Takan Ku Lepas

Takan Ku Lepas
Menerima Kesepakatan


__ADS_3

...Happy Reading ❤...


Bara menyeringai dengan perlahan melangkahkan kakinya mengikis jarak diantara keduanya. "Kamu." jawab Bara dengan nada yang terdengar sangat datar, tidak ada emosi sama sekali membuat Nayra tak bisa menebak apa yang di inginkan cowok itu.


Tatapan Bara tak main-main, lutut Nayra terasa bergetar saat Bara menatapnya dari atas sampai bawah, seakan-akan Bara sedang menggulitikinya hidup-hidup.


"Semuanya." setelah hening yang melanda, akhirnya Bara kembali berucap dengan nada yang arogan.


Nayra yang memang tak mengerti mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksudmu? Aku....sungguh tak mengerti." diakhir kalimatnya suara Nayra terasa tercekat saat baru menyadari jika posisi Bara yang kini tengah mengapit dirinya di pembatasan balkon.


Sekarang Nayra tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya terkurung oleh kedua lengan lelaki itu di sisi kanan dan kirinya. Dirinya tak berani untuk sekedar menatap kedapan. Kepalanya hanya menunduk, menatap perbedaan sepatunya dengan sepatu Bara yang memiliki nilai harga yang sangat jauh.


Bara menarik sudut bibirnya melihat Nayra yang tak bisa bergerak sama sekali. Ia menyeringai dengan penuh kemenangan. "Bukan kah kamu sedang membutuhkan uang banyak, Ayra? Aku akan memberikan nya berapapun padamu." Bara menjauhkan tubuhnya untuk melangkah mendekati meja, ada sebuah map disana. Bara mengambilnya dan menyerahkan nya kepada Nayra.


"Aku hanya membutuhkan sebuah tanda tangan disini." Bara membuka map itu, menunjukan kearah Nayra dimana letak tanda tangan yang harus gadis itu bumbuhi. "Dan akan ku pastikan semua biaya rumah sakit pacarmu akan lunas malam ini juga."


Nayra menatap map dengan balpoint ditangan Bara, ada keraguan di dalam hatinya saat Bara mengetahui permasalahan nya. Dari mana pria itu tau kalau semua uang itu akan ia pakai untuk kebutuhan kekasihnya.


"Aku mengetahui semanya, Ayra. Jangan ragukan kemampuan ku sejak dulu untuk mendapatkan mu." seolah mengetahui jika gadis itu telah bimbang, Bara dengan cepat meraih tangan Nayra dan menyerahkan map yang masih berada di tangan nya dengan terkesan memaksa.


"Ambil...dan tanda tangan. Sekarang!" perintah Bara mutlak.


"Tapi...kenapa harus aku? Kenapa Kak Bara tidak mengejar perempuan yang Kak Bara sukai sewaktu SMA dulu?" serobot Nayra dengan menyerang Bara dengan begitu banyak pertanyaan. Sejak dulu memang Bara sempat bercerita jika tengah menyukai seorang gadis sewaktu SMA, tapi Nayra tak tau siapa gadis itu karena setiap Nayra menanyakan nya Bara akan selalu menghindar.


"Nayra, Nayra." Bara terkekeh, Nayra yang tengah menunduk kini perlahan mendongak menatap Bara dengan kerutan di dahinya saat mendengarkan tawa Bara yang tak biasanya.


"Asal kamu tau gadis yang aku sukai sejak SMA itu kamu! KAMU-AYRA!!" teriak Bara frustrasi.

__ADS_1


Nayra menggeleng tak percaya, air matanya perlahan meluruh saat mendengar pernyataan Bara. Itu tak mungkin, sejak dulu keduanya hanya dekat untuk sekedar berteman, tak pernah terlintas sedikitpun jika Bara selama ini terobsesi kepadanya.


"Kenapa? kamu tidak percaya?!! Asal kamu tau Ayra, sejak dulu aku selalu bersamamu, menemanimu disaat kau sendiri, itu karena aku menyukaimu- ahh tidak! Bahkan sekarang aku mencintaimu." secepat Bara berucap secepat itu pula tubuhnya bergerak maju merengkuh Nayra yang berjengkit kaget karena rengkuhan yang tiba-tiba.


"Jangan menolak ku lagi, Ayra." ucap Bara sendu. Perlahan wajahnya mendekat hendak mencium bibir Nayra, tetapi gadis itu malah memalingkan wajahnya membuat Bara mengeram karena bibirnya malah mendarat di pipi kiri gadis itu.


Cengkraman di pembatasan balkon mengerat saat mendengar pria itu mengeram marah. "Jangan seperti ini, Kak." cicit Nayra pelan.


"AKU BILANG JANGAN MENOLAK KU LAGI, AYRA!" Bara membentak. Penolakan untuk kesekian kalinya membuat Bara marah, gadis itu memang selalu mudah untuk mempermainkan dirinya seperti ini.


Tangan Nayra yang mencengkram pembatas balkon beralih menghadang dada bidang Bara agar tidak semakin menempel pada tubuhnya. Kepalanya menggeleng samar saat lagi-lagi Bara mendekatkan wajahnya.


"Aku percaya." ucap Nayra lirih. Air mata yang tadi mengalir diusapnya dengan kasar. "Akan ku tanda tangani, tapi izinkan aku membaca perjanjian ini lebih dulu."


Mendengar pernyataan itu, Bara menyempatkan dirinya untuk mengecup sudut bibir Nayra sekilas. Gadis itu terlihat membelalakan matanya membuat Bara terkekeh gemas.


"Maksdumu?" Nayra tak mengerti, butuh waktu untuk Nayra bisa memahami ucapan yang berbelit seperti itu.


"Bukan kah lelaki itu akan di operasi, Ayra?" tanya Bara. Lelaki yang dimaksud Bara tentu saja membuat Nayra langsung mengingat kondisi Evano. Benar, Evano sangat membutuhkan nya sekarang.


Nayra menatap map di tangan nya dengan pandangan ragu. Ada 3 kertas yang harus Nayra pahami dan itu akan membuat Evano semakin menunggu.


Namun, saat suara ponselnya kembali terdengar nyaring dalam suasana sunyi seperti ini membuat Nayra cepat-cepat membumbuhi tanda tangan nya tanpa berpikir panjang. Selesai menandatangani, Nayra mendorong Bara untuk tidak menghalangi jalan nya. Lalu tubuhnya meleset kearah sofa dimana ponselnya berada di dalam tas.


Melihat nama 'Ibu Mertua' yang tertera di layar ponselnya membuat Nayra langsung menggeser tombol hijau.


"Ada apa, Bu?"

__ADS_1


"Nay, Bagaimana ini? Operasinya masih belum bisa dilakukan karena biaya administrasi belum di selesaikan." suara di sebrang sana terdengar putus asa. Nayra kembali menatap Bara yang masih berada di balkon dengan posisi membelakanginya.


"Aku janji, Bu. Evano pasti akan segera di operasi." setelah mengucapkan itu Nayra langsung mematikan ponselnya dan berjalan mendekati Bara.


"Aku membutuhkan uangnya sekarang, tepati janji Kak Bara." serobot Nayra menagih janji cowok itu yang akan memberinya uang berapun. Terdengar matre memang, tapi tidak ada yang bisa Nayra lakukan sekarang untuk mencari uang sebanyak itu.


Bara yang tengah menikmati keindahan kota Jakarta perlahan mulai berbalik menatap Nayra.


"Oke." Bara merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Tatapan nya lurus menatap gadis di depan nya yang kini sudah menjadi miliknya. Walau belum sepenuhnya, tetapi suatu saat Nayra pasti akan menjadi miliknya.


"Lakukan tugasmu." hanya berucap seperti itu saja Bara langsung mematikan panggilan nya. Tak perlu menjelaskan panjang lebar, karena seseorang di seberang sana tengah mengetahui rencananya.


"Mana?! Aku membutuhkan uang secepatnya." Nayra mulai gusar kala melihat lelaki di hadapan nya sama sekali tak ada tanda-tanda akan memberikan nya uang.


^^^Bersambung.....^^^


...Jangan lupa. vote and coment sebagai dukungan kalian untuk cerita ini....


...Follow juga ig...


...story_relationship...


...Sampai bertemu di part selanjutnya...


See you


ranintanti

__ADS_1


__ADS_2