
...Happy Reading ❤️...
"Totalnya jadi 267 ribu, Mbak."
Devina segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.
Setelah menebus obat, Devina keluar dari apotik dengan membawa kresek kecil. Saat sudah sampai di luar, tubuh Devina oleng, kresek putih yang berada di tangannya jatuh tercecer di bawah lantai.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?" seorang pria menunduk, membantu Devina memasukan obat yang tercecer itu kedalam kresek putih.
"Aku tidak papa, terimakasih." Devina tersenyum, matanya mendongkak menatap seorang pria yang tadi menubruk tubuhnya.
"Vina?" panggil pria itu terkejut, sama halnya dengan Devina. Tubuh wanita itu menegang, matanya melotot horor.
"Reynald." gumam Devina lirih.
Sosok pria yang di panggil Reynald tersenyum culas. "Ternyata benar ya kata orang, kalo jodoh memang gak akan kemana." kekehnya bangga.
Devina mengepalkan tangannya. "Ngapain kamu disini?"
"Tentu saja untuk menjemput kamu, dan anakku."
Plak
Reynald terkekeh. Tamparan Devina bukanlah apa-apa. Meski kini pipinya sudah di pastikan memerah.
"Cuih." Devina meludah. Dirinya terlalu muak dengan lelaki brengsek yang dulu pergi meninggalkannya hanya karena alasan karir.
"Kamu bilang apa? Anak? Anak mana yang kamu maksud? Anak yang udah kamu tolak kehadirannya?" Devina tertewa mengejek. "Sayang nya anak itu udah mati!" lanjut Devina tajam.
__ADS_1
Reynald menggeleng tak percaya "Kamu gak mungkin lakuain itu. Kamu gak mungkin tega membunuh darah daging kamu sendiri, Vina."
"Tapi itulah kenyataannya! Sekarang yang ada hanya anakku dan Bara, bukan anakmu." seru Devina marah. Tak sengaja matanya melihat sosok Bara yang sedang menunduk menalikan tali sepatu Devano di ujung koridor.
"Ikut aku." Devina menarik Reynald menjauh. Jangan sampai ia bertemu dengan Bara dan juga Devano.
.
.
.
.
.
"Papa gendong." Devano merengek. Matanya sudah berkaca-kaca ingin di gendong.
Selesai manalikan tali sepatu Devano, Bara kembali menarik anak itu untuk mengikuti langkahnya.
"Tapi, kaki Dev pegal, Papa." Devano mengadu. Bibirnya mulai melengkung ke bawa siap menangis, mengeluarkan air matanya.
Menghembuskan napas kasar, akhirnya Bara terpaksa menggendong Devano. Sejak tadi Devano terus saja merengek ingin menyusul Devina yang sedang mengambil obat di apotik. Jika bukan paksaan dari Matteo, Bara enggan sekali menyusul wanita itu.
"Mommy. Itu Mommy." Devano menunjuk keberadaan Mommy-nya yang sedang berlari tergesa-gesa.
Bara mengikuti kemana jari kecil itu menunjuk. Namun sayang seribu sayang, tepat saat Bara menoleh, Devina sudah menghilang di balik tembok.
"Papa, ayo susulin Mommy. Mommy kesana." di dalam gendongan Bara, Devano terus menggerak-gerakan kakinya seolah ingin cepat-cepat menyusul Sang Mommy.
__ADS_1
"Kamu yakin itu Mommy?" tanya Bara ragu. Bara takut jika Devano hanya salah melihat, karena setau Bara, Devina sedang menebus obat di apotik.
Devano mengangguk semangat.
"Iya, tadi Mommy lari-lari sana. Ayo Papa kita susulin."
Meski Bara terlihat ragu, namun kakinya terus melangkah ke arah yang di tunjuk oleh Devano.
"Mana? Kok gak ada? Kamu salah liat kali." decak Bara kesal.
"No." pekik Devano merasa tak terima. "Dev tadi liat Mommy sini narik-narik tangan Om, Papa."
Bara mengerutkan keningnya bingung. "Om? Om siapa maksud kamu?" tuntut Bara mulai merasa curiga.
"Dev gak tau. Dev gak kenal, Papa." dengan polosnya Devano menggeleng merasa tak kenal dengan pria yang bersama Mommy-nya.
.
.
.
.
.
^^^Bersambung^^^
^^^Rabu, 22 September 2021^^^
__ADS_1
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...