
...Happy Reading ❤️...
Pagi pun menjelang.
Bara yang baru saja selesai berolahraga terpaksa harus menghadap Daddy-nya. Padahal setengah jam lagi dia harus pergi ke kantor. Tapi biarlah kantor urusan kedua.
"Masuk."
Bara bahkan belum sempat mengetuk pintu, tapi Daddy-nya sudah lebih dulu menyuruhnya untuk masuk.
Menghembuskan napas pelan, akhirnya Bara masuk ke dalam. Dia duduk berhadapan dengan Matteo yang sedang memeriksa sebuah dokumen.
"Kau sudah melihat keadaan anakmu?" tanya Matteo menutup lembaran dokumen, menyimpannya kembali di laci kerjanya.
"Aku sibuk." timpal Bara malas.
Mendengar jawaban itu, Matteo berdesis kesal. "Devano sakit, dan kau tidak pernah menjenguknya?!"
"Berapa kali aku bilang, Dad. Aku sibuk." Bara kembali melayangkan protesan.
"Sibuk?" Matteo tertawa sumbang. "Kau bilang apa? Sibuk?" kemudian Matteo melempar puluhan foto tepat di wajah Bara.
Prak
Semua foto berhamburan. Sejenak Bara menutup mata, merasakan puluhan foto itu mengenai lebam-lebam di pipinya. Bara meringis pelan, dia pun kemudian memungut salah satunya.
Foto pertunangannya.
Bara sontak menatap Daddy-nya tajam. "Jangan pernah Daddy menyentuh nya!"
"Kalau saja gadis itu tidak menganggu rumah tangga orang lain, mungkin Daddy juga tidak akan menganggunya." ujar Matteo. Bagaimana pun Matteo hanya ingin mempertahankan rumah tangga anaknya. Jangan sampai anaknya menyesal di kemudian hari.
Tangan Bara mengepal. Andai di depannya bukan Daddy-nya, sudah di pastikan Bara akan menghajarnya sampai babak belur. "Nayra bukan penganggu!"
"Kalau bukan penganggu apa? Pelacur?"
__ADS_1
"DAD!!" seru Bara tak terima. Daddy-nya sudah keterlaluan. Nayra bukan perempuan seperti apa itu. Nayra adalah gadis yang lahir dari keluarga baik-baik. Tidak seharusnya Nayra di salahkan seperti ini, yang seharusnya disalahkan adalah dirinya. Dirinya yang terlalu memaksa kan Nayra agar menerimanya. Jika saja dia tidak memaksa Nayra, gadis itu pasti akan hidup bahagia bersama mantan pacarnya-Evano.
"Lepaskan gadis itu, Bara." kata Matteo.
"Tidak akan pernah." balas Bara cepat. Bara tidak akan pernah melepaskan Nayra. Jika Nayra masih tidak bisa menerimanya, maka Bara akan terus memaksa gadis itu, untuk segera mencintainya.
"Cobalah kamu menerima istri dan anak kamu, Bara. Mereka adalah keluarga kamu. Devano sakit. Dan kamu sama sekali tidak pernah melihatnya." Matteo menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Dasi yang sudah terpasang apik dia logarkan kembali. Teringat jelas bagaimana cucunya itu merengek memaksanya untuk di pertemukan dengan Papanya. Dia hanya memikirkan keadaan cucunya. Jangan sampai semua kelakuan Bara berdampak buruk pada cucunya nanti.
"Jangan salahkan Daddy kalau suatu saat kamu akan kehilangan semuanya. Kamu akan menyesal suatu saat nanti karena telah memilih gadis itu." Matteo mengambil jasnya, pria paruh itu berlalu pergi meninggalkan anaknya sendiri. Biarlah Bara berpikir, jika pernikahan bukanlah untuk di permainkan.
Bara mengusap wajahnya kasar. Membiarkan Daddy-nya pergi begitu saja. Tidak. Sampai matipun Bara tidak akan pernah menyesal. Ini pilihannya. Pilihannya jatuh kepada sosok Nayra.
Devina memang istrinya, tapi itu hanya label di dalam keluarganya saja. Tidak ada orang diluar sana yang tau jika Devina adalah istrinya. Model kelas atas itu, tidak mau hubungannya diketahui oleh publik. Bara bersyukur dengan itu. Setidaknya Nayra tidak akan mengetahuinya sampai Bara mengajukan gugatan cerai terhadap Devina.
.....
Setelah beberapa hari Nayra meliburkan diri, akhirnya dia kembali pergi ke kampus dengan Erina. Sahabatnya itu memaksa ingin mengetahui tempat tinggalnya yang baru.
"Nay, gimana kalo lo tinggal sama gue aja? Rumah gue kosong kok, bokap sama nyokap juga udah lama gak pulang ke rumah." memang Erina sempat melihat kontrakan yang Nayra tempatin. Kontrakannya memang terbilang nyaman, namun tidak ada satpam, atau penjaga di sekelilingnya membuat Erina sedikit khawatir. Apalagi Nayra dan Tante Farah itu perempuan, tenaga mereka masih tidak sebanding dengan tenaga laki-laki.
"Padahal gue seneng kok kalo ada lo sama Tante Farah. Gue jadi ada temen kan, rumah juga pasti jadi rame." gumam Erina sembari memarkirkan motor maticnya.
Setelah menempuh sekitar setengah jam lebih, akhirnya mereka telah sampai di tempat parkir area kampus. Nayra turun lebih dulu, diikuti Erina yang menggantungkan helm-nya di kaca spion.
"Btw, Kakak lo gimana, Nay? Udah ada kabar belum?" tanya Erina yang dibalas gelengan pelan dari Nayra.
"Gue gak tau. Udah lama Kak Sarah gak ngasih kabar kaya gini." timpal Nayra sembari membenarkan letak tasnya yang melorot. "Biasanya Kak Sarah pasti akan telepon, atau sms lewat ponsel Bunda. Tapi sekarang, gak sama sekali." lanjutnya.
Erina mengangguk mengerti. Menurutnya Sarah bukanlah Kakak yang baik, tapi Nayra masih saja menganggapnya seorang Kakak yang harus di hormati. Padahal jelas-jelas Kak Sarah sering kali membuat masalah, yang berakhir dengan Nayra yang akan menyelesaikan masalah itu. Tapi dengan kebaikan hatinya, Nayra menerima semua itu dengan lapang dada.
"Nayra."
Panggilan itu membuat Nayra menoleh. Erina yang tengah mengikat tali sepatu pun mendongkak. Mereka menatap seorang wanita berhijab tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Bu Jasmin." panggil Nayra dengan suara tercekat. Tubuhnya seakan mematung. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Bu Jasmin. Wanita itu terlihat kurus, pucat, dan tidak terawat.
__ADS_1
"Nay, boleh Ibu ngomong sebentar?" tanya Bu Jasmin. Nayra melirik Erina. Seakan mengerti Erina pun mengangguk, dan berjalan lebih dulu.
"Gue duluan ya." pamit Erina dan berjalan menjauh.
Nayra kembali menatap Bu Jasmin. "Ibu, mau ngomong apa?"
"Ibu butuh bantuan kamu, Nay."
Sesaat Nayra terdiam. Dahinya mengkerut bingung. "Bantu? Bantu apa, Bu?" tanya Nayra.
Bu Jasmin membasahi bibirnya yang terasa kering. Tubuhnya lelah sekali, setelah berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk sampai di gedung, dimana Nayra menimba ilmu. "Evano depresi. Dia hampir bunuh diri, Nay."
Deg
Mendengar penjelasan Bu Jasmin, jantungnya seakan berhenti mendadak. "Bu-bunuh diri?" tanya Nayra kaget.
Bu Jasmin mengangguk. "Tolong sekali lagi, Nay. Ibu bener-bener berharap kamu mau menolong Ibu lagi." ucap Bu Jasmin putus asa.
"Ta-tapi, Ibu! Apa yang Ibu lakukan?" Nayra menjerit melihat Bu Jasmin tiba-tiba saja menekuk kedua lututnya.
"Ibu mohon, Nay. Bantu Ibu." dengan kedua tangan yang saling menempel di depan dada, Bu Jasmin memohon di hadapan Nayra.
Nayra tercekat. Dia Segara membantu Bu Jasmin untuk kembali berdiri. "Bu, jangan kaya gini." bukannya berdiri, Bu Jasmin malah semakin memohon dihadapan Nayra. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Nayra dibuat tak tega melihatnya.
Akhirnya Nayra mengangguk. "Iya, sekarang Ibu bangun ya. Gak enak diliatin banyak orang." putus Nayra sembari membantu Bu Jasmin berdiri.
Bu Jasmin pun tersenyum. Dia menerjang tubuh Nayra. Memeluknya dengan sangat erat. "Terimakasih, terimakasih Nay." ucapnya tulus.
Nayra mengangguk. Membalas pelukan Bu Jasmin. Biarlah hari ini dia kembali membolos untuk melihat keadaan Evano. Sudah lama dia tidak melihat lelaki itu, lelaki yang paling ia rindukan sampai saat ini.
^^^Bersambung....^^^
^^^Minggu, 22 Agustus 2021^^^
...Yang baik, yang cantik, yang ganteng. Jangan lupa bayar parkir ya. Cukup tekan tombol 'Suka' dan tombol 'Love' di bagian paling bawah, author udah seneng kok....
__ADS_1
...Apalagi kalau di kasih vote + beri hadiah. Author makin-makin seneng....