
...Happy Reading ❤️...
Taman rumah sakit adalah tempat dimana Nayra dan Evano berbincang. Bu Jasmin dan Pak Ruri tengah memantau keduanya dari jauh, sedangkan Dokter cantik yang bernama Jeanna sudah kembali bertugas.
"Kamu apa kabar?" tanya Nayra sembari mendorong kursi roda Evano. Nayra akan membawa Evano untuk berkeliling taman rumah sakit. Melihat Evano yang tak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Nayra menekuk lututnya tepat di hadapan Evano.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Nayra lagi sembari menatap Evano khawatir.
"Cincin itu-" Evano menatap jari manis Nayra. Sebuah cincin berlian dengan harga jutaan telah tersemat begitu indah. Nayra mengikuti kemana tatapan Evano mengarah. Cincin. Sontak saja Nayra melepaskan cicin itu dan menyimpannya di saku.
"Kenapa di lepas?" tanya Evano heran. "Itu pasti cincin pertunangan kamu ya?"
Nayra tidak menjawab. Gadis itu menatap Evano dalam diam. Tatapan kecewa yang dilayangkan Evano membuat Nayra tak mampu berucap.
"Cantik. Cincinnya cantik. Apalagi yang pakai itu kamu." Evano terus memuji Nayra. Seakan dengan memuji, Nayra akan senang. Tapi itu malah sebaliknya, bukannya senang, Nayra malah menunduk lesu.
"Maaf." sesal Nayra dengan kepala menunduk. Nayra meraih kedua tangan Evano, menyimpannya dalam satu genggaman tangan. "Maaf karena telah membuat kamu khawatir. Maaf karena sudah lama aku tidak menjenguk mu, dan maaf karena aku baru bisa melihatmu sekarang." jelas Nayra penuh sesal.
Evano menggeleng, membalas genggaman tangan Nayra tak kalah erat. "Bisa tolong kamu jelaskan, berita di tv itu- apakah benar, Nay?"
Genggaman di tangan Evano semakin mengerat. Nayra tidak bisa menjelaskan apapun untuk saat ini. Nayra takut jika suatu hari nanti Bara akan mencelakai Evano. Kekayaan, kekuasaan yang Bara miliki, tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Evano. Evano hanya anak dari seorang petani, sedangkan Bara adalah anak dari seorang pengusaha ternama.
"Jadi..." suara Evano tercekat. Bayangan yang selama ini menghantuinya kini telah terjadi. Pergi di tinggalkan oleh orang yang ia cintai, apalagi orang yang dicintainya malah pergi dengan pria lain. Sanggupkah Evano untuk menerima semua kenyataan ini?
__ADS_1
Tiba-tiba saja Evano mendorong Nayra. Gadis itu jatuh terduduk tepat di bawah kursi rodanya. "Jika benar kamu memilih pengusaha itu, seharusnya kamu tidak perlu datang kesini, Nay. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura mengkhawatirkanku, mencintaiku, atau menyayangiku. Kenapa kamu sejahat ini? Apa salahku sampai kamu harus memilih pergi dengan pria lain?" disela-sela ucapannya, Evano tertawa hambar. "Apa karena aku cacat? Karena aku lumpuh kamu tega ninggalin aku? Iya aku tau! Aku cuma seogok sampah yang sudah kamu buang. Aku cuma lelaki yang tidak bisa mencari nafkah, lelaki yang tidak bisa membuat orang yang dicintainya bahagia. Aku-"
"Cukup Vano! Cukup!" sela Nayra berteriak frustasi. "Jangan katakan apapun lagi. Aku tidak ingin dengar apapun." Nayra menutup kedua telinganya.
Evano yang melihatnya pun menarik tangan Nayra pelan. Ia belum selesai berbicara, tapi gadis itu sudah menutup telinganya. "Lihat aku. Aku lumpuh. Aku gak bisa antar jemput kamu lagi. Aku gak bisa ajak kamu jalan-jalan lagi. Aku sudah menjadi beban bagi keluarka aku, Nay. Aku sudah tidak bisa lagi mencari uang untuk membantu keluarku. Semuanya seakan hilang dalam sekejap." Evano manarik napas panjang.
Kemudian dia melanjutkan. "Kenapa tuhan jahat banget Nay? Disaat aku sudah bahagia, disaat aku sudah banyak bersyukur, tuhan malah dengan teganya mengambil semuanya. Setelah kaki aku di ambil, tuhan juga serakah ya, tuhan juga malah mengambil kamu dari aku."
Nayra menangis melihat tatapan kosong Evano. Pria itu layaknya boneka hidup. Dia terus berbicara, melamun, dan seseki tersenyum pedih.
"Aku juga ingin pergi. Tapi Tuhan malah tidak mengizinkan." Evano meraba perban yang melilit di tangannya. Teringat jelas bagaimana dia menyayat pergelangan tangan itu dengan pisau. Berharap jika ketika ia bangun nanti, ia sudah pergi dari kehidupan kejam ini, tapi nyatanya tidak, tuhan masih ingin melihat dirinya semakin menderita, tuhan ingin melihat dirinya semakin kesakitan menerima kenyatan-kenyataan yang ada.
"Cukup Vano." kata Nayra.
"LEPAS! LEPASIN GUE NAY! GUE PENGEN MATI!!! GUE PENGEN MATIIII." jerit Evano yang membuat Nayra mati-matian menahan air matanya. Tak pernah sekalipun Nayra melihat keadaan Evano yang seperti ini.
"NAY. NAY. NAY." Evano melepaskan paksa pelukan Nayra. Di tangkupnya pipi Nayra, hingga kedua mata kedua bertemu. "Jangan pergi ya, jangan tinggalin aku." kemudian Evano menepuk pahanya, memukulnya berulang-ulang kali.
"Lihat Nay, lihat aku bisa jalan kok." Evano mencoba berdiri, namun secepat kilat Nayra memahan tubuh itu yang hendak terjatuh.
"Kok gak bisa di digerakin? Ngak! Ngak! Gue itu bisa jalan, Nay. Lihat, lihat. Ahkkkkkkk" Evano kembali menjerit saat kedua kakinya tak kunjung bergerak. Semuanya mati rasa. Evano menatap Nayra gelisah, ada kekhawatiran dan juga ketakutan yang membuatnya seperti ini.
"Cukup, Vano. Berhenti nyakitin diri kamu sendiri." Nayra menahan tangan Evano, menghentikan segala pukulan yang dilayangkan Evano kearah kakinya.
__ADS_1
"Gak! Ini gak mungkin! Gue gak mungkin lumpuh. Gue bisa jalan. Iya gue bisa jalan." ketahanan Nayra tidak sebanding dengan kekuatan Evano. Pria itu malah mendorong Nayra, hingga Nayra jatuh terjembab di atas tahan.
Evano berteriak. Memukuk-mukul kembali kakinya. Sesekali pria itu juga menjambak rambutnya sendiri membuat Nayra yang sejak tadi menahan tangis akhirnya menangis sudah.
"DOKTERRR." Nayra berteriak. Keadaan Evano semakin kacau, tak terkendali. Pria itu bukan hanya memukul, tapi juga mencakar-cakar perban di pergelangan tangannya. Perban itu sudah berubah menjadi kemerahan. Beberapapa plester pun sudah tidak lagi mampu merekat. Nayra berusaha menghentikan segala pemberontakan yang dilakukan Evano.
"DOKTEEER." kembali Nayra berteriak. Meski kini sesekali pukulan itu mengenai tubuhnya, tapi Nayra tidak peduli. Keadaan Evano saat ini cukup mengerikan.
Bu Jasmin, Pak Ruri, beserta Dokter Jeanna berlari tergesa.
Bu Jasmin sudah menangis. Pak Ruri manarik Nayra untuk segera mundur. "Menjauh dari anak saya!" bentak Pak Ruri. Sedangkan Dokter Jeanna dengan sigap menyuntikan sebuah cairan penenang kearah Evano.
Lambat laut pemberontakan Evano melemah. Pria itu perlahan menutup matanya, sembari tersenyum kearah Nayra.
"Jangan pergi, Nay." lirih Evano sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
Nayra yang mendengarnya tak kuasa menahan tangis. Nayra membekap mulutnya, menahan segela isak tangis agar tidak terdengar oleh mereka. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada mereka. Namun saat melihat Evano di bawah pergi menjauh, disitulah tangisan Nayra tumpah. Tubuhnya merosot kebawah. Nayra menangis dalam diam, menatap kepergian Evano yang semakin menjauh, menghilang dari pandangannya.
^^^Bersambung....^^^
^^^Selasa, 24 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....