Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 58


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Bara dan Devina adalah sahabat sejak kecil. Keduanya kerap kali selalu bersama. Tidur bersama, mandi bersama, dan bermain bersama. Saat itu, keduanya masih sangat kecil. Namun seiring waktu berjalan, keduanya pun mulai memberi jarak karena perbedaan rumah juga sekolah.


Semakin beranjak remaja, Bara sudah tidak dekat lagi dengan Devina. Gadis itu sudah memiliki kesibukannya, sama seperti Bara yang sibuk dalam organisasi di sekolahnya.


Pertemuannya bersama Nayra, membuat debaran dihati Bara muncul. Nayra yang lugu, cantik, dan juga ceria, membuat Bara semakin jatuh kepada sosoknya. Bara yang selalu memperhatikan Nayra, mengajaknya berbicara, serta menemaninya disaat gadis itu sendiri.


Bara lakukan semua itu hanya ingin dekat dengan Nayra.


Waktu semakin berjalan. Saat melihat Nayra bersama lelaki lain, saat itulah Bara ingin marah. Disaat Bara akan menjadikan Nayra pacarnya, disaat itulah Devina datang kembali ke dalam kehidupannya.


Bunga, boneka, serta coklat yang sudah ia beli. Persiapan untuk menjadikan Nayra pacarnya sudah hampir sempurna. Namun, belum sempat Bara mengatakan, Daddy Matteo datang, dan menghajarnya habis-habisan.


Awalnya Bara tidak mengerti. Kenapa Daddy nya tiba-tiba terlihat sangat marah? Kenapa Daddy nya memukulnya sampai babak belur seperti ini?


Semua pertanyaannya itu seakan terjawab saat tubuh ringkihnya di paksa menunduk tepat di hadapan seorang gadis yang dia yakini bernama Devina.


"Minta maaf padanya Bara!" bentak Matteo keras.


Bara mendongkak, menatap Daddy nya, lalu beralih menatap Devina yang sedang menangis di pelukan Sang Mommy.


"Mom, ada apa?" pertanyaan Bara meluncur.


Sheila yang sudah geram pun, menampar anaknya.


"Mommy tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi lelaki brengsek dan tidak bertanggung jawab, Bara!" ucap Sheila penuh kekecewaan.


"Maksud, Mommy?"


Hiks


Atensi Bara teralihkan saat mendengar isakan kecil dari Devina. Gadis itu menangis terisak dengan bibir pucat, rambut acak-acakan, dan terlihat tak terurus. Sesaat Bara tertegun melihatnya, merasa iba.


"Daddy akan menikahkan kamu dengan Devina." Matteo berujar tegas tak terbantahkan.


Bara yang masih terduduk di lantai mulai berdiri dengan susah payah. Tubuh lemahnya ia paksakan untuk bertopang pada dinding. "Menikah? Maksud Daddy apa?!" tuntut Bara.

__ADS_1


Matteo hendak memukul kembali putranya, namun Devina tiba-tiba berlari, menghadang pukulan itu agar tidak mengenai tubuh Bara.


"Jangan, Om. Aku- aku tidak papa. Tidak masalah jika Bara tidak mengakuinya. Biarkan hiks hiks, biarkan aku saja yang akan mengurusnya nanti." sambil mengusap perutnya, Devina kembali menangis. Matteo yang tidak tega pun menarik Devina kedalam pelukannya. Mengusap surai panjang yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Sttt, sudah jangan menangis." Matteo menepuk punggung Devina pelan. "Daddy pastikan, kalau Bara akan segera bertanggung jawab, dan menikahimu secepatnya."


"Dad!" protes Bara tak terima.


"Daddy tidak menerima alasan apapun, Bara! Kamu harus segera menikahi Devina sebelum perutnya membesar." kata Matteo tegas.


Bara menggeleng, menatap penuh amarah kearah Daddy nya. "Kenapa harus aku yang bertanggung jawab hah?!! Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya, Dad!"


Plak


Kepala Bara tertoleh ke samping saat Sheila kembali melayangkan tangannya. Tangannya bahkan sampai bergetar melihat bentuk kemerahan di pipi putranya.


"Mommy." lirih Bara dengan memegang pipinya yang terasa sangat panas.


Sheila memalingkan wajahnya, tak ingin menatap putranya. "Mommy tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi lelaki brengsek seperti ini, Bara. Devina hamil, dan itu anak kamu. ANAK KAMU BARA!" jerit Sheila.


Ucapan Bara terhenti saat Devina tiba-tiba saja semakin menangis. Isak tangisnya bahkan sampai terdengar sangat keras membuat Bara muak.


"Ba-Bara." dengan air mata yang mengalir deras, Devina menghampiri Bara. "Tidak masalah kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab. Tapi, hiks hiks tapi bagaimanapun juga ini adalah anak kamu."


Detik itu juga Bara mendorong Devina. Untung saja Sheila dengan cepat menahan tubuh gadis itu agar tidak menyentuh lantai. Sheila kini mengusap kedua bahu Devina yang bergetar ketakutan. Untungnya Sheila dapat dengan cepat menahan tubuh gadis itu sebelum menyentuh lantai. Sheila tidak bisa membayangkan jika Devina jatuh dan mengalami keguguran. Apalagi kehamilan Devina masih terlalu rawan, sedikit saja terkena benturan, bisa di pastikan janin itu tidak akan bisa selamat.


"BARA." Matteo berseru keras.


Wajah Bara memerah. "Anak siapa yang kau maksud hah?!"


Bugh


Matteo memukul kembali putranya. "ITU ANAKMU BODOH! JANGAN MENJADI PRIA BAJINGAN YANG MENYAKITI WANITA DISAAT WANITA ITU SEDANG HAMIL ANAKMU!"


Hah


Bara terbangun dari mimpinya. Hembusan napa kasar lagi-lagi keluar dari celah bibirnya. Bara memijit keningnya yang terasa berdenyut. Sebuah perban tak sengaja tersentuh saat akan memijit kepalanya.

__ADS_1


Kejadian beberapa tahun lalu kembali teringat jelas. Disaat itu, setelah dirinya di hajar habis-habisan oleh Matteo, ia sempat dirawat di rumah sakit selama satu minggu.


Setelah masa pemulihan selesai, saat itulah Matteo memaksanya kembali untuk segera menikahi Devina.


Bara yang kala itu tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya sengaja memberikan sebuah syarat, syaratnya pernikahan mereka harus di selenggarakan dengan sangat sederhana. Awalnya Matteo dan Sheila menolak, namun dengan bujuk rayu Devina, kedua orang tuanya akhirnya mengalah dan menyetujui syarat tersebut.


Pernikahan pun akhirnya di selenggarakan. Tidak ada yang tau selain kerabat terdekat. Tidak ada wartawan untuk meliput, Bara sengaja melakukan itu karena tidak ingin pernikahannya di ketahui oleh Nayra- gadis pujaannya sejak dulu.


Ceklek


Atensi Bara teralihkan saat mendengar suara pintu terbuka. Seorang Dokter masuk, diikuti Devina, serta kedua orang tuanya, tak lupa, si kecil Devano pun ikut dalam gendongan Matteo.


"Opa, Papa Bara kenapa?" pertanyaan polos Devano meluncur begitu saja. Matteo dengan pelan mengusap punggung cucunya.


"Papa Bara tidak papa, sayang." ucap Sheila menenangkan. Sedangkan Devina sejak tadi hanya diam menatap Bara sendu. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya, semua ini pasti karena dirinya. Dirinya yang lagi-lagi membawa kekecewaan untuk pria itu.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Matteo.


"Pasien hanya perlu beristirahat. Benturan di kepalanya memang tidak terlalu keras, hanya cedera di tangannya saja yang masih membutuhkan pangawasan. Selebihnya, semuanya baik-baik saja, Tuan." penjelasan itu membuat mereka semua menghembuskan napas lega.


.


.


.


.


.


^^^Bersambung^^^


^^^Selasa, 7 September 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...

__ADS_1


__ADS_2