Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 51


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Mobil yang di tumpangi Nayra telah berhenti di sebrang jalan. Terlihat rumah dua lantai dengan taman kecil di depan halaman sungguh terlihat sangat asri dan terawat. Nayra menoleh kearah Bara. Masih tak mengerti apa yang sedang di rencanakan oleh lelaki itu.


"Kamu akan tau nanti." kata Bara. Lelaki itu seakan tau apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Bara keluar lebih dulu. Berlari mengelilingi mobil dan membukakan pintu untuk Nayra. Tangan lelaki itu mengadah. Nayra dengan sigap meraih tangan itu yang kemudian di genggam erat oleh Bara.


Lalu keduanya berjalan beriringan. Terlihat seorang wanita paruh baya tengah menyirami taman bunga. Wanita itu berbalik, lalu tatapan mereka bertemu. Nayra dibuat tertegun melihat wanita itu adalah Bundanya.


"Bunda." pekik Nayra melepaskan genggaman Bara. Nayra berlari menghampiri Bundanya. Memeluknya dengan erat. Bunda Farah terkejut. Tanpa sadar dia menjatuhkan selangnya dan membalas pelukan Nayra.


"Anak Bunda." gumam Bunda Farah.


Nayra tersenyum mendengar panggilan Bundanya.


"Gimana liburannya? Seneng?" tanya Bunda Farah yang masih memeluk tubuh putrinya.


Dahi Nayra mengkerut bingung. "Liburan? Nay gak-"


"Tentu saja senang, Bun. Apalagi dia sampai merajuk karena tidak ingin pulang cepat." sela Bara memotong ucapan Nayra.


"Nayra memang seperti itu jika diajak pergi berlibur, Nak Bara. Dia seakan lupa kalo masih punya Bunda yang menunggunya di rumah." timpal Bunda Farah menggoda.


Nayra terperangah mendengar ucapan keduanya. Matanya tak sengaja bertemu pandang dengan mata tajam milik Bara. Pria itu seakan memberikan ancaman, agar dirinya tidak berkata jujur kepada Bunda Farah. Nayra menelan ludahnya gugup. Padahal ia sama sekali tidak pernah pergi berlibur. Ini pasti hanya akal-akalan Bara saja untuk bisa mengurungnya saat itu.

__ADS_1


Nayra melepaskan pelukannya, menatap sang Bunda dengan raut bahagia. "Bunda kok bisa disini? Ini rumah siapa Bunda? Ohh, Bunda pasti kerja disini ya?" tanya Nayra mengalihkan pembicaraan. Nayra tidak ingin Bundanya membahas perihal liburan yang sama sekali tidak pernah terjadi. Nayra tidak pandai berbohong seperti apa yang dilakukan Bara kepada Bundanya.


"Ini rumah kita, Nay." jawaban Bunda Farah mampu membuat tubuh Nayra menegang kaku. "Bara yang membelikannya buat kamu. Awalnya Bunda ingin menolak, tapi Nak Bara terus saja kekeh ingin Bunda menerimanya." lanjut Bunda Farah.


"Ma-maksudnya?" Nayra menatap Bara, menuntut penjelasan kepada pria itu. Bukannya menjawab, Bara malah tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


Tidak ada kata senang saat ini, yang Nayra rasakan malah sebaliknya. Nayra gelisah, khawatir dengan apa yang Bara berikan. Nayra takut jika pemberian Bara memiliki rencana terselubung yang suatu saat akan menjerumuskannya. Nayra takut tidak bisa lepas dari pria itu untuk selamanya.


Namun saat melihat wajah sang Bunda tersenyum, Nayra pun ikut tersenyum seolah merasakan kebahagiaan itu. Bohong jika ia bahagia, kenyataannya lain di hati, lain di bibir.


.


.


.


.


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, disinilah Nayra. Di rumah sakit, dimana Evano di rawat.


"Sus, pasien atas nama Evano ruangannya di sebelah mana ya?" tanya Nayra kepada seorang suster.


"Tunggu sebentar ya Mbak, biar saya cek dulu." kemudian suster itu melihat kearah layar komputer. "Pasien atas nama Evano telah keluar dua hari yang lalu Mbak." ucap suster itu.


"Keluar? Memangnya dia sudah sembuh Sus?" tanya Nayra lagi.

__ADS_1


"Saya kurang tau Mbak, tapi dari data yang saya lihat, tertulis jika pasien di pindahkan ke luar negeri untuk melakukan perawatan yang lebih intensif." jawab suster itu.


"Luar negeri?" Nayra dibuat shock dengan jawaban suster itu. "Boleh saya tau negara mana yang pasien tuju? Atau alamat rumah sakitnya kalo perlu sus?"


"Maaf, untuk itu saya tidak tau Mbak." ucap sang suster.


"Coba cek lagi sus di komputernya, barangkali ada alamat yang tertulis disana." desak Nayra memaksa.


Suster itu menggeleng. "Mohon maaf Mbak, tidak ada penjelasan apapun."


Nayra mendesah kasar. Terlihat sekali raut kecewa mendengar ucapan sang suster. "Yaudah makasih ya sus." kemudian Nayra melangkah pergi. Sia-sia rasanya ia telah pergi ke sini, namun tidak ada Evano. Pria itu pergi tanpa mengatakan apapun. Seolah memang Evano sengaja ingin menghilang dari kehidupannya.


Nayra terduduk lesu di taman rumah sakit. Banyak pertanyaan yang bersarang di otaknya saat ini. Seperti kemana Evano pergi? Bagaimana keadaannya? Atau, apakah Evano hidup dengan baik? Pertanyaan itu sama sekali tidak memiliki jawaban. Terkhir kali mereka bertemu, keadaan Evano sungguh memprihatinkan. Sesak rasanya melihat Evano menjerit, dan memohon-mohon agar dirinya tidak pergi.


Dalam hati Nayra terus berdoa, agar Evano- hidup dengan baik meski tanpa kehadirannya. Berharap agar pria yang ia cintai itu bisa mendapatkan kebahagiaan diluar sana. Mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna dari dirinya.


Kini kisah keduanya benar-benar telah usai. Tidak ada lagi kata 'kita' diantara mereka. Yang tersisa hanya ada aku dan kamu yang saling tersakiti. Takdir memang sangat kejam. Jika mereka di pertemukan, namun kenapa akhirnya malah di pisahkan?


^^^Bersambung^^^


^^^Sabtu, 28 Agustus 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...

__ADS_1


__ADS_2