
...Happy Reading ❤...
PLAK
Suara tamparan itu keras sekali, sampai Bara pun ikut menoleh ke samping karena saking kuatnya. Bara tertawa miris, mengusap sudut bibirnya yang terasa sangat kebas.
.....
"Bara-" Eros melotot melihat keberanian Nayra. Bahkan dalam hati, tak henti-hentinya Eros berdecak kagum. Baru kali ini Eros melihat adegan yang paling menegangkan. Ciuman, pertengkatan, semuanya dapat Eros lihat secara live bagaimana kebrutalan sahabatnya dalam mencium seorang gadis. Woww
Eros bahkan sampai memegang pipinya melihat bekas tamparan itu tercetak sangat jelas di pipi Bara. Tidak ada raut sesal sama sekali di mata Nayra setelah menampar Bara. Satu tamparan saja rasanya belum cukup untuk menghadapi lelaki brengsek seperti Bara.
"Kau-"
"Apa?! Apalagi yang kau inginkan?!" jerit Nayra putus asa. Nayra mengusap bibirnya kasar, menghilangkas bekas ciuman lelaki itu yang seakan masih terasa di bibirnya.
"Ayra."
"Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu untuk saat ini."
"Tidak, Ayra-"
"AKU BILANG PERGI!" teriak Nayra histeris. Air matanya meleleh, ciuman yang seharusnya ia berikan untuk suaminya kelak harus terenggut paksa. Nayra mengeram, air matanya semakin deras. "Sebenarnya apa lagi mau mu, Kak? Setelah membeliku dengan uang, sekarang kau ingin melecehkanku?"
Tiba-tiba saja Nayra tertawa. Ia seakan paling berdosa melakukan hal bejat seperti itu tepat di samping Evano yang sedang menutup matanya damai. Evano bahkan belum sadarkan diri semenjak operasi itu berhasil dilakukan.
"Terserah kamu akan berpikir seperti apa, Ay. Tapi yang perlu kamu ingat sekarang adalah, jangan pernah menolakku lagi jika tak ingin kejadian seperti ini terulang untuk kedua kalinya."
Nayra mengepalkan tangannya marah. Inilah yang akan terjadi jika berani melawan Bara. Lelaki itu penuh dengan tipu daya. Pria dominan yang suka sekalinya mengancam, yang tidak ingin mengalah sekalipun itu pada wanita.
"Bisa saja aku menarik seluruh uangku, dan menyuruh para dokter untuk melepaskan alat bantu pernapasan pacarmu-"
"Jangan!" Nayra mememik keras. Membayangkan jika alat-alat yang terpasang di tubuh Evano itu dilepas secara paksa, dan Evano tak bisa lagi bertahan, rasa-rasanya Nayra tak sanggup lagi untuk bertahan.
Bara menyeringai. Ketakutan Nayra terlihat sangat jelas sekali. Ketakutan itulah yang membuat Bara semakin berapi-berapi. Segitu takutnya, kah, Nayra kehilangan lelaki itu? Sampai-sampai Nayra rela melakukan apa saja.
Sial. Hatinya panas jika memikirkan kenyataan itu.
"Semua itu tergantung denganmu, Ayra. Jika kamu berani macam-macam, maka aku tidak akan segan untuk melukai pria itu, bukan hanya dia, seluruh keluarganya pun akan ikut hancurkan dalam sekejap mata."
__ADS_1
Tubuh Nayra mengigil mendengar ancaman itu. Bara tidak pernah main-main dalam berucap. Kekuasaan lelaki itu sungguh tidak perlu di ragukan lagi. Nayra tau, mulai saat ini hidupnya tidak akan sebahagia dulu.
"Ingat Ayra, sekarang kamu adalah milikku, hanya milikku. Calon tunanganmu." tekan Bara. "Maka, jangan pernah menolakku lagi jika kamu tidak ingin merasakan kemarahanku." Bara mengambil bungkus yang tergeletak diatas meja, dimana di dalamnya berisi kotak ponsel yang baru saja ia beli khusus untuk Nayra.
"Ambilah." perintah Bara mutlak. Dengam berat hati Nayra mengambilnya. Hingga tanpa sadar kedua sudut bibir lelaki itu terangkat, menatap barang pemberiannya kini sudah berada di tangan Nayra. Walau tidak ada ucapan terima kasih dari bibir tipis itu, tapi setidaknya gadis itu tidak lagi menolaknya.
Ketegangan diantara kedua masih terus berlanjut, sampai terdengar leguhan yang membuat mereka serentak menatap Evano yang kini sedang berusaha membuka matanya.
"Ugh."
"Vano." Nayra bergegas mendekat, menyimpan ponsel pemberian Bara tepat di samping nakas.
Melihat itu Bara kembali mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras melihat bagaimana barang pemberiannya kembali di abaikan oleh Nayra.
"Vano, bangun sayang." panggil Nayra cemas. Nayra menggenggam jemari Evano lembut, membawanya kearah pipi. "Ayo, buka matamu, kamu pasti bisa Vano."
Nayra terus memberikan semangat, sesekali ia pun mengecup kening Evano dengan sayang. Tak henti-hentinya Nayra menekan tombol guna memanggil dokter agar segera kesini.
Kedua mata Bara berkilat tajam menatap Nayra yang sangat mencemaskan lelaki itu. Mencium kening, dan berbisik pelan di telinga lelaki itu membuat hatinya semakin panas. Bara mengeram kesal, belum sempat ia menarik Nayra, Eros sudah lebih dulu menariknya keluar. Bersamaan dengan itu, para dokter dan perawat berhamburan masuk diikuti Erina dan Bu Jasmin.
"Lepasin gue!" saa telah berada di luar, Bara menghempaskan cengkraman Eros. Lelaki itu menatap Eros dengan tatapan berapi-api. "Gue gak terima semua ini! Nayra- dia cuma milik gue! Milik gue, Er!"
"Gue gak peduli, Er. Gue mau bawa dia pulang." Bara menyentakan kedua lengan Eros yang mencengkram pundaknya. Rasa sakit di pundaknya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
"BARA!" Eros membentak. Mengusap wajahnya kasar. Apa katanya tadi? Membawanya pulang? Hah! Yang benar saja.
"Dengan cara memaksanya lagi? Atau lo mau ngancem Nayra lagi buat nurutin semua keinginan gila lo itu?" Eros menyugar rambutnya ke belakang. "Yang ada Nayra bakal benci sama lo, Bar. Perempuan itu suka dengan pria baik-baik, bukan pria kasar tukang ngancem kaya yang lo lakuin barusan." lanjut Eros.
Bara mengepalkan tangannya. "Lo liat semuanya?"
Mendengar pertanyan itu Eros mengangguk dengan polosnya. "Gue punya mata, gue liat semua yang lo lakuin sama Nayra. Lo menciumnya, mengancamnya, bahkan lo udah termasuk dalam kategori pelecehan." seru Eros tertahan. Kemarahan Bara seolah membuat Eros mengeluarkan keringat begitu banyak. Lelaki itu seakan gelap mata jika menyangkut Nayra. Hanya satu kata untuk kejadian ini, yaitu GILA. Ya! Eros baru melihat kegilaan Bara dalam mendapatkan gadis pujaan hatinya.
Tanpa banyak bicara, Bara berbalik pergi meningglkan Eros yang menghela napas lega.
....
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, pasien sudah tidak papa, hanya tinggal menunggu dia bangun saja."
Semua orang yang ada di dalam ruangan Evano menghembuskan napas lega. Tak henti-hentinya Nayra memanjatkan rasa syukur karena Evano telah di beri kesempatan untuk kembali bersama. Meski kebersamaan itu bukan lagi untuknya, tetapi Nayra senang. Senang karena akhirnya Evano dapat kembali kedalam dekapan keluarganya.
__ADS_1
"Kira-kira kapan dia bangun, Dok?" pertanyaan Bu Jasmin di balas senyuman oleh Dokter Beni.
"Kita bisa tunggu sampai beberapa jam kedepan, Bu." jawab Dokter itu, lalu pamit undur diri.
Mata Bu Jasmin berkaca-kaca. Kakinya melangkah mendekati ranjang anaknya. Diusapnya rambut lembat milik Evano dengan dengan penuh kasih sayang.
"Nay, gue pamit duluan ya. Mau ada kumpulan sebentar lagi."
Nayra yang ikut terharu pun mengusap sudut matanya yang sedikit berair. "Iyaa, makasih juga ya Rin udah jengukin Vano." timpal Nayra, lalu memeluk sahabatnya.
"Lo hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya, utamakan keselamatan okey?"
Erina mengangguk, menepuk punggung kecil Nayra. "Gue pamit ya, titip salam buat Vano, sama Bu Jasmin."
Pelukan keduanya pun terlepas. Erina pergi untuk kembali ke kampus karena sebentar lagi akan diakannya rapat, sedangkan Nayra sudah bergabung bersama Bu Jasmin.
^^^Bersambung.....^^^
^^^Sabtu, 20 Maret 2021^^^
...Jangan lupa!...
...Vote and coment...
...biar author makin semangat nulisnya....
...Follow juga ig...
...story_relationship...
...Sampai bertemu di part selanjutnya...
...Ily 💕...
See you
ranintanti
__ADS_1