
Happy Reading ❤️
"Kamu gak ikut pulang?" Bara bertanya dengan raut wajah tak suka. Ia kira Devina akan pulang bersama kedua orangtuanya, tapi ternyata wanita itu malah balik lagi dengan membawa kresek putih di tangannya.
"Enggak, aku mau disini aja temenin kamu." balas Devinan dengan menyimpan belanjaannya di samping nakas.
Bara mendengus jengkel. "Gak usah ditemenin. Keberadaan kamu juga gak di butuhin disini. Udah sana pulang." usir Bara pedas. Namun Devina tetaplah Devina, wanita itu tetap kekeh ingin menemaninya disini.
"Aku gak mau pulang Bara. Aku mau tetep disini aja temenin kamu." Devina tersenyum. Senyum yang mampu memikat hati pria. Namun tidak dengan Bara, pria itu malah berdecih sinis kala melihatnya tersenyum.
Tapi tak apa, dia akan tetap berusaha. Berusaha meluluhkan hati pria itu. Entah sekeras apapun Bara membangun benteng pertahanannya, Devina akan tetap bertahan sampai benteng itu perlahan terkikis oleh perhatian-perhatian kecil darinya.
"Nanti kalo kamu muntah lagi gimana? Atau nanti kalo kamu demam tengah malam, kan, gak ada yang jagain. Jadi biarkan aku disini, temenin kamu." sambung Devina penuh ke khawatiran. Bara diam. Percuma saja jika mengusir wanita itu. Wanita itu pasti akan langsung mengadu, dan berakhir dengan dirinya yang terkena omelan Mommy nya.
Devina meraba kening Bara. Memastikan pria itu demam atau tidak. Namun baru saja punggung tangannya menempel, Bara sudah menepisnya kasar.
"Jangan sentuh!" Bara membentak.
"Kamu mau apa biar aku ambilkan." Devina masih tak ingin menyerah. Dia akan tetep berusaha melayani suaminya meskipun pria itu terus saja menolaknya. "Kamu suka Apel, kan, aku bantu kupasin ya? Atau mau aku nyalain televisi biar kamu-"
"DIAM!!!" sentak Bara membuat Devina langsung terdiam seketika. "Sebaiknya kamu keluar! Saya pusing dengerin kamu nyerocos terus gak ada habisnya."
Devina menarik napas pelan. "Yaudah, aku diem. Kamu istirahat ya. Cepet sembuh, sayang." Devinan mengecup pipi Bara kilat.
Bukannya bahagia di berikan kecupan oleh istri, Bara malah merasa jijik. Pria itu mengusap pipinya kasar. Seolah dengan mengusap pipinya dapat menghilangkan bekas kecupan yang di berikan Devina.
.
__ADS_1
.
.
.
.
"NAYRA!!!"
Nayra yang sedang sibuk membantu Bundanya di dapur tersentak mendengar teriakan Erina. Gadis itu cepat-cepat mencuci tangannya sebelum Erina menyusulnya ke dapur.
"Aku di dapur, Rin!" balas Nayra berteriak nyaring sampai mendapat teguran dari Sang Bunda.
"Hust, kalo di panggil itu samperin, bukan malah teriak-teriak kaya di hutan." tegur Farah kepada putrinya.
"Iya gak papa, lain kali jangan di ulangi lagi ya."
"Siap, Bunda." seru Nayra ceria.
Nayra berlari menghampiri Erina yang sedang berada di ruang tamu. Gadis itu sudah grasak-grusuk membereskan barang-barangnya, dan memasukannya ke dalam tas.
"Rin, kenapa?" sesampainya di hadapan Erina, Nayra bertanya khawatir. Melihat raut wajah sahabatnya sepertinya ada sesuatu yang membuat Erina sampai terlihat cemas seperti ini.
"Se-sepupu gue ada di rumah sakit, Nay." nampaknya Erina sedang menahan tangis, terdengar dari suaranya yang bergetar.
"Rin tenang dulu." Nayra mencoba menenangkan.
__ADS_1
Erina yang sudah kepalang panik luar biasa tidak mengindahkan ucapan Nayra. Gadis itu kini sibuk memakai sepatunya.
"Rin." tidak ada sahutan. Nayra berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan tubuh Erina. Tatapan Erina kosong, tetapi tangannya sibuk menalikan sepatunya.
"ERINA!!" Nayra akhirnya membentak mencoba menyadarkan sahabatnya. terlihat Erina mengerjapkan matanya seperti orang linglung.
"Gue temenin ya." pinta Nayra.
Erina mengangguk menurut.
.
.
.
.
.
^^^Bersambung^^^
^^^Rabu, 15 September 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...
__ADS_1
.......