Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
48. Perang Dimulai VI


__ADS_3

“Bedebah!!! Pengecut!!! Apa kau selemah itu menyerang di saat lawan kau belum siap!?”, pria misterius menatap tajam ke arah Patih Purno sambil memegangi telinganya.


Rasa sakit mulai menyerang di telinganya yang terluka, umpatan demi umpatan kasar dia tujukan kepada Patih Purno sekarang.


“Aku bukan seorang pendekar seperti kalian, tugas sebagai prajurit menuntut kami harus menang dengan cara apapun bahkan memanfaatkan kelemahan lawan”, balas Patih Purno sambil memainkan tombaknya.


“Jika ada kesempatan mengapa harus disia-siakan”, lanjutnya dengan senyum mengejek ke arah lawannya.


“Bajingan licik!!!”, pekik pria misterius kepada Patih Purno, "Akan ku buat kau mati sekarang!!!"


Bukannya menjadi waspada atau takut, Patih Purno lantas tertawa lepas mendengar kata-kata makian yang keluar dari mulut lawannya kepada dirinya. Sekarang lawannya sudah tersulut emosi, ia sengaja melakukan hal itu agar konsentrasi dari lawannya terpecah dan membuatnya yakin tidak butuh waktu lama lagi untuk mengakhiri duel diantara mereka.


“Bukan licik tapi cerdas, kau harus belajar dalam memilih kata-kata yang tepat untuk orang seperti ku”, Patih Purno terus berusaha membuat lawannya marah dengan kata-kata yang dia lontarkan.


Usahanya tidak sia-sia, tidak butuh waktu lama dia dapat merasakan nafsu membunuh yang sangat besar terarah kepadanya, “Amarah akan membuat kau buta untuk melihat ke depan”, Patih Purno kembali berucap.


Perkataannya tidak dihiraukan oleh lawannya, lawannya kini dengan amarah yang membara-bara lantas melompat dari kudanya dan menyerang Patih Purno dengan brutal.


Patih Purno yang awalnya tenang kini dibuat terkejut, serangan lawannya membuatnya harus menahan nafas saat tombaknya mencoba menahan pedang dari lawannya.


Serangan brutal dan penuh nafsu membunuh tertuju kepada Patih Purno. Lawannya begitu ingin membunuhnya, Patih Purno menjadi kewalahan menghadapi serangan itu. Sementara lawannya tanpa henti terus mengeluarkan setiap jurus mematikannya.


Jeda waktu serangan demi serangan dari lawannya sangat sedikit, membuatnya kesulitan mengatur posisinya. Ia disudutkan dalam posisi bertahan dari serangan lawannya.

__ADS_1


Sebuah tebasan menyamping diarahkan Patih Purno ke lawannya namun dengan sigap lawannya menangkis serangan itu. Saat serangan itu berhasil ditangkis lawannya baru menyadari makna dari tebasan menyamping itu.


Patih Purno sengaja mengambil tindakan itu agar dia mendapat kesempatan untuk mundur sesaat. Kini keduanya berdiri di jarak yang cukup jauh, perhatian keduanya tidak pernah teralihkan oleh keadaan sekitar.


Pandangan mereka saling bertemu dengan raut wajah sangat serius karena sedang menghadapi duel sampai salah satu dari mereka harus mati.


“Sebagai pendekar kau pasti punya nama, sebelum melanjutkan duel kita alangkah baik jika saling mengenal nama masing-masing”, Patih Purno mengajak bicara lawan duelnya.


“Ciuhhhh”, pria misterius meludah ke tanah, “Setakut itu kau dengan kekuatan ku sampai harus mencari suasana seperti ini?!! Dasar bajingan licik!”, pria misterius masih tersulut emosi.


“Aku tidak takut dengan kekuatan dari seorang pendekar gila seperti kau!”, balas Patih Purno dengan berteriak.


“Bangsat!!! Sudah cukup!!! Aku pendekar dengan julukan banteng hitam tidak akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi!!!”, pria misterius kembali tersulut emosinya yang terus membara.


“Pendekar banteng hitam, akan ku ingat nama itu!”, Patih Purno ikut berlari ke depan menyambut serangan lawannya.


Kini mereka berdua melanjutkan duel dengan saling bertukar serangan dan jurus-jurus yang mereka miliki masing-masing. Keadaan disekitar yang semakin kacau tidak memecah perhatian mereka sedikitpun. Mereka memilih fokus untuk pertarungan ini dan ingin mengakhirinya secepat mungkin.


Serangan brutal dari lawannya masih sama seperti tadi, namun kini Patih Purno dapat mengimbanginya. Salah satu hal yang membuat Patih Purno disegani adalah cepatnya dia belajar tentang cara mengatasi serangan lawannya.


Dengan pemikiran yang cerdas serta pengalaman yang sudah banyak dalam waktu singkat dia mampu membaca gerakan demi gerakan dari lawannya, sungguh sebuah bakat yang sangat bagus untuk situasi seperti ini.


Pria misterius terkejut karena sebelumnya dia dapat mendesak lawannya ini, namun sekarang serangan demi serangan yang ia lancarkan dengan mudah dapat ditahan oleh lawannya. Dia mencoba menaikkan tempo serangannya lagi namun hal itu sama saja dengan yang terjadi barusan, kini tidak ada satu serangannya yang mampu membuat lawannya terdesak.

__ADS_1


Patih Purno mengamati serangan lawannya terus menerus sambil menangkis serangan tersebut. Dia sengaja bertahan agar staminanya tidak terkuras dengan cepat, sementara lawannya terus menyerang tanpa jeda sedikitpun.


Saat ini pandangannya tertuju kepada luka yang telah dia torehkan kepada lawannya, luka itu kini tidak mengeluarkan darah. Dia yakin lawannya menggunakan tenaga dalam untuk menghentikan pendaran dari lukanya.


“Kesempatan akan datang sebentar lagi”, batinnya berbicara. Kini dia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan mematikan miliknya.


***


“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya paman?”, Aryo bertanya kepada Subani setelah melihat pasukan berkuda di pihaknya sekarang sedang bertarung dengan pasukan lawan.


“Aku tidak yakin kita akan membantu di sana tuan muda, tidak ada perintah yang diberikan oleh Patih Purno. Mari kita percayakan semuanya kepada dia, pasti dia sedang merencanakan hal yang baik untuk kita nanti”, Subani membalas pertanyaan Aryo. Menurutnya jika ikut dalam pertarungan itu maka mereka tidak akan banyak membantu.


Ini wajar karena banyak diketahui bahwa pasukan berkuda adalah pasukan berani mati dan dalam beberapa hal pasukan ini seperti pasukan setan. Apa yang mereka lihat di depan tidak akan luput dari serangannya, dengan kuda yang dilatih untuk berlari dengan cepat serta kemampuan bertarung yang baik dari penunggangnya membuat mereka sangat mudah dalam membunuh pasukan musuh.


“Baik paman aku mengerti”, jawab Aryo singkat.


Mereka berdua kini berdiri cukup jauh menyaksikan pertempuran yang sedang terjadi. Suara teriakan prajurit dan rintihan kuda menggema saat itu, debu beterbangan dimana-mana dan darah menghiasi tanah yang menjadi medan perang hari ini.


Duel diantara Patih Purno dan pria misterius masih berlanjut. Keduanya masih terus saling bertukar serangan, namun kini Patih Purno sedikit mendominasi serangan diantara keduanya. Ini disebabkan oleh stamina pria misterius yang terus-menerus terkuras akibat serangannya yang tanpa jeda tadi.


Melihat lawannya sudah ngos-ngosan membuat Patih Purno menaikkan tempo serangannya, tombaknya menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Lawannya sedikit kesusahan mengimbangi serangan tombaknya, dan semakin lama serangan tombak itu akhirnya membuat lawannya terdesak.


Dengan gerakan seperti air yang mengalir tiap-tiap serangan Patih Purno mengalir lurus ke depan dan saling berkesinambungan dengan tangannya. Pola serangannya menjadi lebih rumit serta memiliki tenaga yang cukup besar untuk menekan lawannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2