
...SEBELUM MEMBACA BUDAYAKAN LIKE, COMENT, AND SHARE YA!...
...FOLLOW AUTHOR DULU YUK!...
.......
.......
.......
.......
...HAPPY READING ❤️...
"Bara, Mommy bawa makanan nih. Kamu makan dulu ya." seperti biasa Sheila akan mengantarkan makanan ke ruangan putranya.
"Simpan aja di meja, Mom." timpal Bara cuek.
Sheila menghela napas. Tak urung, dia pun menurut, menyimpan makanannya di atas meja.
Sudah satu bulan berlalu setelah perceraian putranya. Entah kenapa Sheila malah merasa kehilangan. Padahal dia sendiri yang meminta Bara untuk menggugat Devina, tapi setelah mereka benar-benar bercerai, hatinya malah merasa kosong.
Mension besarnya kembali sepi. Tidak ada lagi tawa Devano. Tidak ada lagi rengekan manja Devano saat meminta makanan. Dan tidak ada lagi jeritan heboh, tangisan menggemaskan Devano. Semua sudah hilang.
Bolehkah Sheila jujur, jika dia merindukan Devano. Meskipun Devano bukanlah cucunya, tapi rasa sayang itu masih ada. Sheila hanya tidak terima hingga berakhir dengan membenci Devina, bukan membenci Devano. Anak itu tidak tahu apapun, rasanya tidak tega jika anak sekecil itu menerima kebencian darinya akibat ulah orang tuanya.
"Kalo sudah selesai, Mommy bisa pulang. Biar nanti supir ku yang akan mengantarkan Mommy." suara Bara kembali terdengar.
"Bolehkah, Mommy menginap disini?"
"Tidak." timpal Bara cepat.
Sheila tersenyum getir. Putranya menjadi gila kerja semenjak Nayra di nyatakan hilang. Sungguh, Sheila merasa menyesal. Beribu kata maaf pun tidak akan pernah mengembalikan gadis itu. Gadis yang sudah dia lukai hatinya. Dia bahkan malu menampakan dirinya jika suatu saat gadis yang bernama Nayra itu kembali di pertemukan dengannya.
"Maaf."
Bara yang sedang menandatangani beberapa berkas terhenti. "Sudahlah, Mom. Sebaiknya Mommy pulang. Besok-besok jangan bawa makanan lagi, karena Rizky setiap hari juga kesini, bawa makanan."
Sheila membasahi bibirnya. Setiap dia meminta maaf, putranya pasti akan selalu menghindar. Dia sadar, jika ucapannya dulu sungguh keterlaluan kepada Nayra.
"Kalo gitu Mommy pulang." Sheila berdiri dari duduknya. "Jangan lupa makanannya di makan. Jangan sampai sakit ya, jangan buat Mommy khawatir."
Bara mengangguk. Tidak berniat menoleh sedikit pun. Setelah Mommy nya benar-benar tak terlihat, barulah Bara beranjak mendekat kearah jendela. Hanya ingin memastikan Mommy nya benar-benar diantar pulang oleh supir.
Ting
Ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa peneleponnya, Bara segera mengangkatnya.
"Ada apa?" tanya Bara to the point.
"Daddy sudah menemukan keberadaannya, Nak."
Bara nyaris tak bisa bernapas mendengar penuturan Matteo di sebrang sana. Dadanya membuncah senang. Setelah pencariannya selama berhari-hari, akhirnya ia bisa menemukan keberadaan Nayra.
"Dimana?"
"Singapure."
Kali ini Bara tidak bisa lagi menahan umpatannya. Pantas saja dia tidak bisa menemukan keberadaan Nayra, rupanya gadis itu pergi ke negera tetangga.
"Tidak ada waktu lagi. Kamu harus segera kesini, Nak. Karena besok, Nayra sudah akan menikah dengan lelaki lain."
PRANG
Bara menendang guci di sampingnya. "Siapa?! Siapa lelaki yang berani-beraninya menikahi calon istriku?!"
"Kau akan tau nanti. Cepatlah kesini, dan batalkan pernikahan mereka."
__ADS_1
Tut Tut
Panggilan pun terputus.
"Arghhhh." Bara berteriak marah.
Semua barang-barang di atas nakas sudah tercecer di bawah lantai. Kemarahannya tercetak sangat jelas setelah mendengar kabar jika Nayra akan segera menikah.
Ini tidak bisa dibiarkan. Nayra adalah miliknya. Gadis yang tidak akan pernah ia lepaskan sampai kapanpun.
"Siapkan penerbangan siang ini. Saya akan sampai dalam waktu sepuluh menit lagi."
Setelah menghubungi sekertarisnya, Bara memakai jas kantornya dengan tergesa.
.
.
.
.
.
"Cepat ikuti dia." Sheila menyuruh supir pribadinya untuk mengikuti mobil Bara. Padahal dia hanya ingin membeli kue di supermarket dekat perusahaan putranya. Tak di sangka dia melihat putranya berjalan tergesa masuk ke dalam mobil.
"Cepat. Jangan sampai ketinggalan." kesal Sheila.
Mobil yang di tumpangi Bara rupanya langsung melesat cepat. Sheila bahkan sempat menahan napas saat mobilnya nyaris menabrak orang. Untung saja orang itu dapat menghindar, jika tidak entah apa yang akan terjadi.
.
.
.
.
.
"Sudah kamu terima saja. Kamu tuh harusnya bersyukur karena Pak Aeric mau sama kamu. Coba kalo Pak Aeric gak naksir kamu, mana mungkin kita hidup enak kaya gini. Yang ada nanti kita jadi gembel di negara ini. Mau kamu hah?" cerocos Sarah.
Memang Pak Aeric adalah bos di perusahaan tempat Nayra bekerja. Padahal Nayra hanya menjabat sebagai staf marketing. Bertemu dengan Pak Aeric pun bisa di hitung jari. Tapi entah bagaimana bisa seminggu yang lalu Pak Aeric datang ke rumah, melamarnya di depan Sang Bunda dan juga Kakaknya.
Nayra tentu saja menolak, tapi Sarah malah mendesak, dan memaksanya untuk menerima lamaran tersebut. Nayra mau tak mau akhirnya menerima, apalagi Sang Bunda juga terlihat senang.
"Udah sana turun, temui calon suamimu."
Nayra mendengus malas. "Iya-iya." setelah berjam-jam Sarah mendandani, akhirnya Nayra dapat bernapas lega.
Nayra kembali menatap dirinya di depan cermin. Dirasa tidak ada yang kurang, Nayra melangkah pergi untuk menemui Pak Aeric.
.
.
.
.
.
"Maaf, nunggu lama ya, Pak."
Aeric yang sedang memainkan ponselnya mendongkak. Terpana melihat kecantikan Nayra.
"Pak? Bapak kenapa?" Nayra melambaikan tangannya di depan wajah Aeric. Aeric seakan tersadar, pria itu mengerjap pelan dan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Sudah siap?" tanya Aeric.
"Sudah, Pak." Nayra mengangguk, membalas senyum manis Aeric.
"Jangan panggil Pak dong. Bentar lagi kan kita nikah, masa panggilannya Pak. Panggil nama aja, atau mau panggilan sayang juga gak papa kok." gombal Aeric terkekeh renyah.
Nayra tersenyum kaku. "Ka-kalo gitu, aku panggil Kak Aeric aja gimana?"
Aeric terlihat berpikir. "Boleh deh."
Lalu kedua berjalan beriringan. Aeric bahkan sudah berani merengkuh pinggang ramping Nayra. Mengiring Nayra untuk masuk ke dalam mobil. Tubuh gadis itu sempat tersentak, namun setelahnya kembali rileks.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Nayra setelah mereka duduk di dalam mobil.
"Rahasia. Kita akan pergi berkencan. Menghabiskan malam bersama tentunya."
Nayra seketika menoleh, menatap Aeric dengan tajam. Apa maksud pria itu sebenarnya? Kenapa ucapannya seakan memiliki niat terselubung.
"Hahaha, tenang saja, aku tidak akan berbuat apapun kepadamu."
Mencoba tetap tenang, akhirnya Nayra mengangguk, mencoba mempercai ucapan pria itu.
Selang beberapa menit, mereka telah sampai. Nayra mengerutkan keningnya, merasa tidak mengenali tempat ini.
"Ayo masuk."
Nayra menyambut uluran tangan Aeric. Keduanya lalu masuk ke dalam setelah menjalani beberapa pemeriksaan di depan.
Suara bising mulai terdengar. Semakin berjalan ke dalam, hatinya semakin merasa gelisah. Lalu setelah pintu besar terbuka, Nayra menahan napas melihat ruangan yang di penuhi oleh orang-orang yang berpakaian seksi.
Nayra tidak bodoh. Ini adalah klub. Suasa seperti ini sama persis saat ia bekerja di salah satu klub milik Eros- sepupu Erina.
"Ki-kita ngapain kesini?" Nayra takut sungguh. Ia ingin pulang. Suasa disini tidak nyaman. Banyak asap rokok mengepul dimana-mana membuatnya kesulitan bernapas.
"Tentu saja kita akan bersenang-senang. Sekali-kali kamu juga harus menikmati hidup." Aeric mengiring Nayra menuju kearah teman-teman.
"Wuihh bos, cewek lo cantik juga."
Aeric terkekeh. Secepat kilat bibirnya mencium pipi Nayra. "Iya nih, saking cantiknya gue sampe gak tahan."
Nayra terkejut dengan tindakan Aeric yang mencium pipinya tiba-tiba. Ingin marah, tapi takut. Nayra seperti kucing diantara para buaya yang menatap intens kearahnya.
"Tenanglah." Aeric berbisik, lalu mendudukan Nayra di atas pahanya. Nayra memberontak, tidak nyaman rasanya duduk di atas pangkuan seperti ini.
"Sttt, tenang jangan takut. Ini, minum dulu biar lebih tenang." Aeric memberikan sebuah gelas kecil berwarna putih. Tanpa di perintah dua kali, Nayra segera menegaknya. Ia pikir itu hanya air putih, tapi siapa sangka saat sudah sampai di tenggorakan Nayra malah terbatuk keras.
"Mi-minunan apa ini?" Nayra bertanya setelah dirasa batuknya berhenti.
"Vodka."
Detik itu juga Nayra melempar gelas kecil itu. Kini dirinya benar-benar takut sekarang. Takut jika minuman itu merenggut kesadarannya.
.
.
.
.
.
^^^BERSAMBUNG...^^^
^^^SENIN, 4 Oktober 2021^^^
...1252 KATA. TEGA SEKALI KALIAN KALO SAMPAI TIDAK MENINGGALKAN JEJAK....
__ADS_1
...SETELAH MEMBACA DI MOHON TINGGALKAN JEJAK YA. SYUKUR-SYUKUR KALO DI KASIH HADIAH, AUTHOR SENENG BANGET :)...