Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 67


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


"Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini." Devina mendorong Reynald menjauh. Sesekali kepalanya menoleh kebelakang guna memastikan tidak ada orang yang mengikuti.


"Kamu kenapa sih?" Reynald bertanya bingung.


"Aku gak papa! Udah sana buruan pergi."


Reynald menyugar rambutnya ke belakang. Meski Devina terus mendorongnya, tubuh Reynald tetap kokoh berdiri. "Aku gak bakal pergi sebelum kamu bicara jujur. Dimana anakku?"


"Berapa kali aku bilang, anakmu sudah mati, Rey!" pekik Devina tertahan. Jangan sampai ada orang yang mendengar, atau melihat kedekatan mereka. Meskipun di area parkiran terlihat sepi, tapi banyak anak buah Matteo yang tersebar dimana-mana.


"Aku gak percaya." Reynald menggeleng. Kedua tangannya terlipat di depan dada, memindai Devina dari atas sampai bawah, lalu berhenti tepat di perut wanita itu. Perut itu sedikit membuncit. Tidak terlihat jelas memang, tapi kali ini Reynald tidak mungkin salah.


"Sudah berapa bulan kamu hamil?"


Deg


Devina mematung. Jantungnya berdegup cepat mendengar pertanyaan Reynald yang terkesan bossy.


"Bukan urusanmu!"


"Jelas itu urusanku. Kamu hamil anakku. Apa perlu aku jelaskan kalau di Rusia kita pernah-" mulut Reynald seketika langsung di bekap oleh Devina. Ekspresi wanita itu terlihat panik, dan gelisah. Kedua matanya pun melotot membuat Reynald terkekeh dibuatnya.


"Jangan katakan apapun!" tandas Devina.


Sebalah alis Reynald naik. Perlahan tangannya menurunkan tangan Devina yang membungkam mulutnya. "Jadi sekarang katakan, sudah berapa lama kamu hamil?"


"Tiga bulan."


Reynald membelalakan matanya terkejut. "Tiga bulan?" tanya Reynald tak percaya. Sialnya Devina malah mengangguk kaku.


"Kita harus menikah."


"Gak!" seru Devina cepat. "Aku gak mau nikah sama cowok brengsek kaya kamu!" Devina memukul Reynald bertubi-tubi. Reynald tidak menolak, membiarkan Devina melampiaskan kekesalannya.


"Pergi kamu! Pergi!" jerit Devina frustasi. Air matanya mengalir, namun dengan segara dia menghapusnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria brengsek seperti Reynald.


"Kita tetap harus menikah." putus Reynald.


"Gak! Aku gak mau! Aku sudah memiliki suami, dan dia jauh lebih baik dari kamu! Dia lelaki sempurna. Lelaki yang mau bertanggung jawab meskipun dia tidak melakukan kesalahan apapun. Dia hmpp..." semua kekesalan Devina teredam oleh ciuman mendadak dari Reynald. Pria itu menakan kepala belakang Devina guna memperdalam pungutan bibirnya.


Ciuman itu semakin nyata, menuntut Devina agar membalasnya. Mau tau mau Devina mengalungkan tangannya di leher Reynald. Mencoba mengimbangi permainan lelaki itu.


Pasokan udara dari keduanya mulai menipis, Reynald menghentikan ciumannya. Menatap Devina dengan tatapan membara. "Aku tidak suka mendengar mulut ini membicarakan lelaki lain." cetus Reynald sambil mengusap bibir Devina yang membengkak akibat ulahnya.

__ADS_1


"Aku juga tidak membutuhkan persetujuanmu. Mau tidak mau kita akan tetep menikah." putus Reynald akhirnya.


"MOMMY."


Devina sontak mendorong Reynald menjauh. Jantungnya berdegup kencang mendengar suara anaknya. Ditatapnya Reynald yang kini juga sedang menatapnya balik.


"Apakah dia anakku?"


Tangan Devina mengepal. "Lebih tepatnya anakku, bukan anakmu." desis Devina tajam.


Reynald terkekeh, kepalanya mengangguk dua kali.


"Halo boy." sapa Reynald saat bocah kecil itu sudah berada di hadapannya.


Devano menatap bingung. "Halo juga, Om. Om siapa?"


"Om itu calon suami Mommy mu."


"Calon suami itu apa?" tanya Devano tak mengerti.


"Calon suami itu-"


"Shut up, Rey!" Devina menyentak, membuat Reynald semakin tergelak senang. Ada kebahagiaan tersendiri baginya melihat wajah kesal Devina.


Devina merunduk, menatap wajah polos anaknya. "Mommy gak papa, sayang." ucapnya lembut.


"Dev kesini sama siapa sayang? Dev sendiri kan?" Devina bertanya cemas.


Dengan polosnya Devano menggeleng. "Dev sama Papa Bara mau susulin Mommy. Mommy lama, jadi Dev nangis, dan minta Papa buat anterin Dev ke Mommy." curhat anak itu.


"PAPA SINI." ajak Devano semangat.


Bara yang berada di ujung lorong dengan malas beranjak mendekat. Sedangkan Devina sudah ketar ketir di tempat, takut jika Bara melihat dirinya berciuman dengan Reynald.


"Ba-bara." cicit Devina menunduk dalam. Perasaan takut menyeruak di dalam hatinya. Tidak seharunya dia berciuman dengan Reynald disaat statusnya masih menjadi istri Bara.


"Maaf karena telah menganggu kegiatan kalian."


Devina mendongkak, tak mengerti dengan apa yang baru saja Bara ucapkan. "Ma-maksud kamu apa, Mas."


Bara mendengus jijik mendengar Devina memanggil dirinya dengan sebutan 'Mas'. Oh, astaga, lucu sekali, sampai Bara ingin membenturkan kepala wanita bermuka dua seperti Devina.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya merasa jika kehadiranku menganggu kegiatan kalian." timpal Bara.


"Tapi kita tidak melakukan kegiatan apapun, Mas."

__ADS_1


Bara tergelak mendengarnya. "Kau yakin? Tapi melihat bibirmu yang membengkak, dan lipstik yang belepotan, bukankah kalian baru saja melakukan kegiatan panas." pancing Bara tepat sasaran. Walaupun Bara tidak melihat mereka berciuman, tapi dengan menganalisis penampilan Devina saja seakan sudah cukup baginya.


Devina terkejut, sontak saja dia mengusap bibirnya kasar, seolah menghilang jejak-jejak lipstik di bibirnya.


Melihat kepanikan Devina, Reynald tertawa renyah.


"Apakah sejelas itu ya?" Reynald bertanya dengan bodohnya.


"Bara, aku bisa jelaskan semuanya, kita hanya-"


"Berciuman, dan mengenang masa lalu." cetus Reynald sembari merangkul Devina.


Devina mendelik marah. "DIAM!"


Sontak saja Reynald terdiam. Dia mengaduh saat Devina dengan kasar memukul tangannya, membuat rangkulan keduanya terlepas.


"Bara, aku bisa jelasin-"


"Jelasin di depan orang tuaku saja." kemudian Bara melenggang pergi. Meninggalkan Devina yang berteriak, memanggilnya.


Devina menggeleng panik. "Enggak. Bara, kita hanya sebatas teman. Tolong percaya sama aku. Jangan libatkan orang tua kamu. Mereka gak tau apa-apa."


"Bara."


"Bara."


Bara tak kunjung menoleh, membuat Devina semakin bertambah panik.


.


.


.


.


.


^^^Bersambung^^^


^^^Sabtu, 25 September 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...

__ADS_1


__ADS_2