
...Happy Reading ❤...
"Bar, tungguin gue." Eros berjalan tepat di samping Bara, dimana sahabatnya itu telah masuk ke sebuah ruangan yang bahkan Eros sendiri tak tau ruangan siapa itu.
.....
"Sore." sapa Bara singkat.
Bu Jasmin tersenyum. Wanita paruh itu kemudian bangkit, mempersilahkan tamunya duduk.
"Saya ingin bertemu Nayra."
"Ahya, Nayra lagi ke kamar mandi sebentar. Kamu sebaiknya duduk dulu."
Mendengar nama Nayra, Eros sontak menatap Bara dengan tatapan bertanya. Apalagi yang akan dilakukan sahabatnya ini? Setelah membuat kehebohan di ruangan Dokter Beni, sekarang sahabatnya ini malah mengacau disini.
"Kalian juga pasti temannya Nayra ya?" Bu Jasmin bertanya, senyum lembutnya tak pernah luntur melihat bagaimana mereka memperdulikan keadaannya Evano. Setelah gadis yang bernama Erina, sekarang dua pemuda tampan yang sudah duduk di sofa, tak lupa sedikit bingkisan pun tertata di hadapan Bu Jasmin.
Melihat Bara yang tak kunjung menjawab membuat Eros turut serta menjawab. "Iya, Bu." balas Eros canggung. Diliriknya Bara yang masih saja menampilkan wajah datar, tatapannya terus saja menatap seorang pria yang sedang berbaring. Dalam hati, Eros bertanya-tanya. Siapa pria itu? Dan hubungan apa yang pria itu miliki dengan Nayra?
"Saya bukan temannya..." Bara tiba-tiba saja berucap. Eros menaikan sebelah alisnya menunggu ucapan Bara selanjutnya.
"Lebih tepatnya adalah calon-" suami Nayra. Dua kalimat terakhir itu tertahan di kerongkongannya melihat bagaimana Nayra keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian santai. Rambut basahnya pun dikeringkan dengan handuk. Apalagi leher jenjangnya yang putih mulus itu sungguh sangat sangat menggoda iman.
Melihat tampilan Nayra, Bara meneguk ludahnya susah payah. Kaos putih yang mencetak bagian atas itu benar-benar membuat pikirannya jauh kemana-kemana.
Eros yang melihat sahabatnya cengo seperti itu, menyenggol-nyenggol lengan Bara, menyadarkan sahabatnya dari keterpakuannya. Sedangkan disisi lain Nayra menegang melihat kedua orang asing itu tengah berada dalam satu ruangan yang sama.
"Nay, jangan melamun terus." ucapan Bu Jasmin menyadarkan Nayra dari keterkejutannya. Nayra tersenyum paksa, dengan berat hati kakinya melangkah mendekat.
"Untuk apa kalian kesini?" bukan sapaan hangat yang Nayra berikan, melainkan ucapan dingin yang langsung mendapat teguran dari Bu Jasmin.
"Nay, yang sopan sama tamu."
"Tapi, Bu-"
__ADS_1
"Bagaimanapun niat mereka baik loh, Nay, mau jenguk Evano. Lihat saja, meraka juga membawakan bingkisan sama seperti temen kamu yang cewe itu, siapa namanya? Elina? Erina? Astaga, Ibu lupa namanya."
"Erina, Bu." koreksi Nayra.
"Nah itu, jadi sebaiknya kamu temenin mereka dulu disini. Ibu mau susul Erina ke kantin sekalian beli minum." belum sempat Nayra menjawab, Bu Jasmin sudah lebih dulu keluar meninggalkan kecanggungan diantara ketiga nya.
Setelah Bu Jasmin keluar, Nayra balas menatap Bara. "Sebaiknya kamu pulang, saya tidak menerima tamu untuk saat ini." usir Nayra terang-terangan.
Nayra mengambil tempat duduk di sebrang lelaki itu. Tatapan tajam Bara sungguh membuatnya ketakutan. Walau seperti itu tetap saja Nayra akan mengusir lelaki itu, Nayra tidak ingin kejadian yang tak terduga kembali terjadi. Sudah cukup dengan kehadiran pria itu disini yang membuatnya terkejut.
Ini rumah sakit, tentu saja Bara tidak akan berani macam-macam, jikalau pun lelaki itu berbiat macam-macam, Nayra akan langsung berteriak meminta tolong.
"Ambilah." Bara mendorong kotak ponsel dengan logo terkenal kearah Nayra. Nayra tentu saja tidak langsung menerimanya.
Nayra malah menatap Bara dengan sebelah alis terangkat. "Apa itu?"
"Bukalah. Aku memberikan mu ini untuk menggantikan ponselmu yang hancur itu."
Ingatan Nayra langsung tertuju pada Apartement Bara. Ponselnya memang di banting oleh lelaki itu, tetapi Nayra tak menuntut ganti rugi. Nayra sama sekali tak masalah dengan ponselnya yang sudah rusak itu. Nayra memang marah, tetapi bukan marah karena Bara yang merusak ponselnya. Nayra marah karena kelakuan Bara yang semena-mena kepadanya.
"Aku bisa membelinya sendiri." tolak Nayra langsung.
"Ponsel itu aku beli khusus untukmu, Ayra. Tidakkah kamu sedikit saja menghargai pemberianku."
"Ingat Tuan Bara yang terhormat, aku sama sekali tidak meminta kepadamu. Aku juga tidak menuntutmu untuk menggantikan ponselku yang kau rusakan itu. Kamu sendiri yang membelinya atas kemuanmu sendiri. Jadi, jangan salahkan aku jika aku menolaknya." Nayra bangkit dari duduknya. "Silahkan anda pergi, pintu keluar masih berada disana." dengan sengaja Nayra menunjuk dimana letak pintu keluarnya.
Bara mengeram, kemarahannya tercetak sangat jelas di urat-urat lehernya. Lagi. Lagi-lagi Bara ditolak oleh gadis itu. Hatinya merengsek tak terima. Tidak pernah ada yang menolaknya, selain gadis itu.
"Aku memang tidak pernah salah memilih mu sebagai calon istri, Ayra. Kau berbeda dari gadis diluaran sana."
Calon istri katanya?
Cih. Nayra mencibir dalam hati.
Mendengar ucapan Bara entah kenapa membuat hati Nayra bergetar sakit. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk dadanya. Sakit sekali.
__ADS_1
"Kau jangan senang dulu, Kak. Ingat, jika tuhan tidak mengizinkan, maka sampai matipun kita tidak akan pernah berjodohmpp-" secepat Nayra berucap, secepat itu pula Bara membungkam bibir Nayra dengan ciuman menuntut.
Sekalipun bumi ini tak menerima, atau tuhan yang tidak mengizinkan Bara untuk memiliki gadis itu, maka Bara akan berbuat lebih dari apa yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Bara akan menghamili gadis itu, memberikan obat penyubur jikalau perlu. Karena dengan seperti itu, mau tidak mau Nayra harus terikat dengannya.
"Lepphmpp-" Nayra memberotak, berusaha melepaskan pungutan di bibirnya yang masih saja dijamah oleh lelaki brengsek seperti Bara.
Bara menahan kedua tangan Nayra dengan satu genggaman tangan. Sebelah tangannya lagi bergerak ke belakang, menahan kepala Nayra yang terus saja menggeleng.
Nayra pasrah. Air matanya jatuh seiring dengan kedua mata yang tertutup. Nayra sama sekali tak menikmati ciuman ini, ia malah jijik saat merasakan bagaimana benda lunak itu terus saja menerobos menjelajahi rongga mulutnya.
Wajah lelaki itu sangat dekat. Nayra tak sanggup untuk melihat wajah itu terlalu lama. Wajah yang tengah menikmati ciuman yang terkesan muntut itu.
Merasa tidak ada perlawan dari gadis di depannya. Perlahan Bara membuka matanya, dan tersentak saat melihat gadis itu menangis dalam diam.
"Ayra." Bara menjauhkan wajahnya, menghapus air mata itu yang sialnya malah semakin deras. "Jangan menangis, maaf." sesal Bara.
Nayra membuka matanya, mendorong tubuh tegap lelaki itu hingga mundur beberapa langkah.
PLAK
Suara tamparan itu keras sekali, sampai Bara pun ikut menoleh ke samping karena saking kuatnya. Bara tertawa miris, mengusap sudut bibirnya yang terasa sangat kebas.
^^^Bersambung.....^^^
^^^Rabu, 10 Febuari 2021^^^
...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Untuk cerita seru lainnya....
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
__ADS_1
See you
ranintanti