Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Tawaran


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


"Ku dengar kau sedang membutuhkan uang, Ayra." panggilan sewaktu sekolah dulu. Ayra, hanya Bara yang memanggilnya seperti itu. Suara itu terdengar sangat lembut, seperti sedang memberikan harapan untuknya.


.....


Nayra berbalik, menatap Bara dengan waspada. "Kak Bara jangan sok tau." ucap Nayra yang terdengar menantang.


Bara terkekeh, jari telunjuk nya menyuruh Eros agar diam dan tak perlu ikut campur dengan urusan nya. Eros kembali mengatupkan bibirnya, dalam hati Eros mengeram kesal melihat kesombongan sahabatnya itu.


"Bagaimana kalau aku meminjamkan uang padamu?" perlaham Bara bangkit, berjalan mendekati Nayra yang kini tengah menatapnya dengan binar mata yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Bolehkah?" rupanya tawaran Bara sangat menggiurkan, sampai-sampai nada suara Nayra terdengar sangat senang.


Bara mengangguk pasti, menarik tangan Nayra agar duduk di sofa berhadapan dengan Eros. "Tentu saja boleh." Bara bisa melihat senyum Nayra yang merekah, tidak ada pancaran takut lagi, sekarang hanya ada setitik kebagian dimata itu.


"Tapi dengan satu syarat." lanjut Bara. 


Senyum Nayra surut. "Syarat?" 


Bara mengangguk pasti. "Semua di dunia ini tentu saja ada syaratnya, masuk sekolah, masuk kerja, bahkan masuk surga pun ada syaratnya?"


Nayra mengangguk mengerti. "Apa? Kalo gitu apa syaratnya, Kak?" tanya Nayra tak sabar.


Senyum Bara semakin lebar, tidak! Lebih tepatnya menyeringai menatap Nayra dalam-dalam. "Menikahkah denganku, Ayra." 


"A,,,apa?!!" Nayra dan Eros serentak memekik, menatap Bara tak percaya.


Nayra kaget, masih tak percaya dengan syarat yang Bara ajukan. Itu tidak mungkin! Tidak semudah itu untuk menikah, apalagi Nayra tak memiliki perasaan apapun kepada Bara.


"Bar, lo udah melewati batas-"


"Stttt." Bara langsung menyimpan jari telenjuk di bibirnya. "Jangan bikin gue buat suruh anak buah gue kesini dan ancurin tempat lo, Er." ancaman Bara tak main-main.


Eros mengerang, bibirnya langsung terkatup rapat tak berani melawan. Sedangkan disisi lain, Nayra mengepalkan kedua tangan nya.


"Ga! Kak Bara udah gila." napas Nayra memburu, ia bangkit menjauhi sosok Bara.


"Asal kamu tau, Ay. Sejak dulu orang yang aku cintai itu cuma kamu, cuma kamu yang selalu ada di pikiran aku. Dan itu,,,, adalah salah kamu. Kamu harus bertanggung jawab, karena hati ini masih tetap memilih mu."


Nayra menggeleng, menatap nanar Bara yang kini terlihat menahan amarah nya. Kedua mata Nayra memerah, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak memaki cowok di hadapannya.


"Dengar, sampai kapan pun aku tidak akan menikah dengan mu Kak. Kita tidak memiliki perasaan yang sama, tolong jangan memaksa aku untuk membalas perasaan mu. Bagaimanapun aku sudah memiliki kekasih, jadi stop, hentikan kegilaanmu ini." napas Nayra memburu, dadanya terlihat kembang kempis. Menikah adalah kegiatan sakral, dan Nayra tidak akan melakukan itu jika hanya untuk main-main.


Sama halnya dengan Bara. Mendengar penolakan Nayra, Bara kini berusaha mati-matikan untuk tidak membentak cewek itu dengan ucapan kasarnya.


"Saya pamit, permisi pak." izin Nayra, lalu keluar dari ruangan Eros yang membuat hatinya panas. Bara. Seperti namanya Bara api yang membuatnya kepanasan.


Saat telah sampai dilantai dasar, Nayra di kagetkan dengan seseorang yang menepuk pundak nya. Nayra menoleh, menatap Doni bertanya. "Ada apa, Bang?"


"Ponselmu dari tadi bergetar terus." tunjuk Doni kearah tasnya.

__ADS_1


Nayra dengan cepat berlari, mencari-cari ponselnya. Setelah ditemukan, Nayra menekan tombol hijau dan langsung menjauh dari lantai dasar yang sangat bising itu.


"Assalamualaikum, Nay." terdengar samar memang, tapi Nayra masih bisa mendengarnya dengan baik.


"Walaikumsalam, kenapa Bu?" tanya Nayra cepat. Perasaan khawatir dan gelisah menghinggapi hatinya saat nama 'Ibu Mertua' lah yang tertera di layar ponselnya.


"Nay, Ibu gak sanggup lagi. Evano kembali kejang-kejang Nay." terdengar isak tangis di sembarang sana, Nayra menahan napas sesaat setelah Bu Jasmin menyelesaikan ucapan nya.


"Lalu,,, gimana keadaan Vano sekarang Bu?" tanya Nayra cemas.


"Hiks,,,, Jantungnya sempat berhenti sebentar, tapi untung saja Ibu langsung memanggil dokter, kalo tidak,,,, hiks hiks Ibu gak tau lagi apa yang terjadi nanti."


"Bagaimana keadaanya, Dok?"


"Keadaanya semakin menurun. Jika malam ini Pasien tidak segera di operasi, ditakutkan akan terjadi pembengkakak di rongga dadanya yang akan menyulitkan pasien untuk bernapas."


Nayra mencengkram ponselnya mendengar penjelasan itu, hatinya bergejolak mengingat tawaran Bara beberapa menit yang lalu. Obrolan singkat itu membuat Nayra dirundung dengan perasaan bersalah. Kenapa harus Evano? Kenapa bukan dia saja yang terbaring dirumah sakit itu?


"Nay, bagaimana ini? Ibu tidak punya uang sebanyak itu." suara Bu Jasmin kembali terdengar. "Apa Ibu gadaikan rumah saja ya, Nay?"


"Jangan." Nayra memekik tertahan, menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan kasar. "Jangan lakukan itu, Bu. Biar Nay saja yang cari uang lebih, Ibu tidak perlu khawatir." ucap Nayra menenangkan.


Disana Bu Jasmin menangis histeris. "Uang sebanyak ini mau kamu cari kemana, Nay? Bahkan biaya kemarin pun belum kita bayar, dan sekarang... Ibu gak kuat Nay, Ibu gak sanggup lagi. Hiks..."


"Bu, jangan pesimis seperti itu. Ibu harus kuat demi Vano." hening beberapa saat.


"Nay janji Bu. Ibu percayakan sama Nay?"


Nayra berdehem singkat, memutuskan panggilan nya secara sepihak. Ia menangis dalam diam, hatinya berat sekali untuk menerima kenyataan Ini. Dengan langkah pasti, Nayra kembali ke ruangan itu, ruangan yang akan membuat kehidupan nya berubah seketika.


.....


"Lo gila, Bar." decakan tak suka itu membuat Bara memutar matanya malas.


Ditatapnya Eros dengan kekehan singkat. "Gue gila? Yeaah lo benar gue gila karena cinta. Tidak ada yang salah bukan?" kemudian tawa Bara bergema di dalam ruangan ini, Eros yang melihatnya bergidik ngeri.


"Masih ada Devina kalo lo lupa, Bar."


Tawa Bara terhenti, ditatapnya Eros dengan tatapan tajam. "Jangan bahas wanita itu disaat ada Nayra disini." sentak Bara kesal, lalu beralih menatap pintu yang perlahan terbuka lebar.


Bara menghitung dalam hati, 1,2,3 dan benar gadis itu kembali dengan kedua mata yang memerah seperti habis menangis. Tak perlu bertanya pun Bara sudah tau alasan dibalik mata bengkak itu.


Bara menarik sudut bibirnya, tersenyum sangat manis kepada calon istrinya. Sebentar lagi, yaaa sebentar lagi gadis itu akan terikat dengan nya.


"Aku terima." ucap Nayra singkat.


Bara menaikan sebelah alisnya bingung, lebih tepatnya pura-pura tak mengerti dengan ucapan Nayra saat ini.


Nayra menarik napasnya dalam-dalam, kedua matanya tertutup, dengan satu tarikan napas Nayra berucap mantap. "Aku terima tawaran kamu, Kak."


Pernyataan itu mampu menerbitkan senyum Bara, tetapi tidak dengan Eros, cowok itu tentu saja terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Nay, sebaiknya kamu pikirkan-"


"Pilihan yang bagus." Sela Bara memotong ucapan Eros. Eros mengeram kesal, ditatapnya Bara dengan tatapan nyalang.


"Bar, gue gak suka-" lagi-lagi Eros mengatupkan kedua bibirnya saat melihat Bara menyeringai dengan mata menyorot tajam memperingati untuk tidak melanjutkan ucapan nya.


"Tunggu diluar Ayra, kita bahas masalah ini nanti." suruh Bara, tatapan nya sama sekali tak beralih dari Eros yang kini meneguk ludahnya susah payah.


"Tapi,,, Aku membutuhkan uangnya saat ini." cicit Nayra pelan. Kepalanya menunduk menatap sepatu hitam nya yang terlihat lusuh.


"Kasih waktu 2 menit, aku akan menyusul mu." Nayra mengangguk pelan mendengar ucapan Bara. Tubuhnya berbalik hendak keluar dari ruangan yang membuat lututnya bergetar.


Setelah melihat Nayra keluar dan menutup pintunya dengan rapat.


Bugh


Bara memukul Eros tepat dipipi kirinya. Kedua tangan nya mencengkram kerah baju Eros sampai cowok itu berjinjit karena Bara yang mengangkat nya keatas. "Jangan ikut campur urusan gue, Er."


Ucapan Bara terdengar dingin, Eros berusaha untuk melepaskan cengkraman bara di kerah bajunya. "Gue gak suka cara lo, Bar." sentak Eros yang mulai tersalut emosi.


Bugh


Bugh


Lagi lagi Bara memukul Eros di wajahnya, bahkan sampai dua pukulan sekaligus hingga terlihat bercak merah di sudut bibir sahabatnya.


"GUE BILANG JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN GUE!" napas Bara memburu, kedua tangan nya mendorong Eros hingga tersungkur di bawah lantai.


Eros mengusap sudut bibirnya yang terasa ngilu, ditatapnya Bara dengan tatapan tak percaya. "Bar, inget sama istri dan anak lo." teriak Eros merasa frustasi.


Bara mengeram, menepuk jas nya dengan kasar. "Tapi gue gak cinta sama Devina, jangan bahas perempuan itu lagi di depan Nayra, atau gue bisa hancurin tempat ini, Er."


Ancaman Bara tak main-main. Eros hanya menganggukan kepalanya singkat. Jika melihat Bara diliputi emosi seperti itu bertanda bahwa dirinya lebih baik mengalah.


"Fine! Terserah lo." Eros mengibaskan tangan nya, tubuhnya ia rebahkan di lantai sambil menatap langit-langit ruangan nya yang bercat putih itu.


Bara menghela napas pelan, berusaha menormalkan deru napas nya yang mendadak cepat karena emosi yang melingkupinya. Setelah di rasa normal, barulah Bara beranjak meninggalkan Eros yang masih berbaring di lantai dengan tatapan kosongnya.


^^^Bersambung....^^^


...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


See you


ranintanti

__ADS_1


__ADS_2