
Raja Aryo kemudian masuk ke dalam rumah untuk memastikan keadaan istrinya, para dayang segera memberi hormat kepadanya.
"Bagaimana keadaan ratu?", raja Aryo bertanya tepat di pintu kamar yang dipakai untuk istrinya beristirahat.
"Ampun paduka, ratu masih pingsan hingga saat ini", dayang itu menjawab dengan pandangan ke bawah.
Raja Aryo menghela nafas pelan kemudian ia masuk ke dalam kamar, ia dapatenyaksikan istrinya yang masih belum sadarkan diri terbaring dengan wajah pucat di lantai kayu yang beralaskan tikar seadanya.
Ia kemudian duduk bersila di dekat istrinya sambil mengusap rambut istrinya dengan pelan, seperti bunga yang tumbuh ketika musim semi, ucapan lembut tangan raja Aryo akhirnya membuat ratu Sinta perlahan terbangun dari pingsannya.
"Kanda", ucapnya lirih ketika pandangannya menemukan sosok di depannya yang tak lain adalah suaminya.
"Ssshhhuttttt..... Jangan terlalu memaksakan dinda, lebih baik dinda beristirahat sekarang", raja Aryo meminta agar istrinya tidak bergerak karena kondisinya yang masih lemas. Ia lantas meminta salah satu dayang membawakan air untuk istrinya minum.
Dayang itu segera mengambilnya air sesuai perintah dari rajanya, "Terima kasih", ucap raja Aryo kepada dayang tersebut.
Setelah dayang itu keluar dari kamar raja Aryo langsung meminta istrinya untuk minum terlebih dahulu, walaupun sedikit kesusahan air yang dibawa oleh dayang tadi habis diminum oleh istrinya.
"Istirahat lah, kanda akan menemanimu disini", raja Aryo tersenyum hangat ke arah istrinya.
Melihat senyuman hangat dari suaminya membuat ratu Sinta menjadi lebih tenang, tidak ada yang lebih ia gembirakan selain melihat senyuman suaminya dan berdua bersama-sama.
***
Pertarungan sengit masih berlanjut di istana Adipura, suara kegaduhan di dalam istana dapat didengar oleh warga yang berada tidak jauh dari kawasan istana.
__ADS_1
Tidak hanya itu kobaran api mulai menunjukkan wujudnya membakar bangunan-bangunan dalam istana, asap hitam mengepul ke langit membuat malam itu seolah seperti upacara penguburan terbesar yang pernah terlihat di kerajaan Adipura.
Berita penyerangan di istana segera menyebar dan membuat warga menjadi panik, mereka buru-buru mengemasi barang-barang dan berniat mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Dari ratusan menjadi ribuan orang mulai berdesakan di jalan untuk menyelamatkan diri, masing-masing dari mereka membawa keluarga serta barang-barang yang bisa diselamatkan.
Patih Yarna dan beberapa patih lain masih bertarung menghadapai pria misterius dan setan merah, sedangkan para prajurit kerajaan Adipura bertarung pasukan penyerang.
Menteri Balda sebenernya ingin membantu namun ketika dia ingin bergerak dari jauh tampak dua orang yang dikenali nya mendekat. Pisau darah dan pangeran Jaka mulai terlihat dan benar-benar mengarah padanya.
“Mengapa murid Jaka bisa seperti ini?", menteri balda baru saja ingin beranjak tapi harus berhenti karena di datangi oleh pisau darah yang merangkul pangeran Jaka disisinya.
“Maaf menteri, ini kesalahan murid seperti ini?", suara dari pangeran Jaka terdengar begitu lemas dan lemah.
Menteri Balda meminta pisau darah membaringkan tubuh pangeran Jaka dan kemudian ia duduk bersila di sampingnya. Menteri Balda duduk selama beberapa detik lalu menjulurkan tangannya ke arah luka pangeran Jaka.
Dari telapak tangannya keluar cahaya kekuningan yang dibuat dengan tenaga dalam miliknya. Dalam hitungan menit darah yang mengalir dari luka pangeran Jaka perlahan berhenti.
“Sudah selesai, luka murid Jaka sementara tidak akan mengeluarkan darah lagi tapi kita perlu obat dari tabib untuk menyembuhkan total walau mata kirinya tidak mungkin lagi diselamatkan”, menteri Balda berucap dengan pelan.
Pangeran Jaka mengepalkan erat tangannya karena amat marah dengan kondisi yang menimpanya. Dia bersumpah akan melakukan balas dendam kepada orang yang membuatnya seperti ini.
Pisau darah yang melihat itu tersenyum sinis karena merasa pangeran Jaka amat bodoh jika bertindak sesuai amarah. Dalam dunia persilatan amarah adalah musuh terbesar dalam diri sendiri yang akan membuat seseorang akan jatuh dalam keputusasaan dan berakhir dengan kekalahan.
“Kanda, dinda akan pergi ke tempat senior Yuda. Tolong jaga murid Jaka disini, masalah disana serahkan saja pada kami. Kanda tidak perlu khawatir”, pisau darah menjelaskan rencana berikutnya.
__ADS_1
“Sejujurnya aku keberatan, karena aku orang yang ditunjuk sebagai pemimpin penyerangan ini. Tapi tidak salahnya aku menyerahkan kepada kalian. Pergilah dan hati-hati disana dinda”, menteri Balda melepaskan istrinya untuk membantu pria misterius yang menteri Balda ketahui merupakan kakak seperguruan istrinya tersebut. Ia berharap keduanya dapat menjalankan beberapa tugas penting yang sebenarnya itu adalah tugas untuk dirinya sendiri.
Pisau darah menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan langsung berlari ke arah pelaminan kembali. Menteri Balda tersenyum melihat semangat juang istrinya tersebut, ketika raja Parya dari kerajaan Kendala memerintahkan untuk menyerang kerajaan Adipura istrinya meminta untuk ikut serta dalam penyerangan itu.
Karena dia merasa istrinya cukup kuat dan merupakan salah satu jagoan wanita di kerajaan Kendala, ia lantas mengizinkannya untuk ikut bersamanya dalam tugas tersebut.
Namun takdir berkata lain, dia tidak mengetahui bahwa pertemuan dia dan istrinya pada saat itu adalah pertemuan terakhir kali dia bisa melihat istrinya. Rasa bangga terhadap istrinya menjadi amarah setelah mengetahui bahwa istrinya tewas dengan mata melotot serta sebuah lubang bekas tancapan keris dikepalanya.
***
“Kemampuan Patih kerajaan Adipura hanya segini? Seharusnya aku menyerang lebih dulu daripada kerajaan Kendala”, setan merah berbicara pelan setelah berhasil membunuh seorang Patih dengan tebasan ganda menyilang di tubuhnya korbannya.
Keadaan Patih Yarna sudah sangat buruk karena kekuatan lawannya tidak bisa mereka hadapi, ditambah banyaknya luka yang menghiasi bagian tubuhnya. Biarpun dia mengeluarkan semua kemampuan dan dibantu Patih yang lain, nyatanya kemampuan gabungan mereka tidak cukup untuk menghentikan serangan pria misterius dan setan merah.
Setan merah melangkah ke arah Patih Yarna yang sudah jatuh dalam posisi berlutut dan pedangnya pun sudah terlepas. Setan merah berniat menghabisi nyawa lawannya tersebut, dia mengangkat pedangnya berniat melakukan tebasan untuk memenggal namun suara lain muncul dan menghentikannya.
“Berhenti! Dia adalahan tahanan kami. Jangan coba-coba...”, belum selesai menteri Balda berbicara setan merah tetap menebas kepala lawannya hingga terputus.
Raut wajah menteri Balda menunjukkan ekspresi yang tidak senang, dia sebagai pemimpin dari penyerangan ini membutuhkan setidaknya satu tahanan penting untuk mengorek informasi tentang kerajaan Adipura. Nyatanya omongan dia tak digubris oleh setan merah yang baru pertama kali ini ia lihat.
“Jangan memerintah ku, umur kita terpaut jauh dan aku tidak senang dengan kata-kata tahanan. Kami aliran hitam lebih senang jika bisa menghabisi aliran putih sebanyak mungkin”, setan merah menerangkan alasannya.
“Lancang!”, menteri Balda menarik pedangnya dan diarahkan ke wajah setan merah, walaupun ia tahu bahwa setan merah berada di aliansinya namun tindakan dari setan merah telah membuat ia berang.
Menteri Balda yang merupakan pendekar aliran putih merasa tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan setan merah. Tiba-tiba aura pembunuh mulai keluar dari tubuh menteri Balda dan setan merah bereaksi serupa. Keduanya sudah bersiap untuk bertarung dengan pedang yang digenggam erat masing-masing.
__ADS_1