
...Happy Reading ❤️...
"Aaaaaa sohib gue udah tunangan. Mana calonnya raja bisnis lagi." Erina datang, dengan Eros yang mengekor di belakang. Sedangkan Rizky, pria itu sibuk di kelilingi wanita-wanita cantik.
"Lo bisa diem gak sih? Dari tadi gue perhatiin nyerocooos terus." sentak Eros kesal.
Mendengar ucapan sepupunya, Erina memukul kepala Eros cukup kencang. Eros mengaduh, mengusap kepalanya pelan.
"Aww,,, sakit, Rin. Lo jadi cewek bar-bar banget, pantes Rizky gak mau sama lo."
Erina melotot, siap memukul kembali sepupunya. Tapi sebelum itu terjadi, Eros sudah lebih dulu bersembunyi di balik punggung Nayra.
"Eh?" Nayra kebingungan, ia menatap mantan bosnya yang tengah beradu mulut dengan sahabatnya. Sejak kepan mereka sedekat ini? Setaunya Erina tidak pernah dekat dengan lelaki, ia hanya pernah bertemu Erina dan Eros satu kali, itupun ia tidak tau apa hubungan diantara keduanya.
"Kalian pacaran?" celetuk Nayra tiba-tiba.
Erina melotot. Eros bergidik jijik.
"Gue? Pacaran sama dia? Idiih amit-amit." kelakar Erina sambil menggeleng pelan.
Eros mendengus. "Tipe gue bukan kek gini ya, Nay. Udah bar-bar, gak punya sopan santun, tomboy. Mana ada cowok yang mau sama dia."
"Lo!" Erina mengeram. Tangannya mengepal siap memukul kembali Eros.
Nayra tertawa. Tubuhnya dibawa berputar oleh Eros. Ia seakan menjadi pelindung untuk pria itu dari keganasan Erina.
"Nay, minggir Nay. Gue harus kasih pelajaran sama tuh cowok brengsek."
"Udah, Rin. Malu itu diliatin orang-orang." ucap Nayra sambil menunjuk para tamu undangan.
Erina cemberut, akhirnya ia mengalah membiarkan Eros lepas dari pukulannya. Lihat saja jika bukan diacara seperti ini, ia akan membalasnya nanti.
Melihat Erina yang sudah tidak mengejarnya lagi, Eros memeletkan lidahnya.
Bruk
"Asu!" Eros mengumpat saat seseorang menendang betisnya.
Erina dibuat tertawa, sedangkan Nayra masih terdiam, menampilkan raut datar seperti biasanya ketika melihat sosok Bara.
"Jangan modus lo sama calon istri gue." tandas Bara tajam.
Eros mendengus, mengusap betisnya karena tendangan Bara yang tak main-main. Entah sejak kapan Bara kini sudah berdiri di samping tubuhnya.
Setelah menyingkirkan Eros, Bara dengan santainya memberikan sebuah cake kepada Nayra. "Makan." ucap Bara memerintah.
Bukannya menerima, Nayra malah melongos dan membantu Eros agar kembali berdiri tegak. "Pak Eros tidak papa?" tanya Nayra khawatir.
"A-ah tidak! Tidak papa, Nay." Eros dengan segera menjauhkan tubuhnya dari Nayra. Bisa diamuk masa ia kalau sampai Bara cemburu buta melihat kedekatannya dengan Nayra.
"Syukurlah kalau tidak papa." gumam Nayra yang masih di dengar oleh Bara.
Bara sudah menatap tajam Eros. Eros meneguk ludahnya susah payah, kemudian ia menarik Nayra untuk segera menjauh dari pasangan itu.
__ADS_1
"Ayo Rin, anterin gue bawa galon." celetuk Eros asal. Sebelum mendengar protesan dari Erina, Eros sudah lebih dulu menarik sepupunya itu menjauh.
Nayra dibuat melongo dengan ucapan mantan bosnya itu. Galon? Setaunya disini tidak ada galon. Hanya ada beberapa minuman dengan berbagai warna, dan makanan lainnya.
"Makan."
Nayra yang sejak tadi melihat kepergian Eros dan Erina, terpaksa mengalihkan tatapannya, kembali menatap Bara.
"Aku gak laper." ucap Nayra.
Bara menghela napas. Menarik tangan Nayra, dan memaksa gadis itu untuk menerima kuenya. "Makan, dari tadi aku liatin kamu belum makan apapun."
"Aku bilang aku gak laper, Bara." tandas Nayra kesal. Ia menyimpan kue itu tepat di samping meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Melihat penolakan Nayra, Bara membuang napasnya kasar. Ingin marah, tapi tidak bisa karena kini dirinya sudah menjadi pusat perhatian.
"Mau kamu apa?"
Nayra melirik Bara sekilas. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan itu, karena jelas-jelas Bara tidak akan pernah mau memberikannya.
"Nayra." Bara geram melihat keterdiaman Nayra.
"Lepasin aku. Biarin aku hidup sama pilihan aku sendiri, Bara." timpal Nayra.
"Gak." tegas Bara.
"Bara, aku mohon. Banyak wanita di luar sana yang mau sama kamu. Kamu tampan, mapan, dan punya segalanya."
"Aku bilang gak! Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu."
"Yes that's me." balas Bara dengan mengangguk pelan.
Nayra melongos, memalingkan wajahnya menatap tamu undangan. Ia tak tahan melihat wajah Bara. Rasa marah, dan ingin melawan seakan berkobar melihat Bara yang memanfaatkan kekuasaannya untuk mendapatkannya.
....
"Lepas." Erina menyentakan tangan sepupunya itu kesal. "Lo kenapa sih main narik tangan gue gitu aja?!!"
Eros cengengesan. "Hehe,,, sorry Rin. Gue takut di amuk Bara."
"Halah cemen banget lo jadi cowok. Gitu aja takut." balas Erina dengan tatapan mengejek.
Eros dibuat kesal. "Emang lo sendiri berani?"
"Gak." jawab Erina polos.
Eros mendungus, ia beranjak pergi meninggalkan Erina yang tengah sibuk dengan berbagai hidangan yang ada. Gadis itu memang akan melupakan segalanya jika sudah bertemu dengan makanan kesukaannya.
.....
Tok
Tok
__ADS_1
Bu Jasmin mengetuk pintu kamar anaknya. Sejak siang tadi Evano tidak kunjung keluar, membuat perasaannya khawatir.
"Vano, boleh Ibu masuk?"
Tidak ada sahutan dari dalam. Bu Jasmin pun berinisiatif mengambil kunci cadangan, dan membuka pintu kamar anaknya pelan.
"Vano." panggil Bu Jasmin.
Masih tidak ada jawaban.
Bu Jasmin semakin melangkah masuk. Diliriknya kearah kasur yang tidak mendapati seorangpun disana.
"Nak, kamu di kamar mandi?" tanya Bu Jasmin lagi.
Pintu kamar mandi itu tertutup, mungkin saja kan anaknya sedang berada di kamar mandi. Entah sedang mandi, atau sedang buang air kecil.
Masih tidak ada jawaban apapun.
Karena perasaannya semakin tidak enak, akhirnya Bu Jasmin membuka pintu kamar mandi itu dengan paksa.
Saat pintu itu terbuka. Bu Jasmin dibuat shock. Matanya melotot. Tubuhnya menegang kaku. Jantungnya berdegup kencang. Air matanya mengucur deras. Dengan langkah tergesa Bu Jasmin berlari, menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
"VANO!!!" jerit Bu Jasmin.
....
"Sudah cukup." Bara merebut paksa gelas yang berada di tangan Nayra. Gadis itu mabuk. Memang ada beberapa minuman yang beralkohol disini, namun semua itu hanya berdosis rendah.
Nayra yang memang tidak tau jika minuman itu beralkohol hanya meneguknya saja. Padahal baru satu gelas, tapi ia sudah semabuk ini. Ia memang lemah dengan minuman seperti itu.
"Kambalikan." paksa Nayra berusaha merebut gelas itu kembali. Pandangan sayu, wajahnya memerah terlihat menggemaskan di mata Bara.
"Tidak. Kamu sudah mabuk, Ay." Bara membuang gelas itu menjauh, mendekap tubuh Nayra yang hendak memungut gelas itu kembali.
"Lepas. Lepasin aku, hiks hiks." Nayra tiba-tiba saja menangis, tapi tidak ada satupun air mata yang keluar dari pipinya.
Bara dibuat terkekeh. Dibawanya tubuh Nayra ke dalam dekapan hangatnya. Meski keduanya masih berada di tengah-tengah acara, tetapi Bara tidak peduli, biarlah seperti ini, karena jika Nayra dalam keadaan sadar, pastilah gadis itu akan menampar, dan menyuruhnya menjauh.
"Kamu jahat, Bara, jahat."
"Iya, maaf." meski dalam keadaan mabuk, tetapi Bara tetap membalas ucapan Nayra.
"Aku gak mau kaya gini, aku gak suka, Bara. Tolong, lepasin aku-"
Cup
Bara mengecup bibir Nayra gemas. Ia tidak ingin mendengar ucapan Nayra selanjutnya. Ia tidak marah. Ia hanya tidak suka saat Nayra terus saja mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
Nayra mencebik, bibirnya melengkung ke bawah. "Jangan cium-cium ishh!" kesal Nayra sambil berusaha mendorong tubuh Bara menjauh. Bukannya menjauh, Bara malah semakin mendekap Nayra erat.
^^^Bersambung....^^^
^^^Kamis, 19 Agustus 2021^^^
__ADS_1
...Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....