
Happy Reading ❤️
Nayra membuka ponselnya. Memastikan alamat yang dituju adalah benar adanya.
"Dengan Mbak Nayra?" seorang wanita berpakaian rapi melangkah mendekat. Nayra mengangguk ragu.
"Mari ikut saya Mbak, Nyonya dan Tuan Matteo sudah menunggu anda di dalam." kata wanita itu sembari menunjukan jalan.
Nayra tersenyum kikuk. Kakinya mulai melangkah mengikuti wanita di depannya. Sebuah pintu dengan tulisan VIP dibuka dengan sangat lebar, terlihatlah kedua orangtua Bara dan seorang anak kecil. Anak kecil itu terlihat fokus dengan satu cup ice cream di tangannya.
"Silahkan masuk, Nona." setelah mempersilahkan Nayra masuk, wanita itu membisikan sesuatu di telinga seorang wanita yang Nayra duga adalah Nyonya Matteo.
"Pergilah." setelah mendapat perintah dari atasannya, wanita itu pergi meninggalkan Nayra yang mendadak tremor mendapati tatapan tajam dari kedua orang itu.
Yang wanita melayangkan tatapan jijik kepadanya, sedang yang pria menatapnya dengan raut tak terbaca.
"Kau tidak pegal berdiri terus." pria yang sedang memangku seorang anak kecil itu berujar dingin.
Nayra meneguk ludahnya, masih tak berani untuk melakukan apapun selain berdiri seperti patung pajangan.
"Sudah, duduklah." barulah Nayra duduk setelah mendapatkan izin dari pria itu.
"Sebelumnya perkenalkan, saya Matteo, Daddynya Bara. Dan di samping saya adalah Sheila, istri saya." jelas pria itu dengan nada tegas dan dingin. Nayra bahkan sudah berkeringat dingin saat suara pria itu mengalun di telinganya. Dingin, tegas, dan berwibawa, berbeda sekali dengan Bara yang tempramen, dan meledak-ledak.
Wanita yang bernama Sheila itu berdecak kesal melihat suaminya. "Kau terlalu bertele-tele, Math." seru Sheila dengan wajah memerah, menahan amarah.
Sheila mengeluarkan selembar kertas, yang kemudian di sodorkan kearah Nayra. "Cepat tulis nominal yang kamu inginkan, dan jauhi anak saya." lanjut Sheila memerintah.
Hati Nayra mendadak panas mendengar ucapan wanita itu. "Maaf Tante, sepertinya saya tidak bisa menerimanya." tolak Nayra halus.
"Kamu sombong sekali rupanya." Sheila tertawa hambar. Hatinya tersentil mendapati penolakan dari Nayra. "Kenapa kamu tidak mau menerimanya? Apakah pria beristri itu sudah membuatmu jatuh cinta, sampai kamu menolak tawaranku?" cemooh Sheila.
Matteo masih diam, menyimak. Pria itu akan menjadi penghalang jika seandainya istrinya berbuat hal-hal yang dapat merugikan nama baik keluarganya.
__ADS_1
"Pria beristri? Maksud Tante?" tanya Nayra.
"Jangan pura-pura tidak mengerti. Kamu tentu tidak bodoh untuk memahami ucapanku. Apa perlu saya jelaskan secara detail hm?" tanya Sheila dengan senyum sinis di bibirnya.
Nayra meremas ponsel di tangannya. Semua prasangka kepada Bara apakah benar adanya? Foto yang sempat dilihatnya, apakah itu istrinya? pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu aja di dalam pikirannya.
"Saya benar-benar tidak mengerti, maksud Tante apa?" desak Nayra.
Sheila menghembuskan napas kasar. "Selain perusak rumah tangga orang, ternyata kamu juga sungguh bodoh ya. Apakah keahlianmu itu hanya menggoda putraku? Kamu bahkan tidak menyelidikinya lebih dulu." hina Sheila.
Jantung Nayra seakan di remas mendengar nada mengejek yang keluar dari bibir wanita itu. Perusak rumah tangga orang? Rumah tangga siapa yang dimaksud wanita itu? Apakah rumah tangga Bara? Entah kenapa hatinya mendadak sesak jika memang benar Bara sudah berumah tangga.
"Sudahlah, cepat tulis nominal yang kamu inginkan, dan tinggalkan putraku." Sheila kembali mendorong secarik kertas beserta pulpennya kepada Nayra.
"Tunggu, bisakah Tante jelaskan semuanya. Sa-saya sungguh tidak mengerti." gugup Nayra menahan tangis.
Menghembuskan napas kasar. Akhirnya Sheila menjelaskan semuanya kepada Nayra. "Putraku- Bara sudah menikah." lalu jeda sebentar. "Dan anak kecil ini adalah anaknya, cucu pertama saya dari Bara dan Devina." tunjuk Sheila kearah Devano yang masih asik dengan ice cremnya.
"Jadi tolong, kamu jauhi anak saya." lanjut Sheila tajam.
Nayra mengerjap pelan. Berusaha menghalau agar air matanya tidak jatuh sekarang. Saat ini harga dirinya terasa di injak-injak mendapati kenyataan yang ada. Pantas saja wanita itu terlihat jijik saat menatapnya.
Nayra menarik napas dalam-dalam. Berusaha mengontrol hatinya agar tidak semakin hancur. Perlahan tangannya terulur mengambil cek yang berada tepat di hadapannya.
Sheila yang melihat Nayra mengambil cek itu tersenyum puas. Namun senyumnya mendadak hilang saat gadis itu malah menyobeknya menjadi lembaran kecil yang tak berbentuk.
"Kau-" Sheila berdiri hendak menampar Nayra, namun gerakannya kalah cepat dengan Matteo yang sudah mencekal lengannya lebih dulu.
"Tenanglah, kamu membuat Devano takut." bisik Matteo tepat di telinga istrinya.
Sheila menghembuskan napas kasar. Wanita itu kembali duduk, menatap cucunya yang kini juga sedang menatapnya.
"Oma, kenapa marah?" tanya Devano.
__ADS_1
"Oma gak marah sayang." Sheila mengecup pucuk kepada Devano berkali-kali.
"Kamu keluarlah dulu, ajak Devano untuk bermain diluar. Biar Mas yang berbicara." kata Matteo dengan nada perintah seperti biasa.
"Tapi, Mas-" Sheila hendak protes. Namun melihat tatapan tajam yang dilayangkan suaminya, akhirnya membuat Sheila mengangguk patuh. "Yaudah iya aku keluar. Ayo sayang, kita pesen ice creamnya lagi." ajak Sheila kepada cucunya. Devano terlihat senang, anak itu bahkan sempat memekik mendengar tawaran dari Omanya.
Setelah Sheila dan Devano keluar. Kini fokusnya menatap Nayra. Gadis di depannya masih diam, dengan mata memerah seperti menahan tangis.
"Jika kamu tidak ingin uang, lalu apa yang
sebenarnya kamu inginkan agar menjauh dari putraku?" tanya Matteo santai namun terdengar seperti ancaman di telinganya.
"Aku tidak ingin apapun. Entah itu uang, perhiasan, ataupun tiket liburan, Om tidak perlu memberikan apapun, karena setelah ini, saya berjanji akan menjauhi Bara semampu saya." janji Nayra.
Matteo mengangguk. "Ambilah ini, jika suatu saat kamu berubah pikiran, kamu bisa langsung menghubungiku." kini Matteo memberikan cek baru kepada Nayra. Cek itu kosong, hanya tinggal menuliskan beberapa nominal angka saja, cek itu bisa langsung dicairkan.
Nayra menggeleng, menolak cek itu untuk kedua kalinya. "Tidak perlu, Om. Saya tidak akan pernah berubah pikiran. Tanpa cek itu juga saya akan menjauhi Putra anda sebisa saya."
Setelah mengatakan itu, terdengar derit kursi dari arah Nayra. Matteo menatap Nayra dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Kalau begitu saya pamit pulang." ucap Nayra sopan.
Matteo mengangguk, meremas cek tersebut, yang langsung di lempar ke tempat sampah. Setelah melihat gadis itu pergi, Matteo berdecih sinis.
"Dasar gadis munafik." desis Matteo.
^^^Bersambung^^^
^^^Kamis, 2 September 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng...
__ADS_1