
...Happy Reading ❤...
Bara menatap datar Nayra. Gadis itu masih diam. Tak ingin memasukan cincin yang sudah di pesannya jauh-jauh hari.
"Cepat lakukan." Bara berbisik tajam. "Jangan membuatku marah lagi, atau aku tidak akan segan-segan melukai pacarmu itu."
Nayra tertegun. Tidak ada pilihan lain selain menurut. Dengan perasaan campur aduk, Nayra terpaksa menyematkan cincin itu di jari manis Bara. Tepuk tangan mulai terdengar, para tamu undangan pun mulai sibuk memotret.
Saat Nayra terbangun dari tidurnya, saat itu pula Nayra baru menyadari jika ia kembali terkurung di dalam kamar mewah itu. Nayra kembali di dandani, dan acara pertunangan pun akhirnya terjadi. Bara menggelar acara ini dengan begitu meriah. Banyak tamu undangan dari kalangan atas, ada Eros- mantan bosnya, dan juga Erina- sahabatnya tengah duduk di bagian paling depan. Erina terlihat sangat antusias, berbeda sekali dengan dirinya yang tidak ingin acara ini di gelar.
"Kamu mungkin bisa mendapatkanku, tapi tidak dengan hatiku, Tuan Bara yang terhormat." balas Nayra tak kalah tajam. Hanya Bara yang dapat mendengarnya, karena seluruh tamu undangan tengah sibuk bertepuk tangan.
Bara tersenyum. Ia menarik Nayra untuk semakin mendekat. Merengkuh pinggang itu hingga menempel erat dengannya. "Tidak masalah. Suatu saat aku pasti bisa membuatmu jatuh hati. Lalu kamu dengan secara cuma-cuma akan menyerahkan hatimu kepadaku." ucapnya menyeringai senang.
Mendengar ucapan Bara, Nayra mengetatkan rahangnya. Ia mencoba melepaskan lilitan yang melingkar di pingganya. Bukannya terlepas, lilitan itu malah semakin mengerat.
"Jangan coba-coba untuk melepasnya." Bara mengeram. Tanpa sadar tangannya mencengkram pinggang Nayra erat. Bara baru melepaskannya setelah melihat gadis itu meringis kesakitan. "Dengar ini baik-baik, Nayra. Aku tidak membutuhkan hatimu, yang aku butuhkan hanya dirimu. Hanya dirimu."
"Shhh..." Nayra meringis. Ia balas menatap mata itu yang menyorot tajam kearahnya. "Kamu- egois. Pria gila, pemaksa, dan tukang ngatur-"
Cup
__ADS_1
"Kau!" Nayra melotot saat Bara tiba-tiba saja mencium bibirnya kilat. Bukannya merasa bersalah, Bara malah semakin melebarkan senyumnya.
"Kau semakin cantik jika cerewet seperti itu." kekehnya ringin.
"Selain gila, kau juga mesum." kesal Nayra yang hendak mengusap bibirnya namun harus terhalang oleh Bara. Pria itu menahan lengannya, dan malah membawa tangannya mendekat kearah bibir pria itu. Dilihatnya Bara tengah mencium punggung tangannya lembut.
"Jangan menghapusnya, nanti bisa-bisa lipstik mu memudar." ujar Bara dengan senyum tipisnya.
Untuk sesaat Nayra terdiam. Ia merasa terkesiap saat melihat senyuman itu.
Tampan sekali. Batin Nayra berucap.
Ini hati, bukan maianan yang dengan mudah Bara mainkan. Nayra masih mencintai Evano, jelas cukup sulit untuk ia sekedar melupakan pria yang paling berarti dalam hidupnya. Evano, laki-laki yang sudah menemaninya selama 3 tahun ini, laki-laki baik yang kini terpaksa harus ia tinggalkan.
Andai saja Bara mau bernegosiasi, dan mau membantunya kala itu, mungkin ia akan berusaha keras membayar hutang-hutangnya kepada Bara. Tapi semua itu hanyalah angan, karena kenyataannya Bara tidak ingin membantunya secara cuma-cuma, pria itu memintanya untuk menjadi miliknya.
Akan ada bantuan, dengan beberapa syarat yang Bara ajukan kala itu. Nayra yang memang tidak ada pilihan lain karena keadaan Evano semakin hari semakin menurun terpaksa harus menerimanya. Saat itu Nayra tidak memperdulikan apapun, yang ia pedulikan hanya uang untuk biaya operasi Evano. Ia hanya ingin melihat Evano kembali sehat seperti sedia kala.
Tepat dimana Evano sadarkan diri, disitulah rasa bersalah Nayra semakin menjadi. Evano lumpuh. Dan ia, tidak bisa melakukan apapun. Bahkan sisa uang dari Bara pun tidak mampu mengembalikan kaki Evano untuk bisa berjalan kembali.
.....
__ADS_1
Pertunangan yang diadakan begitu sangat megah. Banyak Pengusaha yang hadir di acara itu. Sepertinya Bara Matteo tidak ingin mengecewakan calon istrinya yang bernama Nayra Nathania-
Layar televisi itu tiba-tiba menghitam. Evano masih diam, menatap kosong ke depan. Berita ini terlalu mengejutkan, terlalu tiba-tiba untuk ia terima. Pikirannya bercabang, dan semua itu hanya tertuju kepada Nayra. Kemungkinan-kemungkinan yang selama ini ia pikirkan ternyata benar.
"Perempuan yang seperti itu yang kamu tunggu-tunggu selama ini? Dia bahkan hidup dengan baik tanpa memikirkan keadaanmu, Vano."
Evano diam mendengarkan apa yang diucapkan Ayahnya.
"Dia sudah menjadi milik orang lain. Dia sudah melupakanmu, Vano." ucap Ruri lagi.
Evano mengepalkan tangannya.
"Dan sekarang, waktunya kamu pun melakukan hal yang sama. Kamu harus bisa melupakan perempuan itu. Kamu harus bangkit, buktikan kalo kamu bisa hidup tanpa perempuan seperti itu."
^^^Bersambung....^^^
^^^Rabu, 18 Agustus 2021^^^
...Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....
__ADS_1