
...Happy Reading ❤️...
"Semua ini gara-gara kamu! Pergi kamu! Pergi!!!?" jerit Devina marah.
Reynald menghela napas. "Vina, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Aku janji, kali ini aku bakal tanggung jawab."
"Tanggung jawab?" Devina tertawa keras. "Setelah semuanya kamu ingin tanggung jawab? Gak semudah itu br*ngsek!"
"Kamu kan tau dulu aku gak punya apa-apa, Vin. Aku terpaksa ninggalin kamu buat kejar cita-cita aku. Semuanya aku lakukan demi kamu, demi anak kita biar dia hidup enak, biar dia hidup gak kesusahan kaya aku." napas Reynald memburu, bukan karena marah, melainkan dia kecewa karena telah membuat wanita yang di cintainya mengalami semua ini. Jika saja dulu dia bisa menahan hawa nafsunya, mungkin Devina tidak akan hamil. Mungkin saja mereka masih bersama. Namun nasi sudah menjadi bubur, karena ***** semata, tumbuh sosok nyawa tak berdosa yang kini adalah darah dangingnya.
"Tapi semuanya sudah hancur, Rey! Tidak ada perasaan apapun lagi buat kamu!"
"BOHONG!" Reynald membentak. "Jika memang kamu tidak memiliki perasaan lagi untukku, lalu kenapa kamu membalas ciumanku, Vina?!!"
PLAK
"Itu karena kamu br*ngsek! Karena kamu memaksaku untuk membalas ciuman menjijikan itu." Devina marah, tanpa sengaja dia melayangkan tangannya membuat pipi Reynald memereh.
Keduanya terus beradu mulut. Sampai tak sadar jika pertengkaran mereka telah disaksikan oleh Devano. Anak itu bahkan sudah menangis, bersembunyi di belakang mobil karena takut.
"Jangan kembali! Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku!"
Setelah itu Devina berlari pergi, meninggalkan Reynald yang kini diam mematung.
Reynald terkekeh miris. Dia mengusap sudut bibirnya yang masih berdenyut nyeri. Suara dering ponsel terdengar. Reynald segara mengangkatnya.
"Pak, meeting sebentar lagi-"
"Iya, nanti gue kesana!" sebelum orang di sebrang sana menyelesaikan ucapannya, Reynald sudah berteriak kesal. Langsung saja dia memutuskan panggilannya, dan bergegas pergi.
"Mommy." Devano keluar dari tempat persembunyian. Anak itu menatap sekelilingnya dengan bingung. Tidak ada Mommy nya disini. Mommy nya pergi.
"Mommy." Devano semakin menangis, kaki kecilnya melangkah tak tentu arah. Devano kehilangan sosok Mommy nya di tengah-tengah hiruk pikuk orang dewasa yang berlalu lalang di rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
.
.
"Loh, Vina kenapa ngos-ngosan seperti itu? Kamu lari dari apotik kesini?Astaga, Nak, seharusnya kamu jangan lari seperti itu. Kamu itu lagi hamil, Vina." cerocos Sheila nampak khawatir.
Devina meringis. Ia seakan tersadar jika dirinya tengah hamil. "Maaf, Mom. Vina cuma gak mau Mommy nunggu terlalu lama."
"Ya ampun jangan pikirin Mommy dulu, Nak. Mommy kan ada Daddy disini yang temenin. Mommy malah khawatir sama kandungan kamu loh."
Devina tersenyum. "Aku gak papa, Mom." ucapnya menenangkan.
"Yasudah sebaiknya kita pulang. Mobil juga udah ada di depan." Matteo akhirnya berucap, pria itu hendak menuntun istrinya keluar namun harus terhenti saat mendengar ucapan Bara.
"Kenapa kau diam? Kau mendadak bisu ya? Cepat, jelaskan semuanya. Aku sudah muak melihatmu menjadi orang tersakiti seperti ini." cibir Bara tajam.
"Bara, jaga ucapanmu. Dia istrimu, Nak. Hargai dia sebagaimana kamu menghargai Mommy." ucap Sheila menasehati. Bagaimanapun Sheila tidak menyukai sikap Bara yang seperti ini. Sikap yang terlalu merendahkan istrinya.
Bara mendengus. "Istri? Istri yang seperti apa yang harus Bara hargai, Mom? Apakah istri yang ber-"
Sheila mendekat kearah menantunya. "Nak, tidak papa, kamu mau menjelaskan apa hm?"
Devina meremas ujung dress yang melekat di tubuhnya. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin karena tak sanggup menjelaskan semuanya kepada mereka.
"Vina." panggil Sheila.
"Ah, ya, Mom?" Devina seakan linglung.
Bara yang melihatnya bedecih sinis. "Kebanyakan drama lo!"
"BARA!" teriak Sheila sembari melotot kesal.
"Gak papa, Nak. Kamu mau bilang apa sama Mommy, hmm?"
"Vina-- Vina cuma mau bilang kalo Vina hamil, Mom." Devina menunduk, tak berani menatap mata tajam milik Bara yang seakan ingin membunuhnya.
__ADS_1
"Kau berbohong! Kenapa kau tidak menjelaskan semuanya hah!" Bara berteriak frustasi. Pria itu bahkan sampai hendak menghajar Devina, jika saja Matteo tidak menahan pundaknya.
"Bara, hentikan." desis Matteo tegas.
Bara mengeram. Mengacak rambutnya kasar. Tempat sampah yang tak jauh dari tempatnya sudah terogok jatuh karena tendangan Bara. Pria itu mencak-mencak, merasa kesal dengan dirinya yang terlampau bodoh dan tidak berguna.
"Ya ampun, kirain Mommy kamu mau ngomong apa. Kalo itu sudah Mommy tau." Sheila mengusap lembut perut Devina.
"Mommy tau dari mana?"
Sheila menunjuk suaminya. "Dari Daddy. Daddy kemarin kasih tau, katanya kamu lagi hamil. Selamat ya, Mommy ikut seneng loh dengernya."
"Sus, Suster tolong, itu di depan ada yang kecelakaan." seorang wanita berteriak. Wanita itu tergopoh-gopoh menerobos, menubruk tubuh Bara tanpa sengaja.
"Kecelakaan?" Bara bergumam lirih. Lalu perasaan khawatir tiba-tiba saja menyeruak, membuat dadanya sesak. "Devano. Dimana Devano, Vin?!" tanya Bara menuntut.
Devina seakan tersadar. Dia mendongkak, menatap Bara bingung. "Devano? Dia---" jantungnya Devina langsung berdegup. Matanya membola saat terakhir kali ia melihat anaknya berlari menjauh.
"Asu! Jangan bilang kamu tinggalin Devano disana?!!"
"Ma-maaf, Bar. Aku lupa-"
Tanpa menunggu lagi, Bara langsung berlari keluar. Meninggalkan Devina yang manangis, merasa khawatir dengan keadaan anaknya. Sementara Sheila dan Matteo, mereka juga ikut berlari mengikuti langkah besar milik Bara.
.
.
.
.
.
^^^Bersambung^^^
^^^Selasa, 28 September 2021^^^
__ADS_1
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...