Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 61


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Nayra mengejar Erina yang belari seperti orang kesetanan. Berkali-kali Erina menubruk tubuh orang-orang yang menghalangi jalannya. Sampai tak sengaja Erina menubruk sosok anak kecil yang mengakibatkan anak itu menangis karena terjatuh.


Bukannya menolong, Erina malah terus berlari meninggalkan Nayra yang kerepotan membujuk anak itu agar berhenti menangis. Dengan embel-embel permen, barulah anak itu berhenti menangis.


Menghembuskan napas kesal. Nayra kembali mengejar Erina. Terlihat di ujung sana Erina sedang menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan. Karena tak ingin tertinggal, Nayra pun ikut masuk ke dalam.


"EROSS!!! LO NGERJAIN GUE LAGI HAH?!!!" teriakan penuh kekesalan itu berasal dari Erina. Gadis itu menerjang tubuh Eros, memukul, menampar, bahkan sampai menjambak rambut Eros.


Eros terlihat pasrah dengan kebrutalan sepupunya. Padahal jelas-jelas Eros tidak tau apapun, tiba-tiba saja sudah di serang macan betina.


"Aw. Aw. Rin, lo kenapa sih?" Eros mengaduh. Mencoba menghindari serangan-serangan dari sepupunya.


"Lo yang kenapa hah?!! Lo coba kibulin gue lagi ya?!! Lo bilang katanya lagi di rawat, tapi ini, ini lo sehat-sehat aja EROS!!!" kesal Erina, sekaligus lega karena sepupu tersayang nya masih baik-baik saja.


Eros mencoba menangkap tangan Erina. Tapi tidak berhasil. Nayra yang tidak tega melihat Eros pun, akhirnya menarik tubuh Erina, menjauhkan tubuh itu agar tidak memukuli Eros lagi.


"Udah Rin, kasian itu, sampe merah-merah pipinya."


"Biarin! Biar tau rasa tuh anak udah berani bohongin gue." sahut Erina musuh-misuh.


Eros berdecak. Mengusap kedua pipinya yang mendapat cakaran.dari sepupunya. "Lo kenapa sih, Rin?! Dateng-dateng udah kaya macan betina ketemu mangsa aja." sungut Eros kesal.


"Lagian lo udah bohongin gue. Sosoan bilang di rumah sakit, lagi di rawat, di ruangan mawar nomer-"


Eros menabok bibir Erina. Menghentikan segala ucapan yang keluar dari bibir tipis itu. Erina melotot kesal. Namun sebelum memprotes, Eros cepat-cepat menjelaskan semuanya.


"Yang di rawat itu bukan gue, tapi Bara, Rin. Makanya kalo di telepon tuh jangan langsung di matiin. Bikin orang gedek aja lo." sungut Eros. Erina menyengir tanpa dosa.


Nayra yang sejak tadi diam seakan tersadar, gadis itu mengalihkan pandangannya menatap Bara. Namun bukan itu yang menjadi fokusnya, Nayra malah fokus menatap wanita yang duduk di samping Bara. Tangan mereka pun terlihat saling menggenggam.


Bara yang mengerti kemana arah mata Nayra mencoba melepaskan tangan itu. Bukannya terlepas, Devina malah semakin mengeratkan, membuat Bara menyentakan tangan itu kasar.

__ADS_1


"Lepas!" sentak Bara.


"Kamu kenapa sih? Aku cuma pegang tangan kamu, masa langsung marah." Devina terlihat sedih. Namun kesedihan itu berusaha dia tutupi dengan senyuman manisnya.


"Ayra."


Panggilan itu membuat jantung Nayra bergemuruh. Devina menatap wanita yang di panggil oleh suaminya. Merasa tak asing dengan wajah itu, Devina mencoba mengingatnya kembali. Namun Devina tak kunjung mengingatnya.


"Ky, gue minta tolong boleh?"


Rizky yang sejak tadi memainkan ponsel mendongkak, menatap Bara dengan penuh tanda tanya. Merasa heran, karena biasanya Bara akan langsung menyuruhnya tanpa meminta izin seperti itu.


"Minta tolong apa?" tanya Rizky heran.


"Tolong, lo anterin dia pulang." tunjuk Bara kearah Devina. Devina menolak tegas, kepalanya menggeleng ribut. "Gak. Aku gak mau pulang, Bara. Aku mau disini temenin kamu."


"Tapi gue gak mau di temenin sama lo, Vina!" geram Bara.


Rizky yang paham dengan posisi Bara pun segera menarik Devina, wanita itu memberontak, berteriak memanggil Bara.


"Bara, aku mohon, aku mau temenin kamu disini." teriak Devina mencoba melepaskan cekalan Rizky. Tapi tidak bisa, kekuatan Devina kalah telak dengan kekuatan Rizky yang memang dasarnya seorang lelaki.


Devina akhirnya pasrah. Sebelum benar-benar keluar, Devina sempat menubruk Nayra, mengancaman gadis itu lewat tatapan matanya.


Nayra meringis, tubuhnya limbung namun tidak sempat terjatuh. Gadis itu mengusap pundaknya yang terasa sedikit sakit, menatap kemana wanita itu di seret paksa oleh Rizky.


"Bara, gak seharusnya lo- Ahahah gue ada urusan sama Erina, kita pulang duluan ya, Bar." Eros yang akan menegur sikap Bara pun tercekat kala melihat tatapan mengancam dari pria itu. Eros tertawa hambar. Buru-buru Eros menarik Erina keluar. Melihat tatapan mengancam dari Bara sudah jelas jika Bara menyuruhnya untuk pergi.


Erina terlihat akan protes. Namun sebelum benar-benar proter Eros sudah lebih dulu menutup pintu ruangan Bara. Meninggalkan kedua orang itu yang saling menatap satu sama lain.


"Kemari."


Nayra yang hendak mengikuti Erina terpaksa menghentikan langkahnya. Gadis itu kembali membalikan tubuhnya, menatap Bara dengan tatapan bingungnya.

__ADS_1


"Sayang, bantu aku bangun. Aku laper."


Untuk beberapa saat Nayra terdiam. Antara mendekat atau menyusul Erina. Disaat pikirannya memilih untuk menyusul Erina, maka hatinya malah menyuruhnya untuk mendekat kearah Bara.


"Tanganku sakit. Aku gak bisa makan, sayang. Bisa tolong suapi?" suara itu lembut, Nayra yang tak tega pun akhirnya memilih mendekat, membantu pria itu untuk bersandar dengan posisi yang nyaman.


"Terimakasih." ucap Bara. Tak henti-hentinya Bara tersenyum, menatap gadis cantik yang kini meraih mangkuk bubur di samping nakas.


"Buka mulutnya."


Bara menurut, membuka mulutnya lebar-lebar, merima suapan dari Nayra. Bubur yang sejak tadi terasa dingin dan hambar itu seketika terasa sangat enak dan lezat. Pengaruh Nayra memang luar biasa. Tak henti-hentinya Bara menatap pahatan indah yang di ciptakan Sang Kuasa di hadapannya. Begitu cantik, baik wajahnya, maupun hatinya.


Nayra yang ditatap seperti itu oleh Bara mencoba tak peduli. Ia sibuk menyuapi lelaki itu. Sampai di suapan terakhir pun Bara tak kunjung melepaskan tatapannya hingga membuat Nayra risih.


"Jangan menatapku seperti itu." tegur Nayra halus. Sejujurnya Nayra tidak suka, hatinya berdebar setiap kali Bara menatapnya seperti itu.


"Kenapa?" tanya Bara dengan polosnya.


Nayra berdecak, kepalanya menggeleng pelan, dari pada menjawab pertanyaan Bara, Nayra malah memilih menyimpan kembali mangkuk itu di samping nakas.


.


.


.


.


.


^^^Bersambung^^^


^^^Rabu, 15 September 2021^^^

__ADS_1


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...


__ADS_2