Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 49


__ADS_3

...Happy Reading ❤️...


Nayra yang masih bergelung di bawah selimut mulai mengerjap pelan. Ia bergerak sedikit, dan kembali melanjutkan tidurnya. Rasanya terlalu malas untuk sekedar membuka mata. Nyaman sekali. Ia bahkan tidur nyenyak hari ini. Memang semenjak Evano kecelakaan, dan masalah datang terus-menerus membuat Nayra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ada saja pekerjaan yang mengharuskan ia bergadang sampai pagi guna mendapatkan sepeser uang untuk kelangsungan hidupnya.


Nayra mengernyit merasakan silau yang mengenai wajahnya. Perlahan matanya terbuka. Samar-sama ia melihat siluet seseorang yang sedang menyibak tirai.


"Nona, bangunlah. Anda harus segera sarapan." wanita itu mengguncangkan tubuh Nayra. Hingga mau tak mau Nayra bangun, bersender di kepala ranjang. Ia menguap, dan mengucek matanya pelan.


"Ka- kau siapa?!" jerit Nayra tertahan. Pasalnya ia tidak mengenal wanita itu. Jangankan mengenal, bertemu saja baru pertama kali. Batin Nayra terheran.


"Perkenalkan nama saya Maria. Pelayan pribadi Nona." kata Maria sembari menundukkan kepalanya.


"Pelayan? Nona? Maksudmu apa?" tanya Nayra menuntut. Nayra tidak mengerti saat tiba-tiba seorang wanita paruh baya memperkenalkan dirinya sebagai pelayan. Hey untuk makan saja ia susah, bagaimana mungkin ia bisa mempekerjakan seorang pelayan? Batin Nayra menjerit pilu.


"Saya adalah pelayan yang di tugaskan oleh Tuan Bara untuk melayani semua keperluan anda, Nona." jawab Maria lagi.


"Tidak. Kau tidak perlu melakukannya." Nayra meringis pelan. Ini terlalu berlebihan. Ia tidak bisa menerima semua keistimewaan yang Bara berikan.


"Ayo, biar saya bantu anda bersiap."


Nayra menggeleng ribut. Ia menyilang tangannya di depan dada. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau keluarlah." kata Nayra yang langsung dilakukan Maria.


Maria keluar setelah menundukan kepalanya. Nayra yang melihatnya mendengus sebal. Ia tidak biasa di perlakukan seperti ini.


Nayra menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Entah siapa yang memindahkannya keatas kasur. Nayra tidak terlalu memperdulikan semua itu, ia harus segera bergegas dan berbicara dengan Bara. Banyak yang harus ia bicarakan dengan lelaki itu.


.....


Setelah selesai bersiap. Nayra turun ke lantai bawah. Di meja makan sudah ada Maria tengah menyiapkan sarapan.


"Bu, Bara kemana?" tanya Nayra heran. Ia tidak terbiasa memanggil seseorang dengan sebutan 'Bi'. Panggilan itu terlalu tak sopan jika diucapkan kepada Maria. Apalagi Maria seumuran dengan Bundanya.


"Tuan Bara sedang dalam perjalanan bisnis keluar kota, Nona." jawab Maria.


"Apa?! Keluar kota?!!" pekik Nayra yang mendapat anggukan dari Maria.

__ADS_1


"Iya, Nona." balas Maria.


Nayra mendengus. Ia mulai memakan sarapan yang sudah disiapkan Maria. Selang beberapa menit. Akhirnya Nayra menghabiskan sarapannya. Ia berdiri, beranjak dari duduknya. Ia sudah tidak memperdulikan Maria. Wanita itu sibuk mencuci piring di dapur.


Perlahan Nayra melangkah keluar. Namun baru saja ia membuka pintu, dua orang pria sudah menghadang tubuhnya.


Nayra mengeram kesal. "Apa yang kalian lakukan?!!" jerit Nayra marah.


"Maaf Nona, anda tidak diizinkan keluar sebelum Tuan Bara pulang."


Astaga.


Nayra mengusap wajahnya kasar. Dadanya sudah kembang kempis menghadapi semua ini. Bara- lelaki itu sungguh membut Nayra ingin sekali menjerit keras-keras.


"Minggir! Saya punya keluarga, jadi saya harus pulang!" kesal Nayra sembari mendorong tubuh mereka. Bukannya terdorong, kedua pria itu malah tidak bergerak sama sekali dari tempatnya .


"Sebaiknya anda kembali masuk Nona." kata pria itu.


Nayra mendengus, menghentakan kakinya kesal. Ia kembali masuk dan melihat Maria sudah berada di hadapannya.


....


"Sesuai perintah. Semuanya sudah atas nama Nayra." Jack- orang kepercayaannya memberikan sebuah dokumen yang langsung diterima oleh Bara. Dokumen itu adalah beberapa sertifikat tanah atas nama Nayra.


Bara membuka dokumen tersebut. Setelah memeriksa nya Bara mengangguk puas.


"Bagus. Untuk beberapa hari ini, saya tidak bisa pulang. Tolong kamu telepon Eros, suruh kirim anak buah untuk menjaga Nayra."


Jack sedikit menunduk. " Untuk menghindari hal-hal yang tak terduga, dua orang saja sudah cukup, Tuan. Jangan semakin membuat publik heboh, karena terlalu banyak pengawalan yang ditugaskan untuk menjaga gadis itu." kata Jack.


Rizky yang berada di sampingnya mengangguk dengan usulan itu. "Gue setuju, Bar. Jangan sampai lo memancing wartawan untuk meliput keberadaan Nayra."


Bara mengangguk mengerti. Ia menyuruh Jack untuk segera keluar dari mobilnya. Jack yang paham pun segera undur diri.


Setelah melihat Jack pergi, Bara menaikan kaca mobilnya. Mereka akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Rizky diharuskan ikut guna untuk membantunya melihat beberapa proyek yang baru saja di bangun di kota A.

__ADS_1


Hening. Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Bara sibuk dengan grafik-grafik di layar ponsel. Sedangkan Rizky sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Bar, gue boleh tanya sesuatu?"


Bara mengalihkan tatapannya, menatap Rizky sekilas,


lalu kembali fokus ke layar ponsel. "Tanya apa?" jawab Bara.


"Lo- gak merencanakan sesuatu kan? Maksud gue, mantan pacar Nayra gak ada sangkut pautnya kan sama lo, Bar?" tanya Rizky penasaran.


Bara mengangkat bahunya acuh.


"Jangan bilang lo-"


Bara sontak mendelik. "Hapus semua pemikiran buruk lo tentang gue, Ky. Jangan sampai otak lo mencemari nama baik gue. Apalagi kalau Nayra sampai tau. Habis lo di tangan gue." kata Bara dingin.


Rizky membeku. Apa yang diucapkan Bara malah semakin memperkuat keyakinannya saat ini.


.....


Setelah melihat mobil Bara menjauh, Jack bergegas masuk ke dalam mobil hitam milik Tuan Besarnya.


"Ini salinan yang anda butuhkan Tuan." Jack memberikan salinan dokumen kepada Matteo. Salinan itu berisikan dokumen-dokumen yang tadi dia berikan kepada Bara.


Jika Jack adalah orang kepercayaan Bara, maka kali ini Jack adalah mata-mata yang ditugaskan Matteo untuk mengawasi Bara.


Matteo mengambil dokumen itu, membacanya dengan teliti. Rahangnya mengeras setiap membaca baris kata yang tertulis disana. Entah apa yang dilakukan gadis itu hingga membuat Bara sampai harus membelikannya sebuah rumah besar di kawasan perkotaan. Ditambah dengan sebuah toko kue, membuat Matteo semakin geram melihat kelakuan putranya.


"J*lang kecil itu ternyata mampu membuat anakku bertekuk lutut seperti ini." desis Matteo sembari meremas kasar dokumen di tangannya.


^^^Bersambung^^^


^^^Kamis, 26 Agustus 2021^^^


...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....

__ADS_1


...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....


__ADS_2