Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Pingsan


__ADS_3

Happy Reading ❤


Nayra memejam mata. Lelah yang dirasa seakan hilang setelah mendengar Evano tertawa begitu lepas. Sejak pulang dari taman rumah sakit tadi, tak henti-hentinya Evano tersenyum, dan bersikap manis sekali kepadanya.


Dert


Dert


Ponsel yang berada di atas meja berdering. Nayra bergegas melihat siapa yang menelfonnya. Nomer tak dikenal. Awalnya Nayra ragu, namun setelah satu pesan masuk, barulah Nayra tau jika orang penelfon itu adalah Bara. Lelaki brengsek yang melecehkannya, menciumnya di depan mantan bosnya-Eros.


Huh


Nayra membuang nafas. Mengusir ingatan-ingatan yang bisa saja merusak kinerja otaknya. Ponsel pun kembali berdering. Nayra segera mengangkatnya.


"Halo, sayang."


Sapaan di sebrang sana membuat Nayra sedikit tertegun.


"Turunlah, aku berada di parkiran rumah sakit."


Nayra melotot. "Apa?!!" Nayra terpekik kecil. Hampir saja ia membangunkan Evano yang baru saja terlelap setelah minum obat. Lelaki itu hanya bergerak sedikit, dan kembali tertidur.


Nayra mendesah lega. "Kamu ngapain kesini?!" bisik Nayra melangkah menjauh agar tidak menganggu tidur Evano.


"Tentu saja menemui calon istriku. Memangnya apa lagi?"


Jawaban itu terdengar santai. Nayra mendengus mendengarnya. "Sebaiknya kamu kembali dan jangan datang lagi kesini. Aku sedang sibuk, dan tidak bisa di ganggu."


"Kalo gitu biarkan aku yang kesana."


Nayra berdecak pelan. "Tunggu disitu. Jangan kemana-mana." mencium kening Evano sekilas, lalu berjalan tergesa membuka pintu.


Panggilan masih terhubung. Hingga Nayra bisa bertanya posisi Bara sekarang.


B 1234 XX


Itulah plat mobil Bara. Setelah melihatnya, Nayra mengetuk kaca mobil, hanya untuk memastikan apakah di dalam benar Bara atau bukan. Saat pintu kaca itu terbuka, Nayra bisa melihat seringai Bara yang sungguh sangat membuatnya geram.


"Masuklah."


Nayra masuk. Membanting pintu dengan kesal. "Ada apa?" tanya Nayra tanpa basa-basi. Untuk lelaki tipe Bara yang dominan memang tidak suka berbelit selalu saja to the point.


"Aku merindukanmu." detik itu Nayra terkejut. Matanya terbelalak hampir saja keluar saat Bara menarikya mendekat. Mencium pipinya sekilas, kemudian bergerak memeluk tubuhnya sangat erat.

__ADS_1


Untuk sesaat Nayra masih termenung. Hanya sebentar, karena saat merasakan kecupan di sekitar lehernya membuat Nayra seakan tersadar. Nayra mendorong pundak Bara. Menjauhkan bibir lelaki itu yang dengan lancang telah memberikan sebuah tanda.


"Kamu-" Nayra melotot. Melihat ruam merah di aplikasi camera ponselnya. "Kenapa kamu melakukan ini?!! Bagaimana jika orang lain melihat? "


"Memang itu tujuanku." timpal Bara. "Aku belum makan, kita cari makan dulu ya."


"Tungg dulu." Nayra menahan lengan Bara. Menghentikan tangan itu agar tidak menyalakan mobilnya. "Aku tidak bisa menemani kamu saat ini. Evano sedang membutuhkanku."


"Aku juga butuh kamu, aku belum makan dari pagi."


"Bara." tatapan Nayra memelas. Berharap lelaki itu dapat mengerti. Tapi sepertinya tidak, saat Bara dengan wajah datarnya itu malah menjalankan mobilnya keluar dari gerbang rumah sakit.


"BARA." Nayra menjerit merasakan mobil yang di tumpanginya kini melaju dengan cepat. Sebisa mungkin Nayra mencari pegangan agar tubuhnya tidak terbentur dasbord mobil.


"Bara pelankan mobilnya." jeritan Nayra sama sekali tidak digubris. Lelaki itu terus saja menajalankan mobilnya tanpa mau peduli dengan apa yang dirasakan Nayra.


Ciittt


Dugh


"Ashh..." Narya meringis saat tiba-tiba saja Bara menginjak rem nya secara mendadak. Nayra yang tidak memakai sabuk pengan tentu saja langsung tersungkur ke depan. Sangat keras. Saking kerasnya Bara sampai menoleh dengan raut khawatir.


Panggilan dari Bara sama sekali tak gubris. Kepalanya sangat sakit. Bahkan Nayra kini masih menunduk, merasakan denyutan-denyutan yang amat dahsyat yang baru saja terjadi. Telinganya berdengung, samar-samar ia melihat Bara berteriak panik menepuk-nepuk pipinya.


"Ayra, bangun sayang."


Mata Nayra terpejam dengan pelipis yang mengeluarkan sedikit darah. Nayra tidak lagi mendengarkan panggilan itu. Kesadarannya sudah terenggut secara paksa.


Sedangkan Bara, lelaki itu bukannya berbalik arah dan membawa Nayra ke rumah sakit, ia malah membawa gadisnya ke apartment.


.....


"Terimakasih atas bantuannya Pak Rizky." ucap Alice sambil tersenyum manis. Bibir merah itu sejak tadi membuat Rizky ketar-ketir sendiri.


"Tidak masalah, Nona. Jika terjadi sesuatu lagi, kau bisa menghubungi nomerku." balas Rizky sopan.


Alice mengangguk, mereka saling berjabat tangan sampai Devina yang sejak tadi terabaikan mulai berdehem. Menyadarkan keduanya yang terlihat salah tingkah.


Devina terkekeh geli. "Bagaimana jika ucapan terimakasihnya kamu ganti dengan, ya....seperti pesta mungkin."


"Ouh, ide bagus itu." seru Rizky semangat. "Bagaimana, Nona Alice?"


Mau tak mau Alice mengangguk. "En baiklah." ucap Alice pasrah.

__ADS_1


"Bagus, biar aku telfon suamiku dulu. Dia juga harus ikut bergabung bersama kami." timpal Devina tak kalah semangat.


Mereka memang sedang berada di dalam mobil. Dan posisi Devina berada di kursi penumpang, membiarkan kedua orang itu kembali mengobrol. Devina segera menghubungi Bara. Satu kali, dua kali, bahkan sampai ketiga kalinya masih tidak terhubung juga.


Devina membuang napas kasar. Menepuk jidatnya pelan, seakan tersadar jika Bara tidak memiliki ponsel saat ini.


"Kenapa?"


Devina mendongkak. Tersenyum kecil saat Alice bertanya. "Ponsel suamiku rusak, dan aku baru mengingatnya jika dia belum membeli yang baru."


Alice mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana? Apakah tidak jadi?"


"Hey, Ayolah Nona jangan seperti itu. Jangan membatalkannya hanya karena alasan sepele. Bagaimana jika kita jemput Bara langsung, di kantornya, Bara pasti sedang makan siang. Bukankah ini sedang jam-jam istirahat?"


"Ah, kau benar. Bagaimana, Lice? Tak apakan jika menjemput suamiku dulu?"


"Yeaah, tak masalah jika itu membuatmu senang." balas Alice.


Rizky berseru. Dalam hati ia sudah berjingkrak senang. Bisa pdkt. Lumayan satu koleksi cewe bule nambah satu lagi.


Rizky segera menjalankan mobilnya. Ralat mobil Alice yang baru saja terkena tilang itu telah ia bereskan. Semua ini tidak boleh di sia-siakan. Anggap saja ini adalah awal mula kedekatannya bersama Alice.


Jika Eros ada disini. Mungkin saja lelaki itu sudah mengatakan 'Buaya brengsek' kepadanya. Ahh, tapi untungnya, Eros tidak akan ikut bergabung saat ini.


^^^Bersambung^^^


^^^Sabtu, 27 Maret 2021^^^


...Jangan lupa!...


...Vote and coment...


...biar author makin semangat nulisnya....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


...Ily 💕...


See you

__ADS_1


ranintanti


__ADS_2