
...Happy Reading ❤️...
Nayra mengerang dalam tidur. Matanya mengerjap lambat. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah figura kecil yang terpajang di samping nakas. Nayra bergerak bengun, bersender di kepala ranjang. Perlahan tangannya menggapai figura itu.
Figura yang menampilkan foto Bara dengan seorang wanita yang sedang menggandeng anak kecil. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang bahagia. Tapi, siapa wanita yang ada di foto ini? Batin Nayra bertanya.
Mungkinkah, istrinya?
Belum sempat Nayra menerka, figura itu sudah hilang dari tangannya. Nayra mendongkak, menatap Bara terkejut.
"Jangan menyentuh apapun yang bukan milikmu, Ayra." suara dingin itu membuat Nayra terdiam.
"Wanita itu-"
"Hanya sahabatku." sela Bara cepat. Bara menyodorkan sepiring makanan kearah Nayra. "Makanlah, aku tau kau belum makan." kata Bara sembari mendudukan tubuhnya di samping Nayra.
Nayra menurut. Ia memakannya dengan lahap. Tak memperdulikan keberadaan Bara yang tengah menatapnya dengan intens.
Selang beberapa menit. Akhirnya Nayra selesai. Ia kembali menyerahkan piring kosong kearah Bara.
"Jam berapa sekarang?" tanya Nayra setelah meneguk minumannya.
Bara mengangkat bahunya acuh. "Aku tidak tahu." kata Bara.
"Aku harus pulang." Nayra turun dari atas kasur. saat hendak meraih gagang pintu, Bara sudah lebih dulu menghadangnya.
Sebelah alis Nayra terangkat. "Kenapa?" tanya Nayra bingung.
"Tidurlah disini." kata Bara.
Nayra menggeleng. "Aku punya rumah, jadi aku harus pulang." balas Nayra santai.
Bara berdecak. Dengan kuat Bara mengangkat Nayra menjauh dari pintu. Nayra sontak berteriak kaget saat tubuhnya tiba-tiba saja di banting keatas kasur. Nayra menatap Bara marah.
"Kau!" geram Nayra.
"Sudah ku bilang, tidurlah disini. Ini sudah malam." tak memperdulikan raut keruh yang dikeluarkan gadis itu, Bara dengan santai membereskan bekas makan Nayra.
__ADS_1
"A-apa kamu bilang? Malam?!" jerit Nayra heboh. Nayra tidak bisa terus berada disini. Pekerjaannya sudah menumpuk, ditambah Bundanya yang pasti sedang menunggunya di rumah.
"Bunda pasti khawatir. Aku harus pulang." Nayra beranjak turun.
Bara yang berada di ambing pintu segera menutupnya. Tak lupa ia pun menguncinya dari luar. Nayra yang melihatnya sontak saja berlari mendekat kearah pintu.
"INI GAK LUCU! BARAA BUKA PINTUNYA!!!" jerit Nayra.
Nayra berusaha membuka pintu. Namun sulit. Bara benar-benar mengurungnya.
"BARAAAA." teriak Nayra. Tangannya sudah memerah karena memukul-mukul pintu yang tak kunjung terbuka. Gagang pintu pun sudah hampir rusak karena Nayra yang berusaha menariknya, berharap pintu itu dapat terbuka.
"Tidurlah, Ay. Ini sudah malam. Percuma kamu berteriak seperti itu, karena aku tidak akan membuka pintunya." ucap Bara yang masih berdiri di balik pintu.
Nayra mengeram. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Bara?!!" tanya Nayra membentak.
Tidak ada balasan dari balik pintu itu. Sekali lagi Nayra mencoba menarik-narik gagang pintu, memukul, bahkan sampai menendang, pintu itu tak kunjung terbuka.
Nayra mengusap wajahnya kasar. Tubuhnya meluruh, merasa semua yang ia lakukan terasa sia-sia.
Nayra menyerah. Ia mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengalir. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengingat kejadian siang tadi. Nayra menangis. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya. Sedangkan Bara masih berdiri diam di balik pintu, menatap figura kecil di tangannya. Foto dirinya bersama Devina. Semakin Bara menatap foto itu, semakin tajam pula tatapan yang Bara keluarkan.
....
Jeanna menghela napas. Meraih tangan Evano yang terasa sangat dingin. "Aku janji akan membantumu untuk sembuh."
Evano diam. Sesekali matanya berkedi. Meski tatapannya terasa kosong, tapi Evano masih bisa mendengarkan apa yang Jeanna ucapkan.
Setelah melihat, dan mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi dari Bu Jasmin. Jaenna bisa menyimpulkan jika Evano mengalami depresi. Hati Jeanna seakan tergerak untuk membantu menolong Evano keluar dari lubang hitam yang membelenggunya.
"Kamu harus sembuh." tekad Jeanna.
Jeanna menyelimuti Evano. Menutup mata itu yang sejak tadi berkedip.
"Tidurlah." bisik Jeanna tepat di samping telinga Evano.
....
__ADS_1
"Rizkyyyy!!!" pekik Erina saat ponselnya tiba-tiba saja di rampas.
Erina memberengut. Ia berlari berusaha mengejar pria itu. "Kemarikan ponselku!!!"
"Tidak, kau harus menjawabku lebih dulu, dengan siapa kau berteleponan tadi?" tuding Rizky penasaran. Pasalnya saat ia bertamu ke rumah Eros, ternyata ada Erina disini. Gadis cilik yang dulu menyukai. Ia jadi penasaran, siapa yang Erina telepon malam-malam begini, mana suaranya pun terdengar sangat lembut.
"Bukan urusanmu!" delik Erina kesal.
Erina melompat-lompat berusaha menjangkau ponselnya yang diangkat tinggi-tinggi oleh Rizky.
"Rizky kembalikan ponselku."
"Putra." baca Rizky saat melihat riwayat penggilan di ponsel Erina. "Kau punya pacar?" tanya Rizky memaksa. Erina menggeleng, lalu mengangguk membuat Rizky kebingungan.
"Iya atau tidak?" tanya Rizky lagi.
"IYA." teriak Erina tepat di telingan Rizky. Rizky meringis, mengusap telinganya yang terasa berdengung. Kesempatan itu tentu saja tidak di sia-siakan Erina. Ia dengan segera meraih ponselnya dan membawanya berlari ke lantai atas.
Rizky mendengus melihat kelakuan Erina. Tatapannya jatuh kearah Eros yang tengah menonton siaran berita. Ternyata berita pertunangan Bara dan Nayra masih menjadi trending topik.
Rizky duduk di samping Eros.
"Lo kemana aja, Ky? Dari pagi gue gak liat lo." tanya Eros yang tidak menoleh sedikitpun kearah Rizky.
"Biasa, tugas dari Pak Bos." jawab Rizky singkat.
"Bara lagi?" Rizky mengangguk mendengar pertanyaan Eros.
"Jujur, gue gak tega liat mantan pacar Nayra." curhat Rizky kemudian ia menyenderkan tubuhnya di sofa. Lelah sekali rasanya menghadapi kelakuan Bara.
"Mantan pacarnya lumpuh. Gue berharap lelaki itu emang murni kecelakaan tanpa campur tangan orang lain." Rizky menjeda ucapannya. Eros masih setia mendengarkan, meski matanya terus saja menatap layar televisi. "Gue harap, ini memang bukan rencana Bara. Gue gak bisa bayangin kalau sampai memang benar Bara pelakunya- Nayra pasti bakal benci banget." lanjut Rizky.
Eros menoleh. Menatap Rizky yang kini fokus melihat layar televisi. Eros diam. Pikirannya kacau memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi suatu saat nanti.
^^^Bersambung^^^
^^^Rabu, 25 Agustus 2021^^^
__ADS_1
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....