
...Terdapat sedikit adegan fulgar. Mohon yang tidak suka bisa di skip. ...
...Happy Reading ❤️...
Baru saja Evano akan mendorong kursi rodanya, namun Dokter wanita yang sejak tadi berdiri segera menahannya.
Evano menoleh, menatap dokter cantik itu dengan kesal. "Lepas, Dok! Saya harus kejar pacar saya."
"Tidak Vano, kamu tidak bisa mengejar mereka." kata Sang Dokter.
Evano menggeleng ribut. Jangan sampai Ayahnya berbuat sesuatu kepada Nayra. Dengan wajah memerah, dan berkeringat, Evano berusaha mengangkat kakinya.
Tidak bisa. Kakinya tidak bisa di gerakan sama sekali.
Bruk
Karena terlalu memaksakan, akhirnya Evano jatuh tersungkur. Bu Jasmin, dan Dokter cantik pun terpekik secara bersamaan.
"VANO."
Pekikan itu membuat Nayra kembali menoleh ke belakang. Disana terlihat Evano sedang berusha menyeret tubuhnya.
"Nak, jangan seperti ini." kata Bu Jasmin.
"Biar saya bantu kamu duduk lagi." belum sempat Dokter itu membantu, Evano sudah lebih dulu mendorongnya menjauh.
Evano menatap Ruri memelas. "Pak, aku mohon lepasin Nayra." Evano tak memperdulikan kedua orang di sampingnya. Dia malah semakin menyeret tubuhnya, berusaha sekuat mungkin untuk mengerjar Nayra.
Melihat perjuangan Evano, akhirnya Nayra berusaha melepaskan cengkraman Ruri di tangannya. Setelah cengkraman itu terlepas, Nayra berbalik, berlari kembali menghampiri Evano.
"Ayo, bangun Vano, jangan seperti ini." dengan di bantu Bu Jasmin dan Dokter cantik, akhirnya Evano sudah duduk di kursi roda.
Ruri menghembuskan napas kasar. Dia akhirnya mengalah, membiarkan gadis itu mendekati anaknya.
.....
__ADS_1
Bara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah sesiang ini Nayra tak kunjung keluar. Apakah gadis itu masih ada jadwal kuliah? Batinnya bertanya.
Karena tak bisa menunggu lama, Bara pun melangkah masuk. Banyak mahasiswi yang menatapnya dengan kagum. Bisik-bisik di sepanjang jalan seakan sudah terbiasa dia dengar.
"Kak Bara."
Bara menoleh. Melihat seorang gadis yang tengah memeluk beberapa buku paket. Sekilas Bara seperti tak asing dengan gadis di depannya.
"Pasti cari Nayra ya?" tanya gadis itu yang membuat Bara mengangguk. Bara menatap jas biru tua yang di pakai gadis itu.
Erina.
Ah. Bara seakan langsung mengenali gadis di depannya ini.
"Nayra tidak masuk lagi hari ini." ujar Erina. Bara mengerutkan keningnya bingung. "Tadi pagi sih, aku liat, Nayra pergi sama Bu Jasmin. Gak tau pergi kemana." jelas Erina sembari membenarkan letak buku paketnya yang melorot.
"Bu Jasmin?" tanya Bara.
Erina mengangguk. "Iya, Bu Jasmin, Ibunya Evano."
Sialan. Bara sontak mengumpat dalam hati. Kedua tangannya mengepal. Tatapannya semakin menajam, membuat Erina yang melihatnya sedikit merinding.
Bara mengeram. Memukul tembok di sampingnya, membuat orang-orang di sekelilingnya terkesiap. Mereka tidak ada yang berani mendekat untuk sekedar bertanya kenapa. Bara terlalu menakutkan untuk di dekati. Kemarahannya seakan mengguar di dalam tubuhnya.
Punggung tangan Bara terluka. Namun dia sama sekali tidak meringis. Bara malah dengan langkah tegas masuk kembali ke dalam mobil. Mengambil ponsel, dan segara menelepon Rizky.
....
Rizky sudah tak tahan. Dia segera melepaskan seluruh pakaiannya melihat seorang wanita sudah berbaring pasrah di atas kasur. Wanita itu tersenyum menggoda. Paha putihnya di pertontonkan membuat Rizky semakin tak karuan.
Padahal ini masih siang, tapi Rizky seolah tak peduli. Rizky seakan lupa dengan semua pekerjaannya jika sudah melihat ikan segar. Mata Rizky bahkan sudah berbinar saat wanita itupun ikut membuka pakaiannya.
"Sayang~"
Sialan. Wanita itu malah sengaja memanggilnya untuk memancing gairahnya.
__ADS_1
Dert
Dert
Ponselnya berdering. Rizky menatap sekilas nama yang tertera di layar ponsel itu.
Baranjing
Itulah nama yang tertera disana. Seakan tuli, Rizky mengabaikan panggilan dari sahabatnya. Dia malah merangkak, menyusuri paha mulus wanita yang kini tengah menutup matanya.
Dert
Dert
Tubuh Rizky berguling. Dia mengerang saat wanita itu tiba-tiba saja sudah berada diatas tubuhnya. Dengan susah payah Rizky berusaha meraih ponselnya, ia hanya tidak ingin terkena masalah, jadilah Rizky terpaksa mengangkatnya.
"LO KEMANA AJA SIALAN?!!! CEPAT BANTU GUE CARI NAYRA!!"
Sontak saja Rizky menjauhkan ponselnya mendengar teriakan Bara. Sahabatnya itu memang tidak bisa bersantai sedikit.
"Bar, gue-"
Tut
Lagi-lagi Rizky mengumpat. Anak sama Bapak memang sama aja, selalu membuatnya kerepotan. Rizky mengerang frustasi. Segera saja dia mendorong sang wanita yang tengah berada diatas tubuhnya.
"Sayang, kamu mau kemana?" wanita itu terlihat keheranan. Padahal permainan baru saja dimulai, tapi Rizky sudah akan bergegas pergi.
"Maaf sayang, aku harus pergi." Rizky segera memakai pakaiannya kembali. "Dan ini bayaran untukmu, sayang." lanjut Rizky dengan mengeluarkan segepok uang dari saku celananya.
Dari sekian banyak anak buah, Baranjing itu malah meminta bantuannya. Sialan. Baru saja dia akan meraup dahaga bersama wanitanya, tapi baru juga dimulai, si Baranjing itu malah menyuruhnya untuk mencari Nayra.
^^^Bersambung....^^^
^^^Senin, 23Agustus 2021^^^
__ADS_1
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....