Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Berusaha Menerima


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Setelah menunggu dua menit, akhirnya Nayra melihat Bara keluar dari ruangan Eros dengan muka kusutnya.


"Ikut aku." Bara menarik lengan Nayra lembut namun tergesa. Berbeda dengan Nayra yang hanya diam menurut.


Setelah sampai di parkiran Bara mendorong Nayra untuk masuk kedalam mobilnya.


"Ki,,, kita mau kemana?" tanya Nayra takut-takut.


"Apartment." singkat, padat dan jelas.


Nayra mendadak memundurkan tubuhnya, rasa takut dan cemas membuatnya tak berani menatap Bara yang kini tengah di liputi oleh aura yang sangat menyeramkan.


Bara menutup kedua matanya, entah kenapa jika menyangkut Nayra emosinya mendadak tak bisa terkontrol dengan baik, rasa marah, kesal dan takut kehilangan membuatnya seperti ini.


"Jangan takut." Bara tersenyum, menarik Nayra agar mendekat kearahnya. "Aku tidak mungkin melukai mu, jadi jangan takut seperti ini." Bara mencoba menenangkan Nayra agar tidak takut kepadanya, kedua pancaran mata itu sungguh membuat hati Bara terluka.


"Tasku,,, dan ponsel ku tertinggal di sana." Nayra mencoba melepaskan tangan Bara yang berada di pundaknya, ia hendak kembali membuka pintu mobil namun Bara lebih dulu menguncinya hingga Nayra kini berbalik dan kembali menatapnya.


"Kak, tolong buka pintunya." kata Nayra sambil menundukkan kepalanya tak berani menatap Bara. Cowok itu terlihat sangat menyeramkan jika dilihat dari dekat.


"Biar anak buah ku yang mengambilnya. Kamu diam disini." Bara merogoh saku celananya untuk menghubungi Jack orang kepercayaan nya yang diam-diam ditugaskan untuk menjaga Nayra dan mengawasinya dari jauh.


"Ambilkan barang-barang Nayra di dalam." setelah mengatakan itu Bara mematikan ponselnya secara sepihak. Tak memperdulikan Jack yang di sebrang sana mengerti atau tidak atas ucapan nya barusan.


Sebelum menjalankan mobilnya Bara menatap Nayra sebentar. Tubuhnya condong ke depan membuat gadis itu kini menahan napas nya untuk sesaat.


"Kak Bara mau apa?" cicit Nayra takut-takut.


"Pasangin dulu sabuk pengaman nya." timpal Bara dengan begitu lembut menarik selt belt nya sampai terpasang di tubuh ramping Nayra.


Setelah melihat Nayra dalam posisi aman, tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobil. Tak perlu bertanya pun Bara tau jika itu adalah Jack yang akan mengantarkan barang-barang Nayra.


"Kembali ke tempat mu." ucap Bara datar sambil menerima barang-barang Nayra.


Jack menunduk hormat berbarengan dengan Bara yang menutup kaca mobil.


Nayra yang melihat tas nya berada di dekapan Bara dengan gesit merebutnya, tapi sayang kekuatan Bara lebih besar hingga Nayra pun kalah dan kembali terdorong ke belakang.

__ADS_1


"Kemarikan tasku." kesal Nayra melupakan perasaan takutnya kepada Bara. Melihat itupun Bara terkekeh, kepalanya menggeleng samar dan mulai menjalankan mobilnya mengabaikan raut kesal Nayra yang terlihat menggemaskan.


"Akan ku kembalikan setelah urusan kita selesai, Ayra." tanpa menoleh sedikitpun Bara kembali fokus menyetir menatap jalanan yang mulai padat. Bara hanya tak ingin jika Nayra malah mengabaikan nya dan memilih memainkan ponselnya untuk menanyakan kabar si Vano Vano itu.


.....


Sesampainya di basement Bara keluar terlebih dahulu, berlari kecil agar bisa membukakan pintu untuk Nayra.


"Ayo." ajak Bara saat melihat Nayra hanya terdiam dengan tatapan kosong ke depan.


Bara berdecak, mengguncang tubuh Nayra sampai gadis itu terlihat berjengkit dan mengerjap pelan.


"Udah sampai?" tanya Nayra yang mendap anggukan pelan dari Bara.


Setelah melihat Nayra keluar dari mobil, Bara dengan cepat menggenggam lengan itu dengan lembut. Keduanya kini berjalan beriringan karena Bara yang memaksa Nayra agar berjalan di samping nya.


Saat memasuki gedung yang menjulang tinggi itu, Nayra memilih menundukkan kepalanya.


'Sepertinya itu istrinya Pak Bara.'


'Itu tidak mungkin, tidak mungkin istrinya Pak Bara memakai pakaian pelayan seperti itu.'


'Sepertinya begitu.'


Nayra semakin menundukkan kepalanya saat mendengar bisik-bisik yang tak mengenakan di telinganya.


Bara pun yang mendengarnya mengeram kesal, tatapan nya kemudian jatuh kearah Nayra yang menundukkan kepalanya.


"Shut up!" bentak Bara menatap tajam orang-orang yang berani membicarakan gadis nya.


"Mulut kalian membuatku muak, tunggu surat pemecatan kalian setelah ini." suara itu dingin, Nayra mendongkak menatap Bara yang juga menatapnya.


"Jangan menunduk jika sedang bersamaku Ayra." kini suara itu terkesan lembut namun penuh ketegasan.


Nayra yang mendengarnya mengangguk kaku, tatapan Bara seolah menggulitinya hidup-hidup.


"Pak Bara maafkan kami-"


"Saya tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Kemasin semua barang kalian karena sebentar lagi surat itu akan sampai di tangan kalian." Bara langsung menarik Nayra agar kembali mengikutinya, tak memperdulikan protesan tidak terima dari perempuan-prempuan yang tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik.

__ADS_1


"Apakah mereka harus dipecat?" setelah hening beberapa saat di dalam lift akhirnya Nayra memberanikan diri untuk bertanya kepada Bara.


"Ya, karena mulut mereka telah melukaimu." timpal Bara.


"Tidak, mereka tidak melukai ku, mereka berhak membicarakan apapun."


"TAPI AKU TIDAK SUKA DIA MEMBICARAKAN MU!" bentakan Bara sangat keras, Nayra yang mendengarnya memilih memundurkan tubuhnya. Sungguh jika seperti ini Bara terlihat lebih menyeramkan.


Bara mengusap wajahnya kasar, ia kehilangan kontrol lagi. "Maafkan aku." Bara menarik Nayra kedalam pelukan nya, mendekap gadis itu yang kini yang terlihat ketakutan.


"Ayo kita keluar." melihat Nayra yang hanya terdiam membuat Bara berinisiatif memboyong wanita untuk keluar dari lift.


"Lepas." seakan tersadar dengan posisi yang lebih intim, Nayra melepaskan pelukan Bara yang yang berada di pundaknya. Tubuhnya bergerak menjauh, ia hanya takut jika Bara berbuat macam-macam.


Kejadian tadi sudah mencerminkan jika Bara adalah sosok yang tempramental, dan memiliki emosi yang buruk.


Bara menghela napas, saat pintu terbuka barulah Bara menarik Nayra agar mengikutinya masuk ke dalam apartemen nya. Bara, pun, dengan sengaja mengunci dan membuang kuncinya keluar balkon, hingga Nayra yang melihatnya melotot kesal.


"Kenapa kuncinya dibuang?!!" pekik Nayra berlari menuju balkon, kunci kecil itu sudah tak terlihat lagi dari tempatnya berpijak. Entah bagaimana ia bisa keluar dari ruangan ini nantinya.


"Kemarilah, kunci itu sudah tak berguna lagi." Bara menyeringai. Semakin hari teknologi akan semakin canggih bukan? Jadi tak masalah jika kunci itu hilang ataupun dibuang. Karena pintu akses keluar masuk sesungguhnya hanya menggunakan Access Card atau kartu akses - kunci elektronik berbentuk kartu. Sehingga Bara  hanya perlu menempelkan kartu tersebut ke platform magnet yang berfungsi sebagai pengunci  pintu masuk utama menuju unit apartemen.


Bara mendengus sebal melihat Nayra yang tak kunjung mendekat. "Sampai kapan kau akan menatap ke bawah? Sampai kau menangis pun kunci itu tidak akan kembali lagi, Ayra." ucap Bara dingin.


Nayra mencengkram pinggir balkon mendengar ucapan Bara. Perlahan tubuhnya berbalik menatap Bara dengan tatapan menantang. "Apa yang kamu inginkan sebenarnya, Bara?" tanya Nayra spontan. Sudah tidak ada lagi sopan santun yang Nayra terapkan, tidak ada lagi panggilan 'Kak' untuk cowok seperti Bara yang selalu menindas kaum yang lemah.


^^^Bersambung....^^^


...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


See you


ranintanti

__ADS_1


__ADS_2