
Patih Purno terus melancarkan serangan demi serangan yang terfokus pada bagian atas tubuh lawannya. Tidak beberapa lama Patih Purno mulai berucap.
“Pematah besi!!!”, Patih Purno mengeluarkan jurus andalannya untuk menyerang lawannya, dia mengayunkan tombaknya seperti ingin memukul lawannya dari atas.
Jurus ini ia latih selama belasan tahun dan berguna untuk mematahkan pedang dengan gagang tombaknya yang kuat. Sudah banyak pedang lawannya yang menjadi korban dari jurus andalannya tersebut.
Pria misterius tidak mengetahui akan kegunaan jurus lawannya itu lantas dia menahan serangan itu dengan pedangnya. Dan alangkah terkejutnya pria misterius setelah pedangnya bertemu dengan gagang tombak lawannya seketika itu juga pedangnya patah menjadi dua.
Pedang itu patah begitu saja tanpa ada keretakan yang terdapat di pedang tersebut, ia terperanjat tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Ini wajar karena kekuatan serangan dari Patih Purno menggunakan separuh kekuatan yang ia miliki.
Karena Jurus andalannya inilah membuatnya menjadi terkenal dengan sebutan Patih tombak besi, sebuah julukan yang sesuai dengan jurus andalan miliknya.
Pria misterius kini terduduk jatuh ke tanah dengan darah mengucur deras dari kepalanya. Karena pedangnya yang tak mampu menahan serangan lawannya berimbas dengan kepalanya yang menjadi sasaran empuk dari serangan lawannya barusan.
Luka yang ia dapatkan sangat telak, nafasnya memburu dan pandangannya mulai kabur serta seluruh badannya tidak bisa ia gerakkan, Patih Purno mendekatinya sembari berseru lantang.
“Pendekar banteng hitam, hari ini adalah hari kematian kau!”, setelah berkata begitu Patih Purno melakukan sebuah gerakan menebas dengan tombaknya.
Akhirnya riwayat hidup pria misterius atau banteng hitam harus berakhir hari ini dengan kepalanya yang terpisah dan kini menggelinding di tanah.
Pasukan Patih Purno yang menyaksikan duel diantara keduanya bersorak gembira ketika lawan pimpinan mereka akhirnya harus kehilangan nyawanya di tangan Patih Purno. Sorak-sorai mereka menggema membuat pasukan yang dipimpin pria misterius menjadi ciut nyalinya karena pimpinan mereka telah kalah dalam pertarungannya.
“Hidup Patih Purno!!!”
"Hidup!!!"
__ADS_1
“Kalahkan yang lain!”
“Cepat buat formasi mengepung!”, tidak ingin larut dalam pujian Patih Purno segera memberi perintah kepada pasukannya.
Dengan gerak cepat pasukan kuda besi akhirnya berhasil mengepung sisa-sisa pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Dan tanpa menunggu komando lagi dengan serempak mereka merengsek maju mengapit pasukan lawan dari segala arah.
Bak seperti mangsa yang di kepung predator, pasukan berkuda lawan mereka mentalnya jatuh drastis. Kepungan itu begitu rapat, dan siapa saja yang mencoba mendekat akan menemui kematian yang cepat. Beberapa dari mereka bahkan sudah menyerah dengan situasi itu, mereka meletakkan pedang ke tanah dan mengangkat tangan setinggi mungkin agar lawannya melihat mereka yang sudah menyerah.
Sementara beberapa petinggi pasukan lawan murka dengan sikap prajurit sesama mereka yang telah menyerah tanpa diminta.
"Aku menyerah!!!"
"Aku tidak akan melawan, tolong ampuni nyawaku!!!
Satu per satu pasukan kuda pimpinan pria misterius mengangkat tangan setinggi-tingginya dengan raut wajah yang memelas berharap dengan menyerah nyawa mereka akan terselamatkan.
Dia terus meneriaki para prajuritnya yang sedikit demi sedikit terus berlutut ke tanah dengan tangan diangkat ke atas. Dia menjadi berang dengan perbuatan prajuritnya, “Mati saja kalian pengecut!!!”
Patih itu lantas bergerak maju ke arah prajuritnya yang telah menyerah, menyerang mereka bahkan tidak segan membunuhnya padahal notabennya prajurit itu adalah bawahannya sendiri.
***
Patih tersebut baru saja menghabisi salah satu pasukan kuda besi dan kini ia berhenti menyerang lawan dan lebih memilih membunuh prajuritnya yang tidak patuh pada pimpinan mereka. Dia memacu kudanya menuju ke arah prajurit yang menyatakan menyerah.
Dengan cepat pedangnya menebas setiap prajuritnya yang ia temui, menurutnya daripada menanggung malu lebih baik mereka mati. Aksinya tersebut membuat heran pasukan kuda besi dan tentu saja Patih Purno yang melihat tidak jauh dari tempat itu.
__ADS_1
Pertanyaan besar muncul dibenaknya, apa yang telah dilalui oleh Patih tersebut sehingga tega membunuh rekannya sendiri tanpa mengenal belas kasih. Pemandangan semakin mengerikan sebab para prajurit yang menjadi korban dari serangan Patih itu mendapat luka tebasan tepat di wajah mereka sehingga wajah setiap prajurit yang menjadi korbannya menjadi hancur.
Karena sikap wakil pimpinan mereka yang bertindak sangat tidak manusiawi menggerakkan hati para prajurit yang menyerah untuk melawan. Mereka kemudian bangkit dan memegang senjata masing-masing bersiap jika incaran dari Patih tersebut adalah salah satu dari mereka.
Melihat reaksi prajuritnya lantas membuat Patih tersebut menjadi lebih murka, ia kemudian memacu kudanya ke arah salah satu prajurit yang tidak jauh darinya.
"Mati kau pengecut!", pedangnya ia arah pada prajurit yang menjadi incarannya.
Sementara prajurit itu bersungguh-sungguh dalam menghadapi serangan itu, ia tahu bahwa tindakannya sungguh nekat dan terkesan mengantarkan nyawa. Namun tidak disangka ia memiliki pemikiran yang bagus sebelum beradu dengan lawannya.
Kenyataannya tentu saja berpihak pada Patih itu, kekuatan dari Patih tersebut sungguh jauh di atasnya. Serangan Patih tersebut mendarat telak di punggungnya, sementara serangannya mengenai salah satu kaki dari kuda dari Patih tersebut.
Prajurit itu tersenyum puas, ia memang mengincar kaki kuda tersebut sehingga membuat Patih itu jatuh dari kudanya. Walaupun harus mengorbankan nyawanya dengan sisa-sisa tenaganya ia meminta rekan-rekannya untuk segera menghentikan aksi Patih itu.
Dengan segera setiap prajurit yang tersisa mendekat ke tempat Patih itu dan melancarkan serangan berniat membalaskan kematian rekannya. Patih itu bangkit setelah terjatuh dari kudanya, baru saja ia berdiri kini ia dihadapkan oleh puluhan prajuritnya yang bergerak menuju ke arahnya dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
"Sialan!!!", batin Patih itu.
Jika ia dapat memilih ia ingin berlari pergi menjauh daripada menghadapi puluhan prajurit yang ingin menyerangnya secara bersamaan. Namun itu semua sulit dilakukan, jarak prajurit yang ingin menyerangnya kini sudah hampir dekat.
Para prajurit itu melancarkan serangan silih berganti ke arah Patih itu, namun tetap saja rekan mereka juga harus kembali menjadi korban dari Patih tersebut. Tidak ingin terlalu lama para prajurit menaikkan tempo serangan mereka sehingga membuat lawannya kini tersudut.
Patih tersebut sempat bertahan sejenak sambil menghabisi beberapa penyerangnya, namun perlahan ia disudutkan oleh para penyerangnya. Jumlah mereka terlalu banyak dan kini luka-luka gorengan pedang menghiasi tubuhnya membuat darah segar mengalir dari luka-luka itu.
Nafasnya sudah ngos-ngosan dan staminanya seakan sudah terkuras semuanya, tidak butuh waktu lama sebuah sabetan pedang mendarat di perutnya membuat ia jatuh terduduk sambil memegangi luka dari tebasan tersebut.
__ADS_1