
...Happy Reading ❤...
Pekerjaan yang menumpuk jika di jejerkan bukankah akan selesai? Jelas tidak! Teori macam apa orang yang mengatakan seperti itu.
Payah
Bara mendesah frustasi. Kenapa pekerjaanya tidak selesai juga. Padahal sejak tadi pagi ia terus bergelung dengan dokumen-dokumen yang dikirim dari sekertaris pribadinya.
Ceklek
"Permisi, Pak."
"Apa lagi sih?!!" Bara kesal. Mungkin efek dari kemarin yang belum hilang karena terlalu memikirkan Nayra.
Wildan. Orang yang menjadi sekertaris Bara itu meneguk ludahnya susah payah. "Ada tamu penting dari Rusia, Pak. Dia mengatakan ingin bertemu dengan
Bapak dan Bu Devi."
Sejenak Bara menghentikan pergerakan yang tengah membaca laporan keuangan. Kepalanya mendongkak, menatap balik Wildan.
"Tamu dari Rusia? Siapa?"
"Saya juga kurang tau, Pak. Dia hanya mengatakan jika dia tamu penting yang ingin bertemu Pak Bara dan Bu Devi."
"Aku sibuk. Biarkan saja dia menunggu. Orang itu pasti tamunya Devina, bukan tamuku."
"Tapi, Pak-" Wildan kembali menelan kata-katanya saat Bara mengibaskan tangannya ke udara. Tanpa banyak kata, Wildan bergegas keluar dari ruangan bosnya itu.
Baru saja urusan Wildan telah selesai. Kini Devina, istrinya itu entah sejak kapan sedang memberengut kesal di ambang pintu.
"Sejak kapan kau datang?" tanya Bara. Matanya kembali fokus menatap laporan perusahaan.
"Sejak beberapa menit yang lalu. Tidak terlalu lama kok." Devina menyimpan kotak makan yang dibawanya tepat diatas meja. "Aku membawa makanan untuk istirahatmu nanti." lanjutnya.
"Hem, simpan saja disitu." timpal Bara singkat.
Devina mengangguk. Wanita itu duduk di sofa, kepalanya di senderkan di sandaran sofa dengan kedua mata tertutup. "Kenapa sejak kemarin ponselmu tidak aktif, Bara."
"Ponselku rusak."
__ADS_1
"Kamu melemparnya lagi?!" Devina berdecak saat melihat Bara mengangguk tanpa beban. Devina memang paling tau bagaimana kemerahan Bara yang selalu bertindak tidak wajar. Lelaki itu akan merusak apapun, atau bisa menyakiti dirinya sendiri.
"Hmm, setidaknya yang rusak hanya ponsel. Bukan tanganmu." desis Devina yang membuka matanya saat merasakan getaran di dalam tasnya. Benar saja ada panggilan masuk dan beberapa pesan yang belum sempat terbaca.
Alice?
Setelah menggeser tombol hijau. Devina mendekatkan ponsenya kearah telinga. "Tumben sekali menelponku, Lice?" tanya Devina heran.
"Oh Devina~ akhirnya kamu mengangkat telepon ku juga."
"Ya maafkan aku, Alice." sesal Devina.
"Tidak-tidak. Tidak apa-apa, bolehkah aku meminta bantuanmu. Aku sedang berada di indonesia. Hanya saja, aku mengalami sedikit masalah disini. Mobilku terkena tilang, dan aku tidak tau harus melakukan apa. Kau tau, aku baru saja sampai dari Rusia ingin berlibur."
"Kau dimana sekarang?"
"Di kantor suamimu. Tapi dia sampai sekarang tidak juga turun. Padahal aku sudah menyuruh seseorang untuk memanggilkannya."
Devina menjauhkan ponselnya sejenak. "Bara, bokehkah aku minta tolong? Temanku-"
"Tidak. Aku sibuk. Aku tidak ada waktu untuk menyelesaikan urusan kalian." Bara membalik laporannya. Lelaki itu sama sekali tidak melirik istrinya yang di anggap sebagai patung pajangan saja.
"Bara, aku mohon. Dia sedang mengalami kesukitan saat ini. Mobilnya di tilang, dan dia tidak mengenali siapapun disini selain aku."
Devina tersenyum, dan mengganguk dengan semangat. "Terima kasih, Bara." walau tidak ada balasan, tapi setidaknya Devina senang. Wanita itu kembali mendekatkan ponselnya mengabari Alice yang sedang menunggu di sebrang sana.
....
"Kau terlihat kelelahan, Nay." Evano menghentikan kursi rodanya sejenak. Kepalanya melongok ke samping melihat wajah Nayra yang terdapat bulir-bulir kecil di keningnya. "Kamu berkeringat. Apakah aku sangat berat, sampai kamu terlihat berkeringat seperti itu?"
Dengan pelan, Evano menarik Nayra ke depan. Tidak seharusnya Nayra terus-terusan berada di belakang dan membantu mendorong kursi rodanya.
Nayra menurut, berjongkok di hadapan Evano. "Aku tidak lelah, Vano." ucap Nayra.
"Jangan berbohong, aku tau apa yang sedang kamu rasakan, Nay."
Nayra menghela napas sejenak. Membalas genggaman tangan Evano tak kalah erat. "Kamu bilang ingin pergi ke Taman. Ayo, aku temani, sebentar lagi juga sampai."
Evano tesenyum, mengusap keringat Nayra dengan baju yang sedang dipakai. "Itu tidak perlu, Nay. Kita disini saja."
__ADS_1
"Tapi-"
"Sttt..." Evano menempelkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Nayra. Menghentikan ucapan-ucapan gadis itu. "Pemandangan disini jauh lebih indah dari Taman. Karena apa? Karena disini ada kamu. Ada kamu yang menemaniku, Nay."
Pipi Nayra memanas. Evano yang melihat pipi Nayra memerah mengusapnya lembut. Rasa hangat menjalar di telapak tangan Evano.
"Kamu sangat cantik jika seperti itu." tidak ada godaan atau kekehan yang lelaki itu berikan. Evano hanya menatap Nayra, sebagaimana Nayra menatap Evano jauh lebih dalam.
Kedua sama-sama terdiam. Saling menatap, dan saling memuja. Tangan Nayra merambat ke atas, mengusap punggung tangan Evano yang sejak tadi bersarang di pipinya yang mungkin jika dilihat sudah semerah buah tomat.
"Semenjak bangun, kenapa kamu suka sekali menggoda. Apakah ada yang salah dengan otakmu?"
Evano tergelak. Mengusap pipi Nayra, kemudian Evano mengecup tangan gadis itu dengan sayang. "Karena kamu spesial."
"Alasan macam itu?" Nayra mendengus, walau dalam hati ia senang mendengarnya.
"Mie rebus juga suka di panggil spesial kalo kamu lupa." lanjut Nayra dengan wajah yang cemberut membuat Evano menyentil bibir itu.
"Jangan cemberut seperti itu. Aku bisa khilaf jika kamu terus-terusan berekspresi seperti itu." ucap Evano kesal.
Nayra mengangguk, dan tersenyum lembut sebelum ia kembali mendorong kursi roda lelaki itu. "Kita cari tempat yang jauh lebih indah dari ini." ucap Nayra semangat.
^^^Bersambung^^^
^^^Selasa, 23 Maret 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Vote and coment...
...biar author makin semangat nulisnya....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
__ADS_1
See you
ranintanti