
...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...
...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...
.......
.......
.......
.......
...HAPPY READING ❤️...
Sebulan sudah mereka berkeliling dunia. Masih tak menyangka jika Bara membawanya bukan hanya ke Prancis, tetapi juga mereka pergi ke Eropa, Korea, dan Thailand.
"Seneng?" Bara bertanya.
"Banget." jawab Nayra antusias. "Aku seneng, seneng, dan seneeeng banget, Mas. Terimakasih."
Nayra mengecup bibir Bara kilat. Hanya sebuah kecupan singkat.
Bara yang merasakannya tersenyum. Dia pun membalas kecupan itu dengan sebuah ciuman panas. Nayra bahkan sampai mengap-mengap kehabisan napas.
"Sudah." Nayra mendorong pundak Bara. Menghentikan ciuman panas mereka.
"Aku harus segera turun. Mereka pasti nunggu kita di bawah."
Bara memberengut. Masih tak rela untuk melepas istrinya keluar. Padahal hanya ke ruang makan, bukan ke taman, tapi tetap saja ia seakan tak rela.
"Lebih baik kita tidur lagi. Mereka juga pasti ngerti. Kita kan baru pulang tadi malem sayang. Masih ngantuk~" Bara merengek. Kedua tangannya masih melilit di pinggang ramping Nayra.
Nayra mendengus geli. Aneh saja rasanya jika mendengar sosok Bara yang tegas, dan tak terbantahkan itu kini merengek seperti anak kecil.
Bara menduselkan kepalanya di dada Nayra. Mencari spot ternyaman versi Bara.
"Astgaa, Mas, Hey, jangan tidur lagi." Nayra menepuk pipi suaminya.
Bara yang merasa terganggu menangkap tangan kecil itu. "Jangan di tepuk, sayang, di usap-usap aja." gumamnya manja.
"Gak ada acara usap-usapan. Udah ayo bangun, Mas. Bentar lagi kita mau ke acara nikahannya Kak Vina."
Nayra kesal. Ia mendorong kepala Bara menjauh dari dadanya. Pria itu tampak mengerang kesal dan kembali menyenderkan kepalanya di dada Nayra.
"Mas, buka matanya buruan ih."
Bara acuh. Kedua matanya tertutup rapat.
"Kalo masih gak mau bangun, mending aku berangkat bareng Evano aja ke acara nikahan Kak Vina."
Bara sontak bangun terduduk, menatap tajam istrinya.
"Bilang apa kamu tadi?" tandas Bara.
"Aku mau pergi aja sama Evano."
Wajah Bara semakin gelap. Matanya menukik tajam. Dan semua itu tak di sadari oleh Nayra, karena wanita itu sudah turun dari kasur menuju walk in kloset untuk menyiapkan pakaian suaminya.
"Ulangi lagi." perintah Bara.
Nayra menghela napas, merasa jika ucapannya sudah mengundang kecemburuan bagi Bara. "Bajunya sudah aku siapkan, Mas. Cepet mandi, lalu turun ke bawah."
Nayra melenggang pergi. Mengabaikan segala kekesalan suaminya yang berteriak nyaring di dalam kamar.
"AYRAAA...!"
.
.
.
.
.
Sejak tadi Bara misuh-misuh. Pria itu tampak enggan menghadiri pesta pernikahan mantan istrinya- Devina. Yah, Devina akan menikah dengan Reynald. Dan Nayra tentu saja senang.
__ADS_1
"Ngapain sih kamu dandan segala. Jelek tau, kaya nenek lampir." Bara mendumel melihat penampilan istrinya yang terlihat cantik. Sebuah dres putih, di padukan dengan riasan tipis membuat istrinya tampil lebih berkelas.
"Jangan dengerin, Nay. Bara kalo cemburu emang kaya gini, suka nyeselin. Omongannya bikin sakit hati." Sheila mencibir sembari melangkah anggun bersama Sang suami.
"Itu Ibu-ibu kenapa sih, suka nyinyir aja-- ahk, sakit Ayra." Bara mengusap bibirnya yang baru saja di tampar oleh Nayra.
"Ibu-ibu yang kamu maksud itu orang tua kamu loh, Mas." ujar Nayra.
"Iya-iya maaf, gak lagi ngomong gitu." Bara mengalah.
"MAMA RARA...!"
Bara menoleh cepat. Menatap horor bocah kecil yang tengah berlari kearah istrinya.
"Mama Rara dateng juga?" Devano- bocah kecil itu bertanya.
"Pasti Mama dateng dong buat kamu." Nayra mencubit hidung Devano pelan.
"Tapi kata Papa Bara, Mama Rara gak bakal dateng." adunya lesu.
Nayra sontak melirik Bara sinis. "Iya, tadinya Mama Rara gak bakal dateng, cuman karena disini ada kamu, jadi Mama Rara dateng deh."
Devano senang mendengarnya. Anak itu tersenyum lebar menarik Nayra untuk masuk ke dalam dimana pestanya dimulai.
Bara mengeram. Tak urung dia pun mengikuti mereka di belakang.
.
.
.
.
"Selamat atas pernikahannya, Mbak." Nayra memeluk Devina. Memberikan ucapan selamat atas kebahagiaan mereka.
"Makasih, Nay." ujar Devina tersenyum lembut. Pelukan keduanya terlepas, Devina beralih menatap Bara. "Kamu gak bakal ucapin selamat sama aku, Bar."
"Selamat." kata Bara datar.
Devina mendengus. "Gak gitu juga kali, Bar."
"Aihss, udahlah skip. Ngomong sama kamu kaya berasa ngomong sama tembok." sungut Devina.
Nayra tertawa kecil, tawa yang membuat Devina semakin meresa kesal.
"Maaf ya, Mbak." sesal Nayra.
"Iya gak papa, Nay."
.
.
.
.
.
"Kamu pucet banget, sayang. Kita ke rumah sakit aja ya?" selepas pulang dari acara, Nayra memang mengeluh pusing.
"Gak, Mas. Aku mau tidur aja, ngantuk. Gak papa kan?" Nayra melepaskan seluruh perhiasan di tubuhnya, tak lupa ia pun mengganti pakaian menjadi pakaian santai.
"Ya gak papa dong, sayang. Kamu tidur, aku buatkan bubur dulu ya?" Bara membantu Nayra berbaring diatas kasur. Sebelum benar-benar pergi, tak lupa Bara akan mengecup kening istrinya lembut.
"Nanti aku bangunin kalo buburnya udah jadi." bisik Bara tepat di telinga istrinya. Nayra bergumam pelan, dan mulai masuk ke dalam dunia mimpi.
Melihat kedua mata itu sudah tertutup, Bara beranjak, mengganti pakaiannya, sebelum turun untuk membuatkan Nayra makanan.
Beberapa hari ini memang napsu makana istrinya sedikit menurun. Pagi tadi pun Nayra hanya memakan sedikit, dan di pesta pun istrinya itu hanya meminum air dan beberapa hidangan penutup setelah itu kembali pulang.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Kamu mau buat apa, Bar?"
Bara yang sedang berkutat dengan peralatan dapur menoleh, menatap Sheila yang sepertinya baru pulang dari acara. Mereka memang pergi bersama, namun Bara pulang lebih dulu karena tak tega melihat keadaan istrinya yang jauh di katakan baik.
"Mau buat bubur, Mom." timpal Bara.
"Buat Nayra?" tanya Sheila yang mendapat anggukan dari Bara.
"Setelah ini sebaiknya kamu telepon dokter ya, Bar."
"Buat apa, Mom? Nayra hanya pusing sedikit, besok juga pasti udah biasa lagi."
Sheila mendengus. "Kamu gak curiga gitu istrimu hamil? Mommy perhatiin akhir-akhir ini Nayra juga agak sedikit berbeda." kata Sheila.
Pernah dengar jika wanita hamil itu pasti memiliki aura yang berbeda, dan Sheila merasakan itu. Tubuh Nayra jauh lebih berisi, dengan kecantikan yang terpancar alami.
"Jadi maksud Mommy, Nayra hamil gitu?" Bara mematikan kompornya. Tubuhnya berbalik, menatap Sheila dengan pandangan tak percaya.
"Itu menurut pandangan Mommy saja, Bara. Untuk memastikannya sebaiknya kamu telepon dokter buat periksa keadaan Nayra."
Bara menggangguk semangat. Tak perlu diminta dua kali pun Bara pasti akan melakukannya.
.
.
.
.
.
Nayra menggeliat kecil. Kedua matanya mengerjap, menatap sekeliling. Ada Bara, Mommy Sheila, Daddy Matteo, dan seorang Dokter?
Dokter? Sontak Nayra langsung terlonjak bangun. Batinnya bertanya-tanya. Untuk apa gerangan berjas putih itu bisa berada di kamarnya?
"Mas." Nayra memanggil.
Bara yang sedang berbincang perihal keadaan istrinya menolah, menatap Nayra terkejut. "Sayang, kamu sudah bangun? Syukurlah, Dokter bilang tadi kamu sempat pingsan pas tidur."
"Pingsan?" Nayra bertanya linglung.
"Iya, kamu pingsan, maaf ya kamu pasti kecapean banget. Harusnya tadi kamu istirahat di rumah, bukan malah pergi keacara nikahan segala." gerutu Bara kesal.
Nayra mendengus. "Jangan mulai deh, Mas. Aku cuma kecapean aja, besok juga pasti udah gak papa. Iyakan, Dok?" mata Nayra beralih kearah Dokter.
"Iya, Nyonya. Tapi saya sarankan untuk anda lebih banyak beristirahat, makan dengan teratur, dan minum vitamin untuk mengembalikan kondisi Nyonya. Dan saya sarankan untuk Nyonya agar tidak memakai high heels jika berpergian, ditakutkan itu akan membahayakan kondisi Sang janin."
"Janin?" Nayra terkejut. Orang-orang di dalam ruangan pun sama terkejutnya.
"Iya Nyonya, selamat untuk anda. Usia kandungannya baru menginjak 2 minggu." Dokter wanita itu tersenyum teduh.
Kedua mata Nayra berkaca-kaca, sama hal nya seperti Bara. Pria itu tak kuasa menahan kebahagiaan.
Bara memeluk Nayra erat, mengusap perut istrinya yang masih terlihat datar. "Disini, disini ada anak kita, sayang."
Nayra tersenyum. Mengusap sudut matanya yang sedikit berair. "Iya, Mas." tak henti-hentinya Nayra berucap syukur dalam hati.
Nayra menempatkan tangannya diatas punggung tangan suaminya. Keduanya tersenyum bahagia. Tak sabar menantikan sang jabang bayi.
Satu persatu keinginan Bara mulai tercapai, meskipun dia sempat mengalami jatuh bangun dalam memperjuangkan cintanya, tapi tak apa, karena semuanya memang membutuhkan proses. Sebuah proses itulah yang nanti akan membawamu ke puncak tertinggi dari sebuah kesuksesan, yaitu kebahagiaan.
"Terimakasih, sayang."
...**END...
...SELASA, 16 NOVEMBER 2021...
...MAAF KALO ENDING NYA MENGECEWAKAN YA TEMAN-TEMAN. KARENA MEMANG CERITA INI CUKUP SAMPAI DISINI, KALO ADA WAKTU SENGGANG, INSYAALLAH AKU BUATKAN EXTRA PART NYA KHUSUS UNTUK ANAKNYA BARA-NAYRA**....
...AKU UCAPKAN TERMAKAIH BUAT YANG UDAH BACA, YANG UDAH KASIH VOTE, COMENT, DAN HADIAHNYA. SEKALI LAGI AKU UCAPKAN TERIMAKASIH, SEMUA ITU JADI SEMANGAT, DAN MOTIVASI BUAT AKU UNTUK TERUS BELAJAR DAN BELAJAR. ...
...SALAM SAYANG 💕...
__ADS_1
...RANINTANTI...