
“Apa maksudmu?” tanya raja Aryo yang bingung atas ucapan saudaranya tersebut.
"Aku datang untuk mengambil hak yang seharusnya itu adalah milikku!", tegas pangeran Jaka sambil menunjuk tempat duduk raja Aryo.
"Apa yang ingin engkau ambil!?", raja Aryo mulai sedikit waspada karena sikap saudaranya.
“Malam ini akan menjadi malam terakhir pemerintahan yang damai ini! Lebih baik aku yang memegang kekuasaan, kau tinggal pilih menyerahkannya secara sukarela atau ku dapatkan dengan paksa!”, telunjuk pangeran Jaka kini beralih ke arah wajah raja Aryo.
Tanpa berkata-kata lagi pangeran Jaka mengeluarkan aura pembunuh yang cukup kuat membuat orang di dekatnya bergidik ngeri. Orang-orang yang terkena dampak dari aura tersebut menjadi ketakutan dan seketika badannya menggigil.
Namun tidak dengan raja Aryo dan para Patihnya yang memiliki ilmu beladiri yang mumpuni, dengan mudah mereka bisa menahan aura pembunuh yang dikeluarkan pangeran jaka. Selain belajar ilmu beladiri mereka juga belajar untuk memiliki aura yang mampu menekan aura pembunuh yaitu aura jiwa. Aura jiwa sendiri merupakan musuh alami dari aura pembunuh, semakin kuat orang yang menggunakannya maka semakin kuat pula aura tersebut berkembang.
“Jaka! kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku kira kedatangan engkau kesini karena merindukan rumah kita. Apa yang sebenarnya terjadi?” raja Aryo kembali bertanya kepada saudaranya.
Dia sudah tahu makna dari aura pembunuh itu, itu mengingatkan ia tentang masa lalu yang pahit bersama saudaranya tersebut. Kini posisinya sekarang sedang membelakangi istrinya yang sudah mulai ketakutan karena aura pembunuh pangeran Jaka.
“Kau bodoh atau apa!? Jelas-jelas aku datang kesini untuk mengambil tahta kerajaan dari tangan mu!”, pangeran Jaka tersulut emosinya dan sesaat kemudian ia mengeluarkan pedang yang ia sembunyikan dibalik jubahnya.
“Lancang! Berani sekali kau terhadap paduka raja!” pekik seorang Patih kepada pangeran Jaka. Patih itu berdiri dan langsung berlari menghadang arah pedang dari pangeran Jaka.
“Aku juga tidak akan tinggal diam atas perbuatan mu ini!” sambung seorang Patih lain dengan pedang terhunus ke arah pangeran Jaka.
__ADS_1
Situasi demikian tidak membuat pangeran Jaka takut sedikitpun. Pangeran Jaka tetap tenang dengan senyuman sinisnya seolah-olah memang ingin mencari keributan saat ini.
“Kalian boleh mencobanya kalau berani, aku akan meladeni kalian dengan sepenuh hati” jawab pangeran Jaka dengan penuh kesombongan.
Para Patih yang ada di tempat itu sontak marah karena sikap pangeran Jaka sudah diluar batas. Patih yang menghunuskan pedang mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya namun suara seseorang menghentikan aksinya tersebut.
“Berhenti! Cukup sampai disitu!” ucap pria yang sudah sangat renta dari kejauhan yang tidak lain adalah mantan raja Adipura yakni raja Aryi Wajendra. Sebelumnya beliau sedang tidur di kamarnya karena merasa kelelahan duduk saat menemani mempelai, sampai kabar kedatangan anak dari istri keduanya membuatnya terbangun dan bergegas untuk menemuinya.
“Anak ku akhirnya kau kembali” raja Aryi kembali berucap serta mendekat untuk memeluk anaknya itu. Dia merasa bahagia karena anaknya datang, ia memeluk anaknya sambil meneteskan air mata terharu karena bisa bertemu dengan anaknya yang telah lama pergi.
Sakit yang dideritanya memang lah menyakitkan tapi baginya kehilangan buah hati membuat separuh kehidupannya seakan kosong tak berisi. Walaupun raja Aryo selalu menemaninya selalu, tapi raja Aryi ingin agar kedua anaknya menemani di masa-masa tuanya hingga ajal menjemputnya.
“Ayahanda...” pangeran Jaka menyarungkan pedangnya dan setelahnya membalas pelukan raja Aryi dengan erat, "Aku kembali, maaf aku telah lama pergi", pangeran Jaka terus memeluk erat tubuh renta ayahnya.
"Takdir telah menuntun ku untuk kembali ayah, namun pertemuan kita hari ini adalah yang terakhir kalinya", balas pangeran Jaka kemudian.
Setelah kata-kata dari pangeran jaka selesai tiba-tiba saja pelukan mereka mulai merenggang dan raja Aryi terjatuh seolah kehilangan daya untuk berdiri. Tidak ada yang menduga hal demikian sehingga tidak ada yang bereaksi cepat setelah tubuh renta raja Aryi jatuh dengan luka tusukan di punggungnya.
“Ayahhh.... Apa yang kau lakukan Jaka!?”, raja Aryo menjadi panik setelah melihat ayahanda nya jatuh ke lantai dan tidak bergerak lagi.
Semua orang terkejut melihat itu, banyak pertanyaan terlintas mengapa raja Aryi jatuh ke lantai dan tidak bergerak sedikitpun. Semua mata kini tertuju pada pangeran Jaka yang memandangi tubuh ayahnya, di tangan kirinya terdapat belati kecil yang kini berlumuran darah.
__ADS_1
“Maaf ayahanda, aku menyayangimu seperti aku menyayangi ibu, tapi kenapa engkau memilih dia sebagai penerus mu? Padahal aku yang lebih tua dari dia, cuma karena ilmu beladiri ku kurang dan pengetahuan ku juga, engkau lebih memilih dia tanpa mempertimbangkan diriku ini. Tenang lah disana, serahkan kekuasaan mu ini kepadaku dan aku berjanji akan menguasai negeri Nusantara sebagai raja Adipura yang tersohor sampai seluruh Nusantara”, kata-kata yang keluar dari mulut pangeran Jaka sudah menjadi penjelasan yang terjadi sekarang ini.
Keterkejutan tersebut tidak berlangsung lama, Patih yang tadi menunda serangan akhirnya kembali melakukan serangan terhadap pangeran Jaka. Pangeran Jaka meladeninya dengan tangan kosong karena ilmu beladirinya sedikit lebih tinggi dari Patih tersebut.
Setelah bertukar belasan jurus serta serangan pangeran Jaka berhasil mendaratkan sebuah pukulan ke perut yang langsung mengenai titik dimana ulu hati Patih tersebut membuatnya termundur lima langkah dan mengeluarkan darah segar dari tepi mulutnya.
“Pendekar harimau!” pekik Patih tersebut setelah mencoba meraih keseimbangannya sambil meringis kesakitan. Dia memegang perutnya yang terasa seperti terbakar dari dalam, pukulan seorang pendekar harimau cukup kuat membunuh seorang pendekar serigala.
“Pendekar serigala seperti kau tidak akan mampu menandingi kekuatan fisik pendekar harimau. Jika aku jadi kau, aku lebih baik lari untuk menyelamatkan nyawa” jawab pangeran Jaka dengan penuh kesombongan dalam kata-katanya.
Kesombongan pangeran Jaka membuat Patih yang lain merasa jengkel terhadapnya, mereka kini sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya dan memanggil prajurit yang berjaga di sekitar singgasana raja.
Kening raja Aryo mengerut setelah menyaksikan kekuatan saudaranya, sebelumnya ia tidak sekuat ini namun setelah menghilang selama dua tahun kekuatannya meningkat cukup pesat.
"Ini lah mengapa aku tidak suka dengan aturan yang dibuat ayah, lebih mementingkan kehidupan rakyat sampai lupa harus menjaga diri sendiri adalah tindakan bodoh! Dan kalian adalah contohnya!", pangeran Jaka menunjuk ke arah patih yang menyerangnya tadi, "Seharusnya kerajaan ini bisa memiliki kekuasaan yang besar jika saja pasukannya bisa berkembang dan bertambah kuat lebih cepat dibandingkan dengan rakyatnya sendiri!"
Perkataan dari pangeran Jaka membuat para Patih yang mengacungkan pedang ke arahnya menjadi terdiam, perkataannya memang benar adanya. Mendiang raja Aryi lebih fokus dalam urusan negara sampai lupa urusan kekuatan pasukan kerajaan juga lah sama pentingnya.
Tapi sebagai raja yang dikenal adil serta bijaksana, mereka yakin akan apa yang telah dilakukan mendiang raja Aryi. Beliau melakukan itu tidak lain hanyalah untuk memberi kehidupan yang layak untuk anak serta cucu-cucu mereka nanti.
"Berani sekali kau menghina raja yang kami hormati!!!"
__ADS_1
"Aku akan merobek perutmu dan akan ku keluarkan isi di dalamnya!!!"
Para Patih yang mengacungkan pedang tetap berpendirian teguh dengan ajaran yang telah mendiang raja Aryi berikan pada mereka sehingga membuat mereka emosi ketika pangeran jaka menghina raja yang mereka hormati tersebut.