Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
TAKAN KU LEPAS | 74


__ADS_3

"Kenapa Mommy malah memilih gaun seperti ini sih?" sejak tadi Bara terus saja menggerutu kesal melihat gaun yang di pakai Nayra. Gaun itu jika dilihat dari depa memang tertutup, tapi jika di lihat dari belakang punggung mulus Nayra terlihat sangat menggoda sekali.


"Siapa yang kau maksud Mommy?"


"Tentu saja Mommy ku, memang siapa lagi yang ku panggil Mommy hm?" Bara mengusap punggung Nayra. Bisa ia rasakan jika tubuh gadis itu menegang kaku.


"Rileks, sayang." Bara berbisik lembut. "Untuk saat ini aku tidak akan memakanmu, kau tenang saja."


Bukannya tenang, Nayra malah terlihat semakin gusar. "Jangan macam-macam ya!"


"Hanya satu macam, sayang." Bara mengecup bibir Nayra cepat.


Nayra melotot, ia segera mendorong wajah Bara agar tidak terlalu dekat dengannya.


Malam pun semakin larut. Pesta yang tadinya meriah kini mulai menyusut.


"Kamu lelah?"


Nayra mengangguk. "Iya. Kenapa tamu undangannya banyak sekali? Kakiku pegal." sambil memijit kakinya, Nayra mengadu, bibirnya mengerucut sebal.


"Ini, minumlah, kamu akan merasa lebih baik setelah meminum ini." Bara menyodorkan segelas orange juice kepada Nayra.


Dengan senyum cerah Nayra mengambilnya. "Minuman apa ini?"


"Hanya jus jeruk."


Nayra mengangguk. Ia menegak habis minumannya. "Terimakasih." ucap Nayra lalu kembali memberikan gelas kosong itu kepada Bara.


Bara menyimpan gelas itu di samping meja kecil. "Sebaiknya kita cepat beristirahat. Kamu terlihat lelah sekali."


"Tapi, pestanya belum selesai, Bara."


"Tak apa, Mommy juga pasti mengerti. Ayo aku akan mengantarmu ke kamar."


Nayra mengangguk lucu. "Ayo, aku mau ke kamar saja. Disini gerah." Nayra mulai melangkah menjauh. Entah apa yang terjadi kepada dirinya. Namun tubuhnya terasa sangat panas. Matanya nampak berembun. Kakinya bergetar saat ia mencoba melangkah.


"Biar aku bantu." Bara menyelipkan tangannya di belakang leher Nayra. Lalu sebelah tangannya lagi di simpan di lipatan lututnya. Detik itu juga Bara mengangkat Nayra, membawa gadisnya menuju lantai atas.


Nayra meleguh. Kedua tangannya di kalungkan di leher Bara. "Ugh... Kenapa gerah sekali disini, Bara?"


Mendengar leguhan Nayra, Bara menyeringai senang. Tak sia-sia Bara mengikuti saran dari Rizky. Obat perangsang itu rupanya telah bereaksi sangat cepat. Tak perlu khawatir, Bara hanya memberikannya sedikit. Nayra juga tidak akan mungkin kehilangan kesadarannya, gadis itu akan sadar sepenuhnya setelah beberapa menit berlalu.


"Mau ku bantu membuka gaun nya?" Bara menurunkan Nayra diatas kasur.

__ADS_1


"Tidak-tidak. Aku bisa sendiri." Nayra menggeleng cepat. Meski tubuhnya terasa panas dan ingin mandi air dingin. Tapi ia masih waras untuk tidak menyodorkan tubuhnya kepada Bara.


"Kau yakin?" dengan sengaja Bara mengusap punggung halus Nayra yang terbuka. Bara menyeringai senang tatkala mendengar leguhan itu kembali.


"Be-berhenti. Jangan di usap-usap. Geli."


Bukannya berhenti, Bara malah semakin antusias menjelajahi punggung polos itu.


"Ugh, panas sekali. Aku tidak kuat Bara." Nayra melepaskan semua perhiasan di tubuhnya. Di bantu dengan Bara, laki-laki itu dengan lembut membuka high heels yang di pakai Nayra.


"Ja-jangan di lepas. Aku akan melepas gaunnya di kamar mandi." Nayra menghentikan gerakan tangan Bara yang hendak membuka restalting gaunnya. Meski mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri, Nayra masih belum yakin untuk memberikan harta berharga kepada Bara.


"Tidak papa, biar ku bantu agar kamu tidak kesusahan nantinya." rupanya bukan hanya membantu, Bara juga memanfaatkan situasi dengan mengendus leher Nayra.


Nayra mengigit bibir dalamnya kuat-kuat. Ia tidak ingin mengeluarkan suara-suara aneh lagi dalam mulutnya.


Siapa sangka, laki-laki itu kini sudah berhasil membuat gaunnya terogok di bawah kakinya.


"Bara- aku-aku harus mandi-" wajah Nayra tampak memerah. Rasanya Bara sudah tidak sabar. Di baringkannya Nayra diatas kasur. Gadis itu hanya menurut.


"Aku akan membantumu agar tidak kepanasan lagi hm."


Dan dalam sekejap. Keduanya sudah benar-benar di kelilingi oleh gelora panas. Berkali-kali Nayra meleguh. Dia nampak pasrah di bawah kukungan Bara. Sedangkan Bara, laki-laki itu bergerak, memberikan sebuah kepuasan untuk meneguk kenikmatan. Dan benar, malam ini adalah malam pertama untuk mereka lalui berdua.


"Dimana Nayra? Kenapa jam segini belum bangun?" Sheila menatap jam dinding yang menunjukan pukul 9 siang.


"Mau aku bangunin?" tawar Bara.


Sheila menggeleng panik. "Jangan. Biarkan saja Nayra beristirahat. Dia pasti kelelahan karena sudah bertempur denganmu." dengus Sheila kesal. Bagaimana tidak kesal jika pagi ini niatnya Sheila akan mengajak Nayra ke Mall. Berbelanja, dan melakukan perawatan. Tapi tak disangka, rupanya Nayra masih tertidur pulas akibat kelakuan putranya sendiri.


"Astaga, Mommy udah gak sabar buat pergi belanja ke Mall."


"Besok-besok kan bisa, Mom. Gak hari ini juga gak papa kali. Lagian itu Mall juga gak akan tutup." timpal Bara.


"Sttt, kamu gak akan ngerti pokonya Bara." selain mengajak Nayra jalan-jalan, Sheila juga berniat untuk meminta maaf kepada menantunya itu. Tak di sangka jika Nayra adalah anak dari sahabat SMA nya dulu Farah.


Jika saja Sheila dapat mengetahui lebih dulu jika Nayra merupakan anak dari sahabatnya, dia tak akan mungkin berkata kasar, sampai harus menghinanya seperti itu. Sheila menyesal. Sungguh dia bahkan sempat meminta maaf kepada Farah karena telah menyakiti putrinya.


"Nah tuh dia." Sheila memekik gemas saat melihat Nayra berjalan dengan pelan. Tak perlu bertanya pun Sheila sudah tau apa yang terjadi kepada menantunya.


"Sini sayang duduk, deket Mommy." Sheila mengiring Nayra untuk duduk di sampingnya. Bara yang melihat Mommy sangat antusias mendelik kesal.


"Kenapa duduk disitu? Pindah. Duduknya disini." perintah Bara.

__ADS_1


"Aku duduk disini aja gak papa kok."


"Aku bilang pindah, Nayra."


Karena tak ingin membuat Bara semakin marah, Nayra menurut, meminta maaf terlebih dahulu karena tak enak dengan Sheila yang sudah menyediakan tempat duduknya.


"Sudah, sebaiknya kita makan." lerai Matteo.


Sheila memberengut menatap suaminya tajam. Dia pun dengan malas mulai menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Biar aku ambilkan sarapanmu." Bara mencegah Nayra yang hendak mengambil sehelai roti. Lelaki itu memilih untuk mengambil nasi goreng. "Kamu membutuhkan tenaga untuk pergi bersama Mommy. Jadi kalo hanya memakan roti itu tidak akan cukup."


Nayra hanya diam menurut. Membiarkan Bara menyiapkan makanan untuknya.


"Terimakasih." ungkap Nayra tulus. Bara mengangguk saja. Membiarkan Nayra makan dengan lahap.


"Ohya, Mommy punya tiket liburan buat kalian bulan madu ke Prancis loh." ucap Sheila antusias.


Uhuk uhuk


Nayra tersedak. Bara segera menyodorkan segelas air putih yang langsung di teguk oleh Nayra.


"A-apa? honeymoon? Ke Prancis? Itu- itu tidak perlu Nyonya."


Sheila meringis mendengar panggilan itu. "Panggil saja Mommy, Nay. Kamu kan sudah menjadi menantu keluarga ini, jadi jangan memanggilku seperti itu."


"I-iya maaf, Mom."


"Sudah tidak papa. Mommy juga minta maaf atas semua kejahatan Mommy selama ini. Maaf karena sudah membuat kamu merasa sakit hati karena ucapan Mommy waktu itu. Maaf-"


"Mommy gak salah." Nayra menyela cepat. "Aku yang salah, karena aku rumah tangga anak Mommy jadi rusak."


Sheila menggeleng. "Gak Nak, ini memang salah Mommy. Mommy yang terlalu egois karena terlalu memaksakan kehendak. Sekali lagi, Maafin Mommy."


"Berdiri Mommy, jangan seperti itu." sungguh Nayra merasa tak enak melihat mertuanya merunduk di bawah kakinya.


"Maafin, Mommy, Nak."


"Iya iya Nay maafin, sekarang Mommy bangun." Nayra membantu Sheila berdiri. "Jangan kaya gini lagi, Mom." Nayra memeluk Sheila erat.


Sheila terharu. Dia bahkan tak menyangka jika akan mendapatkan kata maaf semudah ini dari menantunya. Ia menangis. Menumpahkan segala keresahannya yang selama ini menumpuk di dalam hatinya.


__ADS_1


__ADS_2