Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 29


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


"Ahkkkk!" Bara menyapu habis peralatan yang berada di atas meja kerjanya. Semua kertas berhamburan, laptop, dan beberapa figura kecil hancur tercecer di bawah lantai. Laporan dari anak buahnya tidak mampu meredamkan amarahnya. Sudah tiga hari Nayra hilang tanpa jejak. Bahkan semua anak buahnya sudah ia kerahkan ke beberapa negara. Ponsel yang di berikannya kepada Nayra seakan tak mampu menemukan keberadaan gadis itu. Ponselnya tidak aktif, sehingga sulit untuk ia melacaknya.


"Bara-"


Tanpa menoleh pun ia sudah tau siapa pemilik suara itu. Devina. Wanita itu datang kembali ke apartemennya. sudah puluhan kali ia melarang wanita itu untuk tidak datang kesini seenaknya, tapi rupanya, larangan itu hanya di anggap angin lalu.


"Pergi."


"Tapi, Bara-"


"SAYA BILANG PERGI!" teriak Bara frustasi. Entah bagaimana lagi ia mengusir wanita itu dari unit apartemennya.


Devina seolah tuli. Wanita itu dengan santainya menyimpan kresek putih tepat di hadapan Bara. "Makanlah. Aku tidak tau apa masalahmu. Aku juga tidak menuntmu untuk bercerita. Tapi Bara, perusahaanmu membutuhkan seorang pemimpin. Sudah lama kamu tidak masuk kerja, dan Daddy terus saja menanyakan keberadaanmu."


Bara menggeleng. "Saya tidak peduli. Pergilah, jangan mengucapkan kata-kata yang tidak berarti apa-apa untukku."


Menghela napas pelan, Devina memungut figura kecil yang memperlihatkan pernikahan nya dengan Bara.

__ADS_1


Terlihat bahagia sekali. Namun, kebahagiaannya itu hancur seiiring berjalan waktu. Devina menatap Bara sendu. Kapan terakhir kali lelaki itu menatapnya dengan tatapan lembut? Dan kapan terakhir kali Bara memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya? Devina terkekeh miris. Sepertinya dia lupa. Terlalu lama untuk kembali mengenang masa lalu. Sudah cukup kesalahan yang dia lakukan kepada pria itu. Kesalahan yang bahkan sampai saat ini belum termaafkan.


Devina menyimpan kembali figura kecil itu diatas meja. "Besok, aku harus kembali."


Bara masih diam. Pria itu tidak merespon, dan hanya menatap lurus melihat hamparan gedung-gedung pencakar langit.


"Tolong, jaga Devano untukku. Aku- akan kembali lagi setelah pekerjaanku selesai disana."


Bara membalikan tubuhnya. Menatap Devina- istri sekaligus wanita yang dulu pernah singgah di hatinya. "Seharusnya kamu tidak perlu kembali. Devano jauh lebih baik tanpa keberadaanmu disini."


Devina tertegun. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Bara tepat menikam jantungnya. Yah, harusnya memang seperti itu. Tapi, dia tak yakin. Terlalu takut untuk melepaskan sosok Bara yang suatu saat akan hidup bahagia dengan anaknya.


Devina mengangguk pelan. Dia seakan mengerti bagaimana kebiasaan anaknya yang akan selalu menangis jika tidak mendapati keberadaannya. Sebelum pergi, Devina mengecup pipi suaminya sekilas.


Cup


"Aku pergi, Bara." Devina pergi. Meninggalkan Bara yang diam terpaku. Selepas kepergian Devina, Bara mengelap pipinya. Kecupan itu tak cukup berarti baginya.


Dert

__ADS_1


Dert


Bara merogoh ponselnya yang berdering. Telepon dari anak buahnya segera ia angkat.


"Bagaimana?"


"Beberapa menit yang lalu ponselnya diaktifkan, Tuan. Saya sudah mengirimkan lokasinya. Anda bisa langsung mengeceknya."


"Tidak perlu di cek, segera kirimkan orang-orangku kesana, dan cari gadis itu sampai ketemu. Jangan lepaskan gadis itu sebelum aku tiba disana."


"Baik, Tuan."


Panggilan terputus.


Bara meremas ponselnya kuat, hingga urat-urat di sekitar tangan tercetak sangat jelas. Lihat saja Nayra, kemanapun kamu pergi, bahkan sampai ke lubang semut pun akan aku kejar. Tidak akan ia biarkan Nayra lepas dan membawa separuh jiwanya. Gadis itu harus tanggung jawab karena telah membuatnya gila sampai seperti ini.


^^^Next^^^


^^^Rabu, 11 Agustus 2021^^^

__ADS_1


__ADS_2