kearahnya. Penampilan pria itu terlihat acak-acak. Baju basah yang di keluarkan, dasi yang asal menggantung, bahkan beberapa kancing bajunya sudah terlepas dari tempatnya.


Rizky menggeleng takjub. Ternyata pesona Nayra mampu membuat seorang Bara Matteo bertekuk lutut seperti ini. Dari sorot matanya Rizky bisa melihat ke khawatiran di mata itu.


"Dia hanya kelelahan. Dokter juga bilang darahnya sangat rendah, tapi lo gak usah khawatir, keadaannya masih aman kok. Setelah infusannya habis, dia juga udah diizinkan pulang." ucap Rizky menjelaskan.


Bara menghembuskan napas lega. Setelah mendapat kabar kalo Nayra berada di rumah sakit, jiwanya seakan dilepas paksa, tubuhnya lemas, jantungnya bahkan sampai berdegup cepat.


"Kalo lo masih khawatir, lo bisa liat ke dalem." Eros menepuk pundak Bara, mencoba menenangkan ke khawatiran sahabatnya itu.


"Gue masuk." ucap Bara sembari berjalan memasuki ruangan dimana Nayra dirawat. Sedangkan keduanya sahabatnya hanya mengikuti di belakang.

__ADS_1


Bara duduk di samping Nayra. Eros dan Rizky duduk di sofa di ujung ruangan.


Bara menatap wajah pucat itu. Menggenggam tangan kecil Nayra, dan mengecupnya pelan. Kerinduan yang selama ini dia rasakan terbayar sudah. Jantungnya kembali berdebar, debaran yang beberapa hari terakhir ini hilang, kini sudah kembali.


Nayra sudah berada di hadapannya. Tertidur pulas layaknya putri dongeng. Cantik sekali. Wajahnya yang pucat tidak dapat melunturkan kecantikannya. Haruskah dia menikahi Nayra sekarang? Agar gadis itu tidak dapat pergi lagi darinya.


"Ughh..." suara leguhan itu membuat Bara dengan sigap mengucap rambut Nayra pelan.


"Sayang." tanpa sadar Bara memanggil Nayra dengan sebutan sayang. Bibirnya seolah refleks berbicara seperti itu. Mata tajamnya berbinar senang melihat Nayra mulai mengerjap matanya.


Rizky yang memang duduk dekat pintu bergegas keluar. Sedangkan Eros malah berjalan mendekat, dan menekan sebuah tombol yang tertempel di dinding. Sepertinya hanya Eros yang masih waras disini. Jika ada Bel, kenapa harus repot-repot berteriak, dan berlari keluar untuk memanggil dokter.


Tak berlangsung lama seorang dokter datang. Namun tidak ada Rizky di belakangnya. Entah kemana pria itu memanggil Dokter.


"Apakah tidak ada dokter perempuan disini? Kenapa harus laki-laki." gerutu Bara kesal. "Ganti. Saya ingin dokter perempuan. Saya tidak mau calon istri saya di raba-raba oleh lelaki lain selain saya."

__ADS_1


Eros menepuk keningnya. Kenapa Bara jadi seposesif ini? Baru kali ini Eros melihat kepribadian lain dari seorang Bara. Selain gila, dan pemaksa, Bara juga memiliki sikap posesif menyangkut wanitanya.


Dokter yang hendak memeriksa Nayra terlihat kebingungan. Tangan dokter itu bahkan masih mengantung di udara dengan stetoskop yang hendak di tempelkan kearah dada Nayra, namun harus terhenti karena ancaman Bara.


"Jauhkan tanganmu darinya! Atau aku tidak akan segan memotong tanganmu yang sudah berani menyentuh milikku."


Dokter itu terlihat ketakutan. Eros yang akan kembali memanggil dokter, urung saat melihat Rizky masuk dengan membawa seorang dokter wanita di belakangnya.


"Ini Dok, pasiennya disini." Rizky menunjuk Nayra yang masih terbaring lemah di brankar rumah sakit. Dengan tak ikhlas Rizky melepaskan tangan cantik itu yang sejak tadi dia genggam sepanjang koridor rumah sakit.


Melihat itu, Eros berdecih sinis. Dasar buaya darat. Tuh bocah perasaan modus terus. Batin Eros.


Selama pemeriksaan, Bara tak pernah melepaskan tangan Nayra. Tangan kecil itu Bara genggam dengan erat. Takut sewaktu-waktu Bara tak bisa lagi menggenggamnya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


^^^Jum'at, 13 Agustus 2021^^^


__ADS_2