Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 54


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Jadwal kuliah sudah berakhir. Nayra juga Erina sedang berjalan beriringan di koridor kampus.


"Gue denger-denger Kak Bara ngasih lo rumah ya?" Erina bertanya dengan raut menggoda.


"Kok lo tau?"


"Gue kan sepupuan sama Eros, ya kali berita se-hot itu gue gak tau." dengus Erina yang dibalas anggukan oleh Nayra.


Sesampainya di area parkir, Erina mulai mengeluarkan kunci motornya. "Lo mau pulang bareng gue gak?" sambil memakai helm, Erina menyempatkan dirinya untuk bertanya.


"Enggak deh. Gue jalan kaki aja, lagi butuh hiburan." balas Nayra.


"Yaudah, gue duluan ya." Erina mulai menjalankan motornya, tak lupa gadis itu melambaikan tangannya kearah Nayra.


Saat sahabatnya sudah tak lagi terlihat, Nayra memilih berjalan kaki, menyusui jalan setapak. Meski gedung kampus menuju gerbang cukup jauh, tapi tak membuat Nayra mengurungkan niatnya.


Nayra masih berjalan lurus, tatapannya terlihat kosong. Kakinya terus melangkah tak tentu arah. Tidak ada tepat yang dituju saat ini. Nayra menghembuskan napas kasar. Ia jadi teringat saat kebersamaan Evano. Sesibuk apapun, pria itu selalu saja menyempatkan dirinya untuk menjemputnya. Lalu mereka akan berjalan berdua, menghabiskan waktu bersama sampai malam menjelang.


"Mbak, awas mbak ada motor." peringatan dari beberapa pejalan kaki tak sempat membuat Nayra menghindar. Gadis itu jatuh tersungkur karena terserepet, sedangkang Sang Pelaku sudah lebih dulu kabur dengan motornya. Jantung Nayra berdegup. Tubuhnya lemas sekali. Kakinya bahkan tak mampu membuat Nayra untuk kembali berdiri.


"Mbak tidak papa? Mau saya bawa ke rumah sakit?" seorang pria yang tadi memberi peringatan kini membantunya berdiri. Pria itu meneliti kembali luka di kaki Nayra yang mengeluarkan sedikit darah. "Kaki mbak berdarah, mau saya anterin ke rumah sakit?"


Nayra menggeleng. "Tidak perlu ke rumah sakit segala, Mas. Luka saya juga tidak terlalu parah." meski Nayra berucap seperti itu, tetapi tangannya terus saja menggenggam lengan pria itu sebagai tumpuan.


"Mbak yakin? Sepertinya kaki Mbak juga keseleo."


Nayra meringis saat mencoba menggerakkan kakinya. "Sepertinya begitu, Mas. Tapi tidak papa kok, saya baik-baik saja." jelas Nayra.


"Yasudah kalo begitu, saya bantu-"


Bugh

__ADS_1


"BARA!!!" Nayra menjerit saat pria yang tadi menolongnya malah tersungkur karena pukulan Bara.


"Ini akibatnya kalo lo deketin calon istri gue." kembali Bara melayangkan pukulannya. Tak peduli jika di belakang sana Nayra sudah berteriak menyuruhnya untuk berhenti. Bukan Bara namanya jika cowok itu langsung berhenti, Bara malah semakin beringas menghabisi pria yang kini sudah terkapar di atas aspal.


Nayra menyeret kakinya mendekat kearah Bara. Meski kakinya kini terasa berdenyut ngilu, tapi ia tetap harus menghentikan mereka.


"Stoppp!!!" Nayra mendorong Bara. Menghalangi pria itu untuk tak lagi berbuat seenaknya. Menjadi Sekat antara Bara juga pria yang sudah menolongnya.


"Minggir." ucap Bara tegas yang dibalas gelengan cepat oleh Nayra.


"Bara, dengerin aku dulu, dia tadi-"


"Aku bilang minggir, Ay!" bentak Bara keras sampai membuat Nayra berjengkit. "Ohh, jangan-jangan kamu selingkuh ya?!! Dia pasti selingkuhan kamu kan?" tuding Bara dengan napas memburu. Melihat bagaimana Nayra sedang bermesraan dengan lelaki lain. Saling berpegangan. Hatinya mendidih panas. Emosi yang sempat surut, kini seakan kembali naik memenuhi kepalanya.


"Aku gak selingkuh! Dia cuma nolongin aku Bara!" sembur Nayra kesal sekaligus malu karena telah menjadi pusat perhatian. Sedangkan pria yang baru saja dihajar habis oleh Bara sedang berusaha untuk duduk.


"Apa?" tanya Bara. Otaknya seakan blank.


Nayra berdecak. "Aku keserepet motor! Liat nih, nih, kakiku sakit!" gemas Nayra melihat wajah cengo Bara.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


Detik itu juga Nayra terpekik saat Bara mengangkatnya tiba-tiba. Pria itu memasukan Nayra ke dalam mobil. Tak lupa Bara juga memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada pria yang sudah menjadi sasaran kemarahannya. Yang penting Bara sudah berbaik hati memberikan uang sebagai bentuk pertanggung jawaban, ketimbang dibiarkan begitu saja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


"Kamu bisa diem gak?" sentak Bara melihat Nayra terus saja mengindari kapas alkohol yang sedang ia gunakan untuk mengobati lukanya. Setelah perdebatan panjang, khirnya Bara mengalah dan menuruti gadis itu untuk tak dibawa ke rumah sakit.


"Sakit, Bara." sungut Nayra kesal.


"Ya makanya diem biar gak tambah sakit." dengan telaten Bara mengobati Nayra. Mengoleskan kapas alkohol di beberapa bagian tubuh yang terluka.


"Kakinya gimana? Udah bisa di gerakin?" Bunda Farah datang dengan secangkir teh hangat untuk Nayra.


"Alhamdulillah, gak terlalu sakit seperti tadi kok, Bun." jawab Nayra sembari menerima gelas yang di sodorkan oleh Bundanya. Nayra meneguknya pelan. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Bara yang sedang mengobati lukanya. Sedangkan Sang Bunda setelah memberikan teh hangat, langsung keluar dari kamarnya.


Nayra menatap Bara. Pria itu terlihat tampan jika dari dekat. Apalagi setelah melihat kekhawatiran yang ditunjukan oleh Bara. Setiap perhatian, dan kelembutan yang pria itu berikan, Nayra seolah merasakan kehadiran Evano. Meski keduanya terlihat berbeda, tetapi perhatian yang mereka tunjukan hampir sama kepadanya.


Jantung Nayra bergemuruh. Apalagi saat perlahan pria di hadapannya mendongkak, jantungnya malah semakin ingin meloncat keluar. Kedua tatapan mereka bertemu. Namun dengan segera Nayra mengalihkan tatapannya. Tak baik bagi jantungnya jika terus menatap mata tajam milik Bara.


"Minum obatnya dulu, setelah itu istrihat. Aku mau kebawah, mau nyimpan air bekas kompresan kaki kamu."


Nayra hanya mengangguk, membiarkan Bara keluar dari kamarnya dengan membawa sebaskom air hangat untuk dibuang.


Suara ponsel berdering. Nayra segera membuka sebuah pesan masuk disana. Dari nomer tak dikenal.


Saya ingin bertemu denganmu besok. Di jalan XX pukul 10 pagi


Saya orang tuanya Bara


Dua pesan itu membuat tubuh Nayra menegang. Padahal ponselnya termasuk baru saja di beli kemarin, dan belum ada satu nomer pun yang yang tau nomer barunya. Tapi kini, entah dari mana orangtuanya Bara bisa mengetahui nomer ponselnya.


"Pesan dari siapa?"


Tiba-tiba suara Bara menyentakan Nayra. Gadis itu mengerjap pelan. "Dari Erina." balas Nayra sedikit gugup. Berharap agar Bara tidak curiga sedikitpun. Melihat Bara yang hanya mengangguk, membuat Nayra menghembuskan napas lega.


^^^Bersambung^^^


^^^Selasa, 31 Agustus 2021^^^

__ADS_1


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...


__ADS_2