Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
69. Senyuman Pahit


__ADS_3

"Akhirnya....", Subani bernafas lega, ia sempat menyaksikan pertarungan rekannya melawan pendekar pedang kembar.


Ia juga sempat khawatir mengingat rekannya sudah berada di ujung tanduk ketika ia datang membantu. Namun kekhawatirannya itu tidak berlangsung lama setelah ia menyaksikan sendiri rekannya telah berhasil mengalahkan lawan duelnya tersebut.


Subani sekarang sedang menghadapi tiga orang dari pasukan serigala hitam dengan kekuatan setara pendekar harimau putih. Namun ia mengetahui bahwa ketiga lawannya baru saja memasuki tingkat tersebut sehingga membuatnya mampu mengimbangi ketiganya.


Namun ia segera menyadari bahwa rekannya sudah kehabisan tenaga, itu jelas terlihat sebab sekarang rekannya terjatuh ke tanah setengah berbaring. Subani ingin bergerak menolong namun ketiga lawannya tidak tinggal diam, mereka menghadang langkah Subani dan tidak ingin melepaskannya.


Merasa lawannya mulai bersungguh-sungguh ia tidak punya pilihan untuk ikut menunjukkan kekuatan penuhnya. Subani lantas menyerang dengan gencar menggunakan golok di tangannya ditemani ilmu silat tangan kosongnya.


Kombinasi dari keduanya membuat Subani sekarang berada di atas angin dan berhasil mendominasi pertarungan melawan musuhnya.


"Jurus golok ular sendok!"


Sebelum menyerang Subani melakukan sebuah gerakan layaknya tarian bersama golok di tangannya. Ia memainkan goloknya dengan begitu indah dan setelah gerakannya selesai layaknya seperti ular ia maju dengan berlari zig-zag dan kemudian melancarkan serangannya.


Permainan golok dari Subani begitu rumit dibaca oleh lawannya, belum lagi tubuhnya seperti seekor ular yang terus-menerus dengan sangat cepat. Ketiga musuhnya mencoba untuk tenang dalam situasi ini, mereka mencoba mengatur jarak agar ketiganya dapat memahami setiap gerakan dari lawannya.


Namun Subani tidak tinggal diam, ia terus bergerak menyerang tanpa jeda sehingga lawannya tidak punya kesempatan untuk menjaga jarak darinya. Goloknya berpindah tangan dari tangan kanan ke kiri secara bergantian dan terus-menerus sehingga efektivitas serangannya menjadi lebih besar.


Sementara kakinya terus menyerang ke arah tangan lawannya yang sedang memegang pedang. Seolah tak takut Subani terus melancarkan tendangan baik dari samping, belakang maupun depan.


Lawannya terheran-heran dengan serangan Subani yang seakan tidak takut kakinya akan menjadi korban pedang mereka, namun itu semua tidak lah seperti yang mereka pikirkan.

__ADS_1


Subani tahu persis apa yang sedang ia lakukan, ia tidak menyerang secara sembarangan. Ia menyerang ketika mendapat momentum yang bagus untuk melancarkan tiap-tiap tendangan ke arah lawannya.


Dari sinilah lawannya menyadari bahwa lawan mereka sekarang adalah ahli silat tangan kosong terbaik yang pernah mereka temui.


Di kerajaan Kendala silat tangan kosong tidak banyak diminati oleh para pendekar atau prajurit kerajaan sebab silat tangan kosong diperuntukkan hanya untuk menjaga diri atau melumpuhkan musuh saja. Sedangkan kerajaan Kendala yang terkenal hidup dengan keras layaknya seperti hutan tidak menghiraukan ilmu silat ini.


Hukum rimba berlaku disana dimana yang kuat akan berkuasa dan yang lemah akan selalu ditindas. Oleh sebab itulah watak dari rakyat kerajaan Kendala tergolong sangat keras karena kehidupan mereka yang seperti neraka itu.


Mereka lebih mengedepankan ilmu berpedang, menombak ataupun memanah, alasan itulah di kerajaan Kendala sangat jarang ditemui orang yang memiliki ilmu silat tangan kosong setinggi Subani.


***


Tsinggggg.... Tsingggg......


Suara pedang rampasan Aryo dan pedang milik menteri Balda saling beradu dan membuat bunyi dentingan terus-menerus. Keduanya sudah bertarung cukup lama dimana lokasi mereka sudah bercakan darah dari luka di tubuhnya masing-masing.


Sementara Aryo mendapat luka cukup parah dari itu, sudah tak terhitung luka goresan yang kini terukir di tubuhnya dan terus mengeluarkan darah segar. Pedang yang ia gunakan sudah terdapat retakan-retakan akibat pedang mereka yang terus beradu.


"Haahhh... Aku sudah hampir mencapai batas", batin Aryo.


Nafas Aryo naik turun dengan cepat karena kelelahan yang teramat sangat ia sedang rasakan sekarang. Bukan hanya itu luka di sekujur tubuhnya mengharuskan ia mengalirkan tenaga dalamnya untuk menghentikan darah yang terus keluar.


Menteri Balda mengetahui jelas situasi yang dialami lawannya sekarang, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah hadir di depan matanya. Ia kemudian bergerak cepat maju ke depan dan memberikan serangan tebasan menyilang ke arah Aryo.

__ADS_1


Aryo menanggapinya dengan gerakan menangkis menggunakan pedang rampasannya, saat pedangnya dan pedang menteri Balda bertemu alangkah terkejutnya ia ketika pedang yang ia gunakan patah berkeping-keping.


Menteri Balda sengaja mengalirkan tenaga dalam di dalam serangannya sehingga membuat pedang yang digunakan oleh Aryo sekarang pecah berkeping-keping bagaikan kaca yang jatuh ke lantai.


Ledakan energi memercik keluar saat kedua pedang tersebut bertemu, karena pedangnya yang tak mampu menahan energi pedang dari lawannya membuat Aryo terlempar ke belakang karena ledakan energi tersebut.


Buuuggggkkhhhh....


Tubuh Aryo terlempar cukup jauh dan kemudian mendarat dengan sangat keras di tanah. Tubuhnya seakan mati rasa sejenak sebelum rasa sakit mulai menyerangnya.


"Uuuggghhuukk....", Aryo tersadar saat tubuhnya terasa amat sakit dan kemudian ia batuk darah.


Dadanya terasa panas, ia mengelus dadanya yang terasa sakit terus-menerus. Aryo mencoba untuk bangun dan berdiri kembali namun tubuhnya seakan tak ingin mengikuti perintahnya. Saat masih merasakan sakit di tubuhnya, samar-samar ia dapat melihat menteri Balda kini bergerak ke tempatnya secara perlahan.


"Ada kata terakhir sebelum kematian menghampiri mu?!", menteri Balda kini sudah berjarak tiga langkah saja dari posisi Aryo yang terkapar di tanah.


Aryo hendak mencoba bangun, ia tidak ingin mati seperti ini. Banyak hal yang belum ia selesaikan, hatinya terasa sesak karena tak ingin menerima kenyataan pahit bahwa ia telah kalah dalam pertarungannya.


Wajah cantik istrinya kemudian muncul di saat-saat genting ketika ia sedang menghadapi kata kematian. Ia memandangi langit yang gelap, ia merasakan bahwa di depannya sekarang istrinya sedang menatapnya dengan senyuman termanis yang ia miliki.


Perasaan sedih menyeruak dan seolah menusuk jantungnya secara bertubi-tubi, ia memiliki janji untuk pulang dan menemani istrinya dalam hidup damai untuk membesarkan anaknya kelak.


Namun sekarang ia dihadapkan bahwa jika ia mati semua janji yang telah ia buat semuanya akan sirna dan istrinya kelak akan menderita dengan kehilangan dirinya.

__ADS_1


Senyuman pahit kini terukir di wajah Aryo, "Apakah semuanya cuma sampai disini?", Aryo hanya bisa berucap di dalam hatinya. Tubuhnya sekarang sudah tak ada tenaga lagi, rasa sakit yang menyerangnya seakan hilang setelah ingatan tentang istrinya melintas di pikirannya.


"Maafkan kanda....", air mata Aryo menetes membasahi pipinya.


__ADS_2