Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 65


__ADS_3

...Yang gak suka cerita ini gak usah baca ya....


...Gak gampang loh bikin cerita kaya gini :) ...


...*****...


...Happy Reading ❤️...


"Bagaimana keadaannya, Dok?" Bara bergegas menghampiri Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Sheila- Mommy-nya.


"Pasien mengalami shock berat, beruntung dia tidak sampai mengalami henti jantung." jelas Sang Dokter.


Bara mengusap wajahnya kasar. Baru memberi tahu tentang Nayra saja Mommy-nya sudah seperti ini, apalagi jika dia mengatakan semua kebohongan Devina, entah apalagi yang akan terjadi.


"Jika keluarga mu memang ada masalah, ada baiknya pasien tidak diberi tahu demi kesehatannya."


Lihatkan? Belum apa-apa saja Bara sudah di kalahkan dengan keadaan. Tuhan seakan tidak pernah berpihak kepadanya. Selalu saja seperti ini, setiap Bara mengatakan semua kebenarannya, Sang Mommy pasti akan kembali down.


"Bara, ikut Daddy." Matteo menarik lengan Bara kasar menjauh dari ruangan istrinya. Bara hanya pasrah. Dirinya cukup tahu diri untuk tidak melawan Sang Daddy yang sedang menahan amarahnya.


"Apa yang kamu katakan sampai membuat Mommy mu seperti itu hah?!!" tuntut Matteo.


Bara menghela napas. "Maaf, Dad." sesal Bara tertunduk lesu.


"Daddy tidak membutuhkan maaf mu, Bara! Yang Daddy butuhkan adalah penjelasan, kenapa Mommy bisa sampai seperti ini?! Oh- Daddy tau, pasti Nayra kan? Gadis kampung yang kamu cintai sejak masa SMA itu. Semuanya pasti karena dia kan?"


"Bagaimana Daddy tau? Bagaimana Daddy tau kalau Nayra adalah gadis yang Bara cintai?!!" Bara bertanya gusar. Kekhawatiran nya semakin memupuk. Jangan sampai Daddy nya melakukan sesuatu kepada Nayra.


"Semuanya Daddy tau. Apa yang kamu lakukan selama ini, semuanya Daddy tau. Bahkan sekecil apapun rencana yang kamu sembunyikan dari Daddy, Daddy dapat dengan mudah mengetahuinya." Matteo menyeringai melihat Bara mengepalkan kedua tangannya.


"Jauhi gadis itu, Bara. Sebelum Daddy sendiri yang akan menjauhkannya denganmu." ujar Matteo dingin. Pria paruh baya itu menepuk pundak Bara, mencoba menyadarkan putranya agar tidak terjerumus dengan kubangan perselingkuhan.


"Apalagi Devina sedang hamil. Daddy ikut senang mendengarnya." kemudian Matteo melenggang pergi,

__ADS_1


"Arghhh." Bara berteriak kesal memukul-mukul tembok yang berada di depannya. Darah mulai merembes, membasahi sela-sela jarinya.


"Bara hentikan!" Devina yang sejak tadi bersembunyi di balik pilar menjerit melihat bagaimana Bara melukai dirinya sendiri. Devina menggenggam kepalan tangan Bara, menghentikan tindakan gila pria itu.


"Lepas!" Bara mendorong Devina kasar. Tak memperdulikan ringisan yang keluar dari bibir wanita itu. "Semua ini gara-gara lo! Semua masalah yang datang, semuanya karena lo!"


.


.


.


.


.


"Gak. Pokonya Kakak gak mau pergi."


Nayra menghembuskan napas kasar. "Yaudah, kalo Kakak mau tinggal disini ya silahkan." kesal Nayra.


"Gak semua perempuan seperti itu, Kak. Buktinya aku gak mau sama Bara."


Bunda Farah hanya menatap kedua putrinya yang saling berdebat. Tidak ada niatan untuk melerai.


Sarah berdecak. "Kenapa sih kamu keras kepala banget di bilangin. Bara itu sempurna. Punya perusahaan dimana-mana. Rumah mewah, mobil banyak. Kurang apa lagi coba?"


Nayra tak peduli. Ia terus memasukan semua baju-bajunya ke dalam tas. Mengabaikan kekesalan Kakaknya yang terus saja mengagung-agungkan sosok Bara.


"Ish, Nay!" Sarah menyentakan tangan Nayra yang hendak menutupi tas besarnya. "Bilang sama Kakak, kamu lagi marahan kan sama Bara? Makanya kamu milih pergi kaya gini."


Menghela napas pelan, Nayra mendorong pundak Sarah agar tidak menghalangi pekerjaannya. "Kakak gak bakal ngerti."


"Gimana Kakak bakal ngerti kalo kamu gak ngejelasin semuanya, Nay!" Sarah nampak frustasi. Baru saja hidupnya merasa enak, dan berkecukupan, namun belum juga sehari adiknya itu sudah mengacaukan segalanya.

__ADS_1


"Kalo kamu gak mau jelasin, biar Kakak sendiri yang minta penjelasan sama Bara."


Nampaknya ancaman Sarah tidak berarti apa-apa.


"Okey kalo gitu." tidak ada pilihan lain. Sarah meraih ponsel Nayra yang berada di tengah kasur.


Nayra yang belum selesai memgemasi baju-bajunya terhenti, menatap Sang Kakaknya bingung.


"Halo, Bara."


Nayra terbelalak. Tubuhnya merengsek maju merebut ponselnya yang di pegang oleh Sarah. "Kakak apa-apaan sih?!!" teriak Nayra kesal. Dengan segera ia memutuskan sambungannya, beruntung Bara belum sempat mengangkatnya.


"Ya makanya kamu jelasin dulu, kenapa kamu mau pergi!" seru Sarah tak kalah kesal.


"Aku gak ada hak buat tinggal disini lagi, Kak!"


"Kamu berhak! Kamu tunangannya Bara, calon istri Bara!"


"Sekarang bukan lagi! Aku bukan siapa-siapanya Bara!" balas Nayra marah.


"Kamu-" Sarah nampak emosi. Beruntung suaminya dengan lembut membisikan kata-kata penenang. "Sttt, sudah jangan terbawa emosi, biarkan dulu adikmu ini bicara." ucap Adith mengusap punggung Sarah dengan lembut.


Nayra mendudukan tubuhnya di sisi kasur. Bunda Farah yang sejak tadi diam mulai melangkah mendekati Nayra. "Mau cerita sama Bunda?"


Nayra mengangguk, sejurus kemudian ia memeluk tubuh Sang Bunda. "Bara sudah menikah, Bun. Sudah memiliki istri dan anak. Bara sudah memiliki keluarga."


Dengan sabar Farah mengusap pucuk kepala Nayra. Memberikan kekuatan untuk putrinya dapat bercerita lebih banyak.


"Nay gak mau di sebut perusak rumah tangga orang lain, Bun, Nay gak mau. Nay pengen pergi dari rumah ini. Rumah ini milik Bara. Nay gak ada hak apapun buat tinggal disini." tangisan Nayra akhirnya tumpah. Sarah sudah terduduk lemas di sofa dengan bersender di dada suaminya. Semua angan untuk hidup enak pupus sudah. Sedangkan Bunda Farah mencoba menguatkan, meski kedua matanya sudah berkaca-kaca, namun sebisa mungkin Bunda Farah menahan air matanya agar tidak ikut menangis.


^^^Bersambung^^^


^^^Rabu, 22 September 2021^^^

__ADS_1


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...


__ADS_2